Energi Juang News, Cianjur–Tidur Jaka terasa nyenyak malam itu setelah makan malam sederhana bersama Raka dan beberapa kerabat desa. Perut yang kenyang membuat matanya cepat terpejam, namun sebelum benar-benar tertidur, ia masih sempat mendengar suara pamannya berbincang pelan dengan ayahnya di ruang tengah. Dari sela-sela kesadaran, Jaka menangkap potongan kisah masa muda sang ayah yang tak pernah ia dengar sebelumnya. Ada nada getir, ada pula tawa pahit, seolah cerita itu menyimpan luka lama yang sengaja dikubur rapat-rapat selama bertahun-tahun.
Pagi harinya, sesuai rencana, Raka membawa mereka menuju pemakaman di ujung desa yang dikelilingi pohon cemara tinggi. Udara terasa lembap dan dingin, meski matahari sudah naik. Jaka melangkah pelan sambil memeluk guci abu ayahnya. Saat guci itu diletakkan di liang yang telah disiapkan, tangannya gemetar. “Ayah… semoga tenang,” bisiknya lirih. Raka berdiri di sampingnya, menepuk bahu Jaka. “Bang Rama pasti bahagia akhirnya pulang,” ucapnya dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
“Setelah ini Paman akan mengajak kalian keliling dan mengenalkan pada penduduk desa,” kata Raka saat mereka meninggalkan pemakaman. “Mereka semua masih ingat Bang Rama.” Benar saja, sepanjang jalan desa, warga menyambut dengan ramah. Seorang nenek berkerudung hitam sempat menatap Jaka lama sebelum berkata, “Kau sangat mirip ayahmu, Nak. Semoga tak mengulang jejaknya.” Kalimat itu membuat Jaka terdiam, namun nenek itu sudah berlalu tanpa penjelasan.
Hari pertama di Desa Hutan Cemara terasa hangat dan bersahabat. Beberapa warga memberi makanan, membuat Mimi dan Riri tertawa riang. Namun kegembiraan itu perlahan memudar ketika mereka tiba di rumah tua milik Raka. Bangunan besar dengan dinding kayu gelap dan perabot antik itu memancarkan aura masa lalu yang berat. “Rumah ini sudah ada sejak kakek buyut kita,” ujar Raka bangga. Fathir berbisik pelan, “Aneh… rasanya seperti rumah ini sedang memperhatikan kita.”
Malam kedua, suasana berubah drastis. Lampu-lampu kuning redup menggantung di langit-langit, bayangannya menari di dinding. Angin tak terasa, tapi kesunyian seakan berdenyut. Fathir terbangun karena dorongan kuat untuk ke kamar mandi. “Jam berapa ini?” gumamnya. Ia melangkah keluar kamar, menyusuri koridor panjang dengan pintu-pintu kamar yang tertutup rapat, sementara lampu gantung di atasnya berayun pelan tanpa sebab.
Setiap langkah Fathir diiringi derit lantai kayu. Jantungnya berdegup kencang. “Tenang, cuma rumah tua,” katanya pada diri sendiri. Namun bulu kuduknya meremang ketika bau anyir samar tercium. Di ujung lorong, suara seperti gesekan terdengar. “Halo?” panggilnya ragu. Tak ada jawaban, hanya gema langkahnya sendiri yang terdengar semakin berat, seolah ada sesuatu yang mengikutinya dari belakang.
Ketika Fathir menoleh, tubuhnya membeku. Di belakangnya merayap sosok mengerikan, tubuhnya penuh luka bernanah dan darah mengalir dari mata yang terpejam. Rambut panjang kusut menutupi sebagian wajahnya. “A… a… a…” suara parau keluar dari mulut menganga itu. Sosok tanpa kaki tersebut menyeret tubuhnya mendekat, meninggalkan jejak lendir dan bau busuk yang membuat perut Fathir bergejolak hebat.
Fathir ingin berteriak, namun tenggorokannya terkunci. Kakinya seolah dipaku ke lantai. Sosok itu semakin dekat, napasnya terdengar seperti desisan basah. “Tolong…,” bisik Fathir nyaris tak terdengar. Dalam pandangannya yang kabur, ia melihat wajah itu menoleh ke arah kamar Raka, seolah mengenali rumah ini. Seketika pandangannya gelap, tubuhnya ambruk dengan suara debam keras yang memecah keheningan malam.
Teriakan Fathir membangunkan seluruh penghuni rumah. Raka berlari paling depan, diikuti Jaka dan warga sekitar yang dipanggil tergesa-gesa. “Astaga, dia pingsan!” seru seorang pria desa. Seorang ibu berbisik ketakutan, “Aku sudah bilang, arwah itu masih gentayangan.” Raka menatap koridor dengan wajah pucat. “Ini salahku… aku membawa mereka kembali ke rumah ini,” gumamnya penuh penyesalan.
Keesokan paginya, seorang tetua desa akhirnya membuka rahasia yang selama ini disembunyikan. “Ayahmu dulu terlibat peristiwa berdarah di rumah itu,” katanya pada Jaka. “Ada janji yang dilanggar, dan arwah itu belum menemukan ketenangan.” Jaka terdiam, kini mengerti sisi ayahnya yang tak pernah diceritakan. Misteri Desa Hutan Cemara bukan sekadar cerita seram, melainkan warisan dosa yang kini menuntut penebusan, dan rumah tua itu masih menunggu korban berikutnya.



