Energi Juang News, Bantul– Di sebuah desa kecil di wilayah Bantul, Yogyakarta, tersebar cerita tentang sosok gaib yang konon menjadi bagian dari praktik pesugihan. Tidak disebutkan secara langsung di awal, namun warga sudah paham betul arah pembicaraan. Mereka sering mengalami kehilangan uang secara misterius, tubuh yang lemas tanpa sebab, hingga suara-suara cekikikan di tengah malam yang membuat bulu kuduk meremang. Salah seorang warga, Pak Karjo, mengaku setiap malam Jumat mendengar suara kecil yang tertawa di dekat jendela rumahnya, padahal rumah sudah dikunci rapat dan tidak ada anak-anak di sekitar.
Tuyul, begitu nama yang sering disebut-sebut warga. Sosok ini diyakini berasal dari janin yang gagal dilahirkan atau arwah anak kecil yang dipanggil melalui ritual tertentu. Namun bukan hanya bentuknya yang mengerikan—berkulit pucat kehijauan, matanya besar dan kosong, serta tubuh kecil yang lincah seperti kera kecil—tapi aura yang ditinggalkannya sangat menyesakkan. Mereka dikenal karena tawa kecilnya yang tidak wajar, yang sering terdengar dari balik lemari atau loteng rumah. Dalam banyak kasus, suara tersebut hanya terdengar oleh korban tertentu saja.
“Saya pernah lihat jejak kaki kecil di lantai dapur saya, padahal anak-anak sudah besar semua,” ujar Bu Sarti, seorang ibu rumah tangga yang rumahnya berada di dekat kebun bambu. Ia menceritakan pengalamannya dengan mata yang masih berkaca-kaca. Suatu malam, ia merasa sangat kelelahan padahal tidak melakukan apa-apa seharian. Ketika bangun, dompetnya kosong. Tidak ada tanda-tanda pencurian, tapi jelas ada sesuatu yang mengambilnya—sesuatu yang tidak kasat mata. Bu Sarti percaya ada seseorang di kampungnya yang memelihara tuyul.
Konon, untuk memelihara tuyul, seseorang harus membuat perjanjian berdarah. Perjanjian itu tidak hanya menuntut komitmen, tapi juga pengorbanan. Syarat yang harus dipatuhi sangat berat—tidak boleh menikah, tidak boleh berhubungan badan, dan setiap malam Jumat, harus memberi makan tuyul dengan darah sendiri. Mereka yang melanggar, katanya, akan dihantui oleh tuyul yang berubah menjadi makhluk liar. “Tuyul yang kecewa bisa lebih jahat dari jin mana pun,” kata Pak Kromo, dukun tua yang kini hidup menyepi.
Tuyul yang mengamuk tak hanya mencuri uang. Ia bisa masuk ke dalam mimpi seseorang, menatap korban dari balik pintu, lalu menghisap energi mereka. Banyak warga yang tiba-tiba jatuh sakit tanpa diagnosa medis yang jelas. Bahkan ada yang menjadi linglung, seperti kehilangan akal sehat. “Anak saya sempat kerasukan, dia bilang ada anak kecil di kamarnya yang menatap tanpa berkedip,” kata Bu Minah, seorang tetangga yang anaknya sempat mengalami gangguan jiwa ringan selama beberapa minggu.
Ada satu kisah menyeramkan yang terjadi sekitar lima tahun lalu, ketika seorang pemuda bernama Wicaksono ditemukan pingsan di sawah dengan luka sayatan di lengannya. Saat sadar, dia mengaku pernah tergoda masuk dalam dunia pesugihan. Ia mengakui telah mengikuti ritual pemanggilan tuyul dan sempat menjadi tuannya selama dua bulan. Namun setelah melanggar pantangan, tuyul tersebut menyerangnya. “Saya tidur, lalu merasa tubuh saya ringan… seperti dihisap,” ungkap Wicaksono. Sejak itu, ia kehilangan pekerjaan, sering sakit, dan rumahnya menjadi sepi pengunjung.
Rumah kosong di pinggir desa yang dulunya dihuni Wicaksono kini menjadi tempat yang dihindari. Banyak warga percaya tuyul tersebut belum sepenuhnya pergi. Anak-anak dilarang bermain di sekitar situ, terutama saat senja tiba. Dari balik kaca yang sudah pecah, warga beberapa kali melihat bayangan kecil berlari-lari dan suara tawa yang menggema dari dalam. “Kalau kamu dengar tawa anak kecil malam-malam, jangan jawab apa pun. Biarkan saja,” kata Mbah Minto, seorang tetua kampung.
Ketakutan akan tuyul bukan hanya mitos kosong. Ia hidup dalam ingatan dan keseharian warga, menjadi cerita turun-temurun yang menakutkan sekaligus nyata. Meski zaman telah maju dan teknologi semakin canggih, praktik pesugihan masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Sebagian demi kekayaan, sebagian karena putus asa. Tuyul, makhluk kecil yang tampak lemah itu, sejatinya adalah simbol dari keserakahan manusia yang telah menjual nurani demi harta.
Cerita tentang tuyul tidak akan pernah hilang selama manusia masih mencari jalan pintas menuju kekayaan. Di balik tawa cekikikan yang terdengar seperti candaan anak-anak, tersembunyi teror dan penderitaan yang dalam. Warga Bantul, dan mungkin daerah-daerah lain di Jawa, akan terus menyimpan kisah ini sebagai pengingat—bahwa setiap kekayaan yang tidak berasal dari keringat sendiri, bisa jadi dibayar dengan darah, nyawa, atau bahkan kewarasan.
Redaksi Energi Juang News



