Energi Juang News, Jakarta– Menginap di sebuah hotel tua di kota Semarang seharusnya menjadi bagian dari perjalanan santai kami. Namun, siapa sangka pengalaman tersebut berubah menjadi malam yang menegangkan dan tak terlupakan. Kami tiba di hotel menjelang subuh, setelah menempuh perjalanan panjang dari Jakarta. Hotel itu tampak biasa saja dari luar, meskipun sedikit sepi. Kami menyewa dua kamar: satu untuk saya, Brew, dan Bak, sementara satu lagi untuk teman perempuan kami, Eca, yang memilih tidur sendiri. Malam itu, tidak ada firasat buruk, hanya kelelahan.
Namun suasana berubah drastis ketika menjelang sahur, Eca tiba-tiba menggedor kamar kami dengan wajah pucat dan mata berkaca-kaca. “Bang, tukeran kamar, please… Gue takut,” katanya terbata. Dengan napas tersengal, ia menceritakan bahwa saat tidur ia mengalami rep-repan. Lebih menyeramkan lagi, ia merasa ada seorang perempuan di sebelahnya, menangis perlahan, dan suara tangis itu terdengar jelas di telinga kirinya. Saat ia mencoba membuka mata, dari pelipis matanya, ia melihat sosok perempuan dengan rambut panjang terurai duduk membelakanginya.
Kami semua sempat meremehkan cerita itu, menganggapnya efek kelelahan. Namun rasa penasaran mendorong saya untuk mencari tahu lebih lanjut. Saya mulai menelusuri informasi tentang hotel ini melalui Google dan YouTube. Betapa kagetnya saya ketika menemukan berita pembunuhan tiga tahun lalu di hotel ini. Seorang perempuan bernama Melianti, berusia 26 tahun, ditemukan tewas di kamar hotel yang letaknya persis di ujung lorong—kamar yang kini dinamai 105. Korban dibunuh oleh kekasihnya sendiri usai bertengkar hebat, setelah sebelumnya berhubungan intim.
Saya langsung membandingkan posisi kamar kami dan berita tersebut. Meski nomor kamar berbeda, denah dan posisi persis sama seperti di video berita. Kamar 102, tempat kejadian perkara itu, tampaknya telah diubah menjadi 105, mungkin untuk menghapus jejak tragedi. Anehnya, nomor kamar 102 memang tidak ada di daftar kamar lantai bawah. Hanya 101, 103, 104, dan kamar kami—105. Seolah-olah kamar itu sengaja disamarkan.
Saat kami kembali mengecek kamar 105, suasananya terasa lebih dingin, bukan karena AC. Lampu kamar berkedip tak menentu, lampu di sisi meja mati, sementara lampu satunya menyala redup. Saya melihat ke arah tempat tidur, lalu menunjuk ke sisi kanan bawah. “Di situ kaki korban ditemukan,” ujar saya sambil menunjuk lantai. Bak langsung duduk terpaku. “Gila, tadi gue tidur di situ persis,” katanya dengan suara pelan. Brew, yang baru terbangun, langsung pucat ketika kami ceritakan posisi jasad korban di tempat yang baru saja ia tempati untuk tidur.
Warga sekitar hotel yang kami temui pagi harinya mengakui hal aneh sering terjadi di kamar ujung itu. “Sudah banyak tamu yang pindah kamar. Mereka bilang dengar suara tangis, ada yang bilang bau amis darah muncul tiba-tiba,” ujar Pak Hadi, seorang tukang parkir yang sudah bekerja di sana lebih dari lima tahun. Ia bahkan berkata kamar 102 memang sempat ditutup selama hampir setahun, sebelum akhirnya diganti nomor dan sedikit direnovasi. “Tapi tetap saja, arwah korban kayaknya belum tenang,” bisiknya lirih.
Bentuk sosok perempuan yang muncul dalam tidur Eca sesuai dengan laporan saksi dari berita tahun 2021. Rambut panjang, pakaian lusuh, dan sering terlihat menangis sendirian di pojokan kamar. Bahkan dalam satu rekaman CCTV yang sempat viral, terlihat siluet perempuan muncul tiba-tiba dari balik tirai kamar, lalu menghilang. Semua ini membuat kami semakin yakin bahwa yang Eca alami bukan sekadar mimpi buruk. Sosok itu nyata dan masih tinggal di kamar itu.
Saya sendiri mengalami hal aneh malam itu. Saat mencoba tidur lagi setelah pindah kamar dengan Eca, saya merasakan dada sesak dan kesulitan bernapas. Tubuh tidak bisa digerakkan, namun telinga saya jelas mendengar suara isakan pelan dari pojok ruangan. Ketika saya memaksakan membuka mata, tak ada siapa-siapa. Tapi hawa dingin dan tekanan di dada seolah memberitahu bahwa saya tidak sendirian di kamar itu. Brew yang tidur di sisi lain bahkan mengaku sempat bermimpi diseret ke bawah tempat tidur oleh tangan berlumuran darah.
Pagi harinya, kami memutuskan check-out lebih awal. Tidak satu pun dari kami berani tinggal lebih lama di hotel itu. Bahkan saat keluar, saya sempat melihat seorang resepsionis baru—wanita muda—memperhatikan kami dari balik meja. Anehnya, saat saya menoleh lagi untuk memastikan, dia sudah tidak ada. Pak Hadi yang melihat kebingungan saya hanya menggeleng pelan. “Kadang dia nongol juga di situ,” ujarnya tenang.
Kejadian itu membuat kami sadar, tidak semua tempat penginapan yang tampak biasa menyimpan cerita yang biasa juga. Beberapa kamar menyimpan luka, dan sebagian luka itu tidak benar-benar sembuh, bahkan setelah tiga tahun. Dan untuk Melianti, arwahnya seolah masih menunggu seseorang yang bisa menenangkan, atau mungkin menyampaikan pesan terakhir yang belum sempat ia katakan sebelum ajal merenggutnya di kamar hotel yang kini tak lagi memiliki nomor 102.
Redaksi Energi Juang News



