Energi Juang News, Jakarta– Mira, seorang mahasiswi asal Bandung, memutuskan untuk menghabiskan liburan semester di rumah almarhum Mbah Sarmi neneknya yang berada di sebuah desa sunyi di Klaten Jawa Tengah. Rumah itu sudah lama kosong sejak neneknya wafat satu tahun lalu. Tak ada seorang pun yang menempatinya, kecuali debu dan kenangan masa kecil. Dari luar, rumah itu tampak kokoh meski tua. Namun saat Mira melangkahkan kaki ke dalam, hawa dingin langsung menyergap. Di ruang tengah, berdiri sebuah cermin tua besar berbingkai kayu jati. Mira tak mengingat pernah melihatnya semasa neneknya masih hidup. Cermin itu tampak usang, berdebu, namun entah kenapa memantulkan bayangan dengan sangat tajam—seperti hidup.
Malam pertama di rumah itu berjalan biasa, Mira memilih tidur dikamar bekas neneknya,meskipun ia merasa tidak nyaman dengan suara berderak dari loteng dan tiupan angin dari celah jendela. Ia menutupi cermin tua itu dengan kain putih seadanya karena merasa terganggu saat melewatinya.Seperti ada energi yang kuat keluar dari cermin tua itu. Namun, saat bangun tengah malam untuk minum, ia mendapati kain itu telah jatuh ke lantai. Dalam pantulan cermin, Mira melihat sosok samar berdiri di belakangnya, namun saat ia menoleh, tak ada siapa-siapa. Ia mencoba mengabaikannya sebagai efek lelah dan sugesti karena sendirian di rumah tua.
Hari-hari berikutnya, kejadian aneh makin sering terjadi. Setiap pagi, kain penutup cermin selalu ditemukan jatuh. Terkadang, permukaan cermin tampak berembun seperti habis dihembus dari dalam. Pada malam ketiga, Mira mendengar suara wanita tua nembang dari arah cermin. Tembang itu samar dan asing, namun menimbulkan rasa tidak nyaman yang membuat bulu kuduknya berdiri. Suara itu berhenti saat ia menyalakan lampu, namun kembali terdengar ketika lampu dipadamkan.
Puncaknya terjadi ketika ia melihat pantulan dirinya tersenyum di cermin, padahal wajahnya sendiri sedang tegang. Pantulan di dalam cermin aneh dengan menampilkan ruang yang berbeda seperti ruangan dengan kursi rotan dan perapian kuno yang tidak ada di rumah tersebut. Sesuai persis mimpi buruk tentang neneknya yang duduk di depan cermin sambil berbisik, “Jangan lihat aku dari sana, dia sudah bukan aku.” Ia kaget dan terbangun dari mimpi, Mira menemukan dirinya berdiri di depan cermin dengan mata setengah terbuka, seolah berjalan dalam tidur.
Mira memutuskan untuk mencari tahu asal-usul cermin tersebut. Ia bertanya pada warga sekitar dan akhirnya bertemu dengan Pak Raji, seorang tetua desa. Menurutnya, cermin itu berasal dari rumah Belanda tua yang terbakar pada tahun 1949. Cermin tersebut diyakini digunakan dalam ritual pemanggilan roh dan telah menyebabkan kegilaan pada beberapa orang yang memilikinya. Pak Raji memperingatkan Mira agar tidak menatap terlalu lama ke dalamnya, karena “apa yang kau lihat bisa menjadi nyata… atau kau bisa tertarik masuk ke dalamnya.”
Setelah peringatan itu, Mira mencoba memindahkan cermin ke gudang. Namun saat ia menyentuhnya, permukaan cermin bergetar seperti air dan memantulkan wajah lain—wanita tua dengan mata kosong yang menatap langsung padanya. Ia mundur ketakutan, menjatuhkan bingkai foto nenek yang entah kenapa ada di dekat cermin. Ketika foto itu pecah, Mira melihat refleksi wajah neneknya di pecahan kaca, tapi… wajah itu membusuk dan tersenyum mengerikan.
Mira mulai kehilangan kendali atas dirinya. Ia sering terbangun di luar rumah tanpa ingatan bagaimana ia sampai ke sana. Bahkan tetangga yang tinggal agak jauh pernah melihat Mira berdiri diam di halaman rumah pada pukul tiga dini hari, menatap ke langit sambil berbisik. Saat ditanya keesokan harinya, Mira tidak mengingat apa pun. Ia mulai mencatat semua kejadian dalam buku harian, yang entah bagaimana, pada suatu pagi, telah ditulis oleh tangan lain dengan tulisan kasar: “Kamu sudah jadi bagian dari kami.”
Dalam keputusasaan, Mira mencoba menghancurkan cermin itu. Ia melemparkan batu besar ke arahnya, tapi batu itu seolah menghilang saat menyentuh permukaan. Cermin tidak retak, bahkan tidak bergetar. Malam itu, Mira melihat dirinya di cermin mengenakan pakaian yang tidak dikenalnya—gaun putih bergaya kolonial. Dan di belakang pantulan itu, berdiri beberapa sosok dengan wajah samar, seperti menunggunya untuk “masuk.”
Akhirnya Mira kabur dari rumah itu. Ia mengunci semua pintu dan tidak pernah kembali. Rumah itu kini kosong dan ditumbuhi semak liar. Namun menurut warga, kadang terlihat bayangan perempuan berdiri di jendela, dan suara tangisan lirih terdengar dari dalam. Cermin itu masih di sana, tak bisa dipindahkan, tak bisa dihancurkan. Beberapa warga percaya bahwa roh-roh yang terperangkap di dalamnya masih mencari tubuh baru untuk dihuni.
Cerita horor nyata cermin tua ini menjadi peringatan bahwa tidak semua benda warisan masa lalu hanya menyimpan nilai sejarah. Beberapa menyimpan kutukan yang belum selesai. Mira hingga kini tak pernah pulih sepenuhnya. Ia dikabarkan menjalani terapi psikologis dan masih sering menggambar cermin di setiap lembar kertas kosong. Jika Anda melihat cermin tua tak dikenal di rumah lama, berhati-hatilah. Jangan terlalu lama menatap ke dalamnya. Apa yang Anda lihat… mungkin juga sedang melihat balik ke arah Anda.
Redaksi Energi Juang News



