Jumat, April 17, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaMisteri Hantu Jeruk Purut di Balik Malam Jumat

Misteri Hantu Jeruk Purut di Balik Malam Jumat

Energi Juang News,Jakarta- Pemakaman selalu menjadi tempat yang menyimpan banyak cerita yang tidak terungkap. Di antara deretan nisan yang sunyi dan pepohonan tua yang menjulang, sering kali tersimpan kisah-kisah yang sulit dijelaskan oleh logika. Di sebuah TPU yang terletak di Jakarta Selatan, warga sekitar sudah lama mengenal satu sosok yang konon masih bergentayangan hingga hari ini.

Warga menyebutnya dengan satu nama yang cukup terkenal—Hantu Jeruk Purut.

Cerita ini bermula dari kesaksian seorang penjaga makam pada tahun 1986. Sejak saat itu, berbagai kejadian aneh mulai sering terjadi, terutama saat malam Jumat tiba.

“Dulu saya sendiri yang lihat,” ujar Pak Slamet, penjaga makam yang kini sudah tua, kepada beberapa pemuda yang datang berkunjung.

“Apa benar dia bawa kepalanya sendiri, Pak?” tanya salah satu pemuda dengan wajah tegang.

Pak Slamet mengangguk pelan. “Saya lihat jelas… dia pakai baju seperti pastur… dan kepalanya dia pegang di tangan.”

“Sendirian?” tanya yang lain.

Pak Slamet menatap ke arah kegelapan pemakaman. “Tidak. Ada anjing hitam besar yang selalu ikut di belakangnya.”

Kisah itu membuat TPU tersebut semakin dikenal sebagai tempat angker. Banyak orang datang hanya untuk membuktikan kebenarannya, termasuk sekelompok pemuda dari luar kota.

Malam itu adalah malam Jumat. Tiga pemuda—Rian, Dito, dan Bagas—memutuskan untuk melewati jalan di dekat pemakaman tersebut sepulang dari sebuah acara.

“Lu yakin mau lewat sini?” tanya Dito sambil melihat ke arah gerbang pemakaman yang gelap.

Rian tertawa kecil. “Ah, cuma cerita doang. Masa iya ada hantu beneran.”

Bagas yang menyetir hanya diam, tapi tangannya terlihat sedikit gemetar.

Saat mobil mereka melaju pelan melewati jalan sepi di samping TPU, suasana tiba-tiba berubah.

Baca juga :  Misteri Mbah Cikrak: Sosok Menakutkan Penyesat Anak di Jalur Ponorogo–Pacitan

Lampu jalan yang redup berkedip.

Angin terasa lebih dingin.

Dan mendadak…

Mesin mobil mati.

“Eh, kenapa ini?” panik Bagas sambil mencoba menyalakan kembali mobilnya.

“Jangan bercanda, Gas!” kata Dito dengan suara tegang.

“Aku nggak bercanda!” jawab Bagas.

Tiba-tiba, Rian yang duduk di kursi depan terdiam.

“Lu lihat itu…?” bisiknya pelan.

Di tengah jalan, sekitar beberapa meter di depan mobil, muncul sosok tinggi mengenakan jubah panjang seperti pastur.

Namun… kepalanya tidak berada di tempatnya.

Sosok itu memegang kepalanya sendiri di tangan kiri.

Dan di belakangnya, seekor anjing hitam besar berdiri diam, matanya menyala dalam gelap.

“Ya Tuhan…” Dito gemetar.

Sosok itu perlahan berjalan mendekat.

Langkahnya tidak mengeluarkan suara.

Namun setiap langkahnya terasa seperti menekan dada mereka.

“Jangan keluar… jangan keluar…” bisik Bagas.

Tiba-tiba, sosok itu berhenti tepat di depan mobil.

Kepala yang dipegangnya perlahan menghadap ke arah mereka.

Dan seketika—

Semua menjadi gelap.

Mereka baru tersadar saat pagi hari.

Mobil mereka masih berada di tempat yang sama, namun mesin sudah kembali normal.

“Semalam… itu nyata?” tanya Dito dengan suara lemah.

Rian tidak menjawab. Wajahnya pucat, matanya kosong.

Bagas hanya berkata pelan, “Kita tidak seharusnya meremehkan.”

Setelah kejadian itu, hal-hal aneh mulai menimpa mereka.

Rian sering bermimpi didatangi sosok tanpa kepala.

Dito mengaku mendengar suara langkah anjing di malam hari.

Sementara Bagas mengalami kejadian paling aneh—ia sering melihat bayangan seseorang berdiri di belakangnya saat bercermin.

Mereka akhirnya kembali ke TPU tersebut untuk mencari jawaban.

Di sana, mereka bertemu dengan Pak Slamet.

“Kalian sudah melihatnya, ya…” kata Pak Slamet tanpa perlu dijelaskan.

“Iya, Pak…” jawab Bagas. “Kenapa dia muncul?”

Baca juga :  Misteri Rumah Sakit ST. Carolus Salemba yang Tak Pernah Sepi

Pak Slamet menarik napas panjang.

“Konon… dia sedang mencari makamnya sendiri. Katanya, tubuhnya tidak dikuburkan di sini.”

“Lalu kenapa di sini dia muncul?” tanya Rian.

“Karena jiwanya tidak tenang,” jawab Pak Slamet. “Ada yang bilang dulu dia dibunuh… kepalanya dipenggal karena mempertahankan keyakinannya.”

Dito menelan ludah. “Jadi… dia tidak bisa pergi?”

Pak Slamet menggeleng pelan. “Selama dia belum menemukan tempatnya… dia akan terus berjalan.”

Seorang warga lain yang ikut mendengar percakapan itu menambahkan, “Kalau mau lihat dia, datang saja malam Jumat. Tapi harus ganjil jumlah orangnya.”

“Kenapa harus ganjil?” tanya Bagas.

“Supaya ‘cukup’ untuk dia menampakkan diri,” jawab warga itu dengan nada misterius.

Sejak saat itu, TPU Jeruk Purut semakin dikenal sebagai salah satu tempat paling angker.

Namun bagi warga sekitar, cerita ini bukan sekadar legenda.

“Ini bukan buat ditantang,” kata Pak Slamet suatu malam. “Ini buat dihormati.”

Misteri hantu jeruk purut terus hidup hingga sekarang. Tidak ada yang benar-benar tahu asal-usul pastinya, apakah ia benar seorang pastur yang kehilangan kepalanya, atau hanya energi dari masa lalu yang belum selesai.

Namun satu hal yang pasti—cerita ini telah menjadi bagian dari budaya urban yang terus diwariskan.

Bukan hanya sebagai kisah menakutkan, tetapi juga sebagai pengingat bahwa ada batas antara dunia manusia dan dunia lain yang sebaiknya tidak dilanggar.

Dan jika suatu malam Anda melewati jalan sunyi di dekat pemakaman itu…lalu mesin kendaraan Anda tiba-tiba mati…mungkin itu bukan sekadar kebetulan.

Karena di balik gelapnya malam Jumat…ada sesuatu yang masih berjalan…membawa kepalanya sendiri…dan belum menemukan jalan pulang.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadi
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments