Energi Juang News, Pasuruan–Jer basuki mawa beya, begitu pepatah Jawa yang maksudnya adalah, untuk meraih kesuksesan perlu modal (biaya). Untuk Pilkades pun juga begitu. Karena di mana-mana konstituen tahu duit, dia baru mau nyoblos seorang calon manakala diberi uang. Money politic sebetulnya dilarang, tapi pemilih kadung mengedepankan NPWP dalam arti: nomer pira wani pira.
Nah, Bu Pur(45) warga Pasuruan, meski suami sudah jadi ASN dan bekerja sebagai TU di SMP Negeri di kotanya, pengin juga mengembangkan dirinya. Dia tak mau menjadi perempuan yang hanya mamah karo mlumah. Dia ingin pula menggunakan ijazah SMA-nya untuk merintis karier, sehingga tidak terlalu bergantung ke suami secara ekonomi.
Kebetulan di kampungnya ada Pilkades, sejumlah tokoh masyarakat menjagokan Bu Pur. Katanya ada big data bahwa 1.100 penduduk desanya mendukung Bu Pur jadi Bu Kades. Sayangnya, bagaimana big data tersebut, sumbnernya tak mau menyebutkan. Percayalah sama aku, pokoknya mayoritas penduduk sini mendukungmu.” Kata seorang tokoh masyarakat setempat.
Tokoh itu punya kharisma di desanya, rasanya tak mungkin bohong. Maka Bu Pur konsultasi pada Pak Purno suami tentang peluang ikut Pilkades. Awalnya Purno tak percaya jika hanya berdasarkan big data misterius. Jika yang ngomong pemilik lembaga survei macam Indo Barometer, Poltracking, Charta Politika, SMRC dan Litbang Kompas, barulah bisa dipercaya. “Itu kan tingkat gubernur dan presiden Pak, kalau hanya Kades mana mau lembaga survei ngurusi.” Kata Bu Pur meyakinkan suami.
Benar juga memang, tapi ikut Pilkades kan perlu duit. Bukan “mahar” untuk partai, tapi sekadar amplop untuk memengaruhi pemilih yang sudah paham artinya NPWP. Jika jual sawah juga tak langsung laku, maka Bu Pur usul pada suami agar pinjam saja ke bank pemerintah. Agunannya ya SK pengangkatan sebagai ASN itulah. Jika hanya sekitar Rp150 juta masih bisalah.
Pak Purno memang sangat mencintai istrinya, sehingga dia memberanikan diri pinjam ke bank. Entah apa alasannya, bisa dapat pinjaman Rp150 juta dengan tenor (masa angsuran) selama 3 tahun. Sebab jika terus terang untuk modal Pilkades, pastilah ditolak. Risikonya, gaji Pak Purno bakal dipotong banyak, sehingga tiap bulan hanya tinggal terima Rp.400.000. Untung hidup di desa masih bisa nyawah. Dan sayur mayur tinggal metik di kebun.
Beruntunglah, pada Pilkades beberapa tahun lalu itu Bu Pur menang, dan mulailah menjabat sebagai Bu Kades di desanya. Sayangnya bini Pak Purno ini bagaikan kacang lupa kulitnya. Sementara gaji suami dipotong bank setiap bulan, Bu Pur malah tega memotong dalam lipatan. Maksudnya, diam-diam dia pacaran dengan pamong desanya yang tergolong lebih muda darinya. Koplak habis!
Namanya orang pacaran zaman sekarang, tak cukuplah jika hanya ngobrol dan makan bareng, musti pakai tidur bareng. Tempatnya bukan di hotel, tapi relasi pamong desanya tersebut. Gilanya, pemilik rumah kok ya merelakan saja rumahnya dijadikan ajang perselingkuhan. Atau jangan-jangan memang ada fee-nya untuk “tinju” hanya 1-2 ronde tersebut.
Sudah main berapa kali, tak ada catatannya. Yang pasti lama-lama Pak Purno tahu aksi mesum istrinya itu. Maka belum lama ini kepergian istrinya dikuntit sampai masuk kamar bersama PIL-nya. Pak Purno dan temannya segera menggerebeknya. Pintu didobrak didapatkan Bu Pur sudah bugil. Saking emosinya, oknum pamong yang malah “ngemong” atasannya itu dihajar sampai babak belur, baru kemudian diserahkan ke polisi.
Gaji ludes buat nyicil bank, istri juga ludes dimakan pamongnya. Apeees…Apeees Pak Puur.



