Energi Juang News,Surabaya- Kalau reuni itu ibarat sambal, harusnya cuma bikin hidup makin “nendang”. Tapi bagi trio Parjo, Peni, dan Mintul, reuni malah berubah jadi sambal setan: pedasnya sampai bikin rumah tangga gosong tak tersisa.
Awalnya semua tampak normal. Undangan reuni datang, hati berbunga. Parjo sumringah, Peni ikut girang. Ya iyalah, siapa sih yang nggak kangen masa SMA? Masa di mana cinta masih sebatas kirim-kiriman kertas lipat, bukan kirim chat “lagi apa sayang” jam 2 pagi.
Masalah mulai muncul ketika memori lama ternyata belum dihapus permanen. Parjo mendadak aktif membuka “folder kenangan” bernama Mintul—teman lama yang dulu cuma bisa dipandang dari jauh sambil nyengir pahit karena beda kasta ekonomi.
Dan seperti sinetron azab episode panjang, takdir mempertemukan mereka lagi. Mintul datang ke reuni dengan paket lengkap: cantik masih awet, status masih single, dan—ini yang bahaya—tersedia untuk nostalgia.
“Dulu kamu nggak daftar,” kata Mintul sambil tertawa.
Kalimat sederhana, tapi efeknya seperti diskon 90% di akhir bulan: bikin kalap.
Sejak saat itu, reuni berubah fungsi. Dari ajang silaturahmi menjadi proyek riset lapangan bertema “cinta lama memang belum tentu basi”. Parjo yang awalnya cuma ingin temu kangen, malah lanjut temu kangen plus-plus.
Hotel pun jadi saksi bisu. Dari yang awalnya “ngopi-ngopi lucu”, berubah jadi “ngopi sambil check-in”.
Di titik ini, Parjo bukan lagi suami. Dia sudah naik level jadi operator dua channel: rumah dan rahasia.
Sementara itu, Peni mulai merasa ada yang janggal. Nafkah batin seret, perhatian seperti sinyal di gunung—kadang ada, sering hilang. Dan seperti biasa, kebenaran di era modern tidak perlu detektif. Cukup buka HP, semua rahasia keluar sendiri.
Chat mesra bertebaran. Kata-kata yang dulu hanya untuk istri, kini dipakai massal seperti broadcast promo.
Peni pun bergerak. Bukan bikin status galau, tapi langsung konfrontasi ke sumber masalah: Mintul.
Sayangnya, yang dihadapi bukan orang biasa. Mintul tampil percaya diri bak peserta audisi:
“Kalau jodoh, jadi istri kedua juga siap.”
Kalimat itu bukan lagi ancaman, tapi pengumuman.
Di sinilah Peni menunjukkan kelasnya. Tidak teriak, tidak jambak-jambakan, tidak live IG. Dia memilih langkah paling elegan: keluar dari pertandingan.
Besoknya, gugatan cerai didaftarkan.
Selesai.
Tanpa drama panjang, tanpa rebutan panggung. Peni sadar, cinta yang harus dibagi itu bukan cinta—itu promo buy one get one yang tidak semua orang mau.
Sementara Parjo? Mungkin sekarang bahagia. Atau mungkin baru sadar bahwa mengelola dua hati itu tidak semudah mengelola dua akun media sosial.
Dan Mintul? Ya, dia akhirnya dapat yang dulu diincar. Tapi seperti kata pepatah baru: barang yang direbut, belum tentu awet dipeluk.
Redaksi Energi Juang News



