Energi Juang News, Washington, D.C.- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan energi AS akan menerima penggantian biaya dari pemerintah jika mereka mengambil alih dan menghidupkan kembali industri minyak Venezuela. Ia memperkirakan industri tersebut bisa beroperasi penuh lagi dalam waktu kurang dari 18 bulan.
Trump Siap Biayai Perusahaan AS
Dalam wawancara dengan NBC News pada Rabu (7/1), Trump mengatakan jumlah dana yang dibutuhkan sangat besar. “Perusahaan-perusahaan minyak akan mengeluarkannya terlebih dahulu. Setelah itu mereka akan diganti oleh pemerintah AS atau melalui pendapatan,” ujarnya.
Ia tidak menyebutkan angka pasti untuk memperbarui infrastruktur minyak Venezuela yang sudah menua, namun yakin investasi itu akan menguntungkan dua pihak. “Perusahaan minyak akan memperoleh keuntungan besar, dan negara itu juga akan diuntungkan,” tambahnya.
Perusahaan Minyak Masih Waspada
Meski Trump optimistis, banyak perusahaan justru masih berhati-hati. Mereka menimbang risiko penyitaan aset, sanksi AS yang belum dicabut, serta ketidakstabilan politik di Caracas.
Data AAA menunjukkan harga bensin eceran di AS pada Senin (5/1) turun ke level USD 2,81 per galon, terendah sejak Maret 2021. Menurut Trump, memanfaatkan cadangan minyak Venezuela bisa membantu menjaga harga bahan bakar tetap rendah, meski kebijakan ini bisa menekan laba perusahaan besar.
Pertemuan Rahasia dan Strategi Ekspansi
Trump juga menegaskan pemerintah tidak memberi peringatan kepada perusahaan minyak sebelum operasi militer pada Sabtu (3/1) yang menargetkan mantan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro. “Mereka tahu kami sedang mempertimbangkan sesuatu, tapi tidak diberi tahu keputusan akhirnya,” katanya.
Sumber Bloomberg News menyebut Menteri Energi AS, Chris Wright, akan bertemu eksekutif ExxonMobil dan ConocoPhillips pekan ini untuk membahas rencana eksplorasi Venezuela.
Catatan Sejarah dan Sikap Hati-hati
Industri minyak Venezuela dulunya menjadi incaran perusahaan besar seperti ExxonMobil, Chevron, dan ConocoPhillips. Namun, sejak nasionalisasi aset energi pada 1970-an dan kembali pada 2006–2007 di era Hugo Chávez, banyak dari mereka hengkang karena kerugian besar.
Chevron menjadi satu-satunya perusahaan AS yang masih bertahan, berkat pengecualian terbatas dari sanksi Washington. CEO ExxonMobil, Darren Woods, dalam wawancara pada November lalu, menegaskan akan berhati-hati.
“Kami sudah dua kali mengalami pengambilalihan aset di Venezuela. Kami harus menilai kembali kelayakan ekonominya,” tegasnya.
Redaksi Energi Juang News



