Energi Juang News, Surakarta– Biasanya, lelaki mau kawin dengan perempuan jauh lebih tua darinya, karena faktor ekonomi. Dia bisa numpang hidup dari ekonomi istri yang sudah mapan. Risikonya memang, dia bisa diledek sebagai lelaki berondong. Paling sadis, dia bisa dijuluki suami pecinta benda purbakala meski tak kuliah di Fakultas Sastra & Budaya
UGM atau UNS.
Dalijo(31) warga Surakarta, termasuk lelaki yang ditasbihkan sebagai pecinta benda purbakala. Tapi karena keadaan, dia harus
menebalkan telinga atas olok-olok yang tidak enak didengar tersebut. Bayangkan ketika Dalijo ditaksir Sumi yang kala itu sudah berusia 41 tahun, langsung saja mau. Sebab calon istrinya itu sudah punya pekerjaan jelas dan mapan.
Jadilah Dalijo dijuluki teman-temannya sebagai berondong pecinta benda purbakala. Sebab ditilik dari usia Sumi istrinya yang katanya termasuk situs atau artevak yang perlu dilindungi. Bagi Dalijo, semua itu
bodo amat. Yang penting dia tak terancam jadi perjaka tua. Bantu kerja istrinya memang enak, dan dia selalu diminta asupan gizi untuk sentolopnya terjamin sehingga mampu meningkatkan kinerjanya di ranjang malam.
Tapi rupanya Dalijo ini termasuk lelaki yang tak pandai bersyukur di muka bumi. Sudah punya istri yang gemati (sayang) pada dirinya, kok bisa-bisanya masih melirik perempuan lain lagi. Uniknya, gendakan baru ini justru lebih tua dari istri di rumah. Bila istrinya baru kelas ibu-ibu, WIL-nya biasa disebut Yangti (eyang putri) karena usianya sudah kepala 5 alias 51 tahun. Tapi status sosialnya memang lebih ngangkat, karena dia dokter senior di kota, janda pula.
Demikianlah, demi doinya yang baru, Dalijo mau berpayah-payah di hari-hari tertentu naik mobil yang berjarak ratusan kilometer. Capek memang, habis nggeber mobil langsung “nggeber” pula bu dokter yang masih STNK tersebut. Untung saja masih muda, sehingga tak bakal kalah sama Mbah Marijan yang rosa-rosa itu.
Yangti sebetulnya punya rumah sendiri di Wonosari, sedangkan rumah di Solo rencananya buat praktik swasta. Tapi ketika ketemu berondong Dalijo, rumah itu urung dibuat praktik dokter, melainkan buat praktik mesum. Lebih simpel memang. Kalau praktik dokter harus izin IDI, sedangkan “praktik” Yangti bersama Dalijo bebas tanpa izin-izinan, yang penting mau sama mau.
Tapi sepandai-pandai suami mesum, lama-lama istri tahu juga. Awalnya dia curiga, karena belakangan Dalijo jadi “jarum super” alias jarang di rumah suka pergi. Dicek dispedometer mobil, pertambahan kilometernya cepat sekali. Penasaran dengan semua itu diam-diam membututi pergerakan mobil yang dikemudikan Dalijo. Lho, lho…. kok keluar dari Sukoharjo ke Solo kota? Tahu-tahu sampai rumah Praktek bu dokter. Dia lalu cari informasi, siapa pemilik rumah tersebut, ternyata seorang dokter bernama Yangti, janda yang kerja di sebuah rumah sakit Solo.
Sumi mulai menganalisa berdasarkan parameter-parameter yang ada. Ini pasti ada tindak perselingkuhan. Maka lain hari lagi ketika Dalijo pamit mau keluar kota, Sumi sudah siap-siap di tempat. Dan kurang ajar betul memang, hari Jumat siang hari bukannya salat Jumat tapi Dalijo malah cari nikmat .
Rupanya Dalijo memang lelaki pecinta benda purbakala sejati. Istri yang dinikahi 3 tahun lalu, Sumi (41) berusia 10 tahun lebih tua darinya. Giliran coba-coba punya WIL, dokter Yangti (51) eh malah lebih tua dari nya. Karena kepergok Sumi sedang menggeber Bu dokter Yangti, yang sedang praktik mesum, langsung digerebek Sumi dan Pak RT siang hari itu.



