Energi Juang News,Lamongan- Publik di Blitar kembali dibuat geger dengan ulah seorang oknum pejabat yang diduga terlibat hubungan terlarang dengan seorang janda korban banjir. Kasus camat celamitan dimutasi ini langsung jadi bahan gunjingan warga setelah video dan tangkapan layar percakapan pribadinya beredar luas di media sosial.
Namanya memang disamarkan jadi Bendot, usia 55 tahun. Tapi tingkahnya bikin malu birokrasi negeri ini. Bukannya fokus ngurusi warga terdampak banjir, sang camat justru diduga sibuk menjalankan “misi tambahan” saat turun ke lapangan.
Ceritanya bermula ketika Bendot rutin mengunjungi kawasan banjir di wilayahnya. Di tengah aktivitas sosial itu, dia kenal dekat dengan Minthul,40 seorang janda yang belum lama ditinggal kabur suaminya. Rumah Minthul kebetulan juga terdampak banjir.
Nah, hubungan ini dimulai dari mana hingga banjir membuat Bendot sang Camat mulai belok arah. Kalau pejabat lain datang membawa bantuan, Bendot diduga malah membawa rayuan. Dengan modal jabatan dan relasi kuasa yang dimiliki, dia disebut gampang mendekati Minthul. Warga pun mulai curiga karena intensitas pertemuan keduanya makin sering.
Bahasanya warga sih sederhana. “Sambil menyelam minum air.” Sambil ngurus banjir, sekalian ngurus cari perhatian janda. Minthul memang tipe janda yang rajin ngurus sentolop lawan jenis.
Modusnya juga disebut halus. Awalnya mengajak Minthul menghindari banjir, tapi ujung-ujungnya malah disebut menginap bareng di hotel. Hubungan yang awalnya diduga sebatas perhatian sosial berubah jadi hubungan layaknya pasangan suami istri.
Minthul memang belum lama menjanda ditinggal kabur suaminya.Tapi kalo yang ada dipikiran Bendot, meskipun kebanjiran Minthul pasti masih kehausan karena pasti punya Minthul lama tak disiram laki laki, apalagi sampai kebanjiran..
Ajakan Bendot dari sekedar menghindari banjir,ternyata berlanjut ajakan selingkuh menghindari hukum norma sosial di mata warga. Dari aksi penyelamatan berujung hubungan layaknya suami istri sebagai ungkapan balas budi. Karena Minthul juga sudah lama tak merasakan keperkasaan sentolop laki laki.
Apesnya, gerak-gerik mereka ternyata diam-diam dipantau warga. Ada yang merekam ketika Bendot dan Minthul bolak-balik hotel. Video itu kemudian menyebar cepat di media sosial dan langsung memicu reaksi publik.
Belum selesai sampai di situ, muncul pula tangkapan layar percakapan WhatsApp yang diduga melibatkan sang camat dan Minthul. Isi chat-nya disebut bernada mesra dan tidak pantas. Meski belum ada kepastian soal keaslian percakapan tersebut, warga telanjur ramai membahasnya.
Gunjingan warganet makin liar, nama Bendot pun makin jadi sorotan bak artis karbitan. Dan sudah barang tentu punya fans karbitan pula, siap meledak kapanpun tak ada yang tahu kapan.
Kabar itu akhirnya sampai juga ke telinga bupati Blitar. Tak ingin polemik makin melebar dan mencoreng nama pemerintahan daerah, langkah cepat langsung diambil. Sang camat yang diduga tersandung perselingkuhan itu akhirnya dimutasi dari jabatannya.
Kasus ini jadi pengingat kalau jabatan bukan cuma soal kekuasaan, tapi juga soal menjaga etika dan kepercayaan publik. Sebab sekali pejabat ketahuan celamitan, mutasi bisa datang lebih cepat daripada bantuan banjir.



