Energi Juang News,- Langit sore itu berwarna kelabu ketika Dimas melangkahkan kaki ke sebuah kawasan yang jarang disentuh waktu. Jalanan beton retak, rumput liar menjalar di antara celahnya, dan deretan rumah kosong berdiri tanpa suara. Tidak ada anak-anak bermain, tidak ada kendaraan melintas—hanya angin yang sesekali menggesek dinding rapuh. Tempat itu terasa seperti dunia yang ditinggalkan secara tiba-tiba.
Dimas datang bersama kameranya, berniat mengabadikan suasana sunyi yang konon memiliki nilai estetika tinggi. Ia bukan orang pertama yang tertarik pada tempat itu. Namun, ia belum sepenuhnya memahami bahwa sebagian orang datang bukan untuk keindahan… melainkan untuk menguji keberanian.
Di ujung jalan, seorang pria tua duduk di kursi plastik depan rumah yang masih berpenghuni. Matanya tajam, seolah sudah terbiasa melihat orang asing datang dan pergi.
“Mau foto-foto, ya?” tanyanya pria itu datar.
“Iya, Pak..Unik… iya. Tapi jangan lama-lama di dalam, apalagi kalau sudah magrib.” Jawab Dimas.
Kompleks yang dikenal masyarakat sebagai “Kota Mati” itu dulunya adalah proyek ambisius bernama Perum Karawang Baru. Dibangun pada era 1990-an, kawasan itu dirancang sebagai hunian elit dengan fasilitas lengkap. Namun, krisis ekonomi 1998 menghentikan semuanya.
Sejak saat itu, bangunan-bangunan megah itu berubah menjadi cangkang kosong.
Namun menurut warga, yang kosong hanya bangunannya tapi bukan penghuninya.
Dimas mulai menyusuri salah satu rumah besar yang belum selesai dibangun. Catnya mengelupas, langit-langitnya berlubang, dan aroma lembap memenuhi udara
Ia kemudian permisi untuk mengambil foto, mulailah mengangkat kamera, mengambil beberapa gambar, sambil jalan meninggalkan pria itu.
Saat asyik memainkan kameranya, tiba tiba terdengar suara langkah kaki. Suara yang semakin lama semakin jelas mengarah ke dirinya itu, membuat Dimas berhenti dan menoleh kebelakang.
Tapi seketika detak jantung Dimas seolah berhenti, saat matanya melihat kebelakangnya tak ada siapapun.
“Mungkin cuma tikus,” gumamnya.
Kembali ia melanjutkan memotret tanpa menghiraukan keanehan yang terjadi.
Namun tak berselang lama suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih jelas.
Seperti seseorang berjalan di lantai atas.
Padahal, lantai atas rumah itu bahkan belum selesai dibangun.
Dimas menelan ludah menahan rasa takutnya.
“Siapa di atas?!!” teriaknya. Bukan jawaban yang didapat, tapi sebuah bayangan putih melintas cepat diiringi aroma wangi aneh bercampur anyir seperti aroma darah segar.
Dimas mulai tak nyaman dengan situasi seolah memang ada sosok lain bersamanya dirumah kosong itu dan ditambah suara suara tanpa wujud. Dirasakannya semakin malam semakin menjadi jadi dengan munculnya bayangan putih melintas.
Karena situasi yang membuatnya tak nyaman dan bayangan bangunan tampak lebih panjang dan gelap, Dimas memutuskan mengakhiri kegiatan foto nya.
Keesokan hari Dimas memutuskan kembali ke rumah pria tua tadi.
“Pak… semalam saya dengar langkah kaki dan bayangan putih didalam gedung itu,” katanya.
Pria itu mengangguk, seolah tidak terkejut “Itu memang sering dialami orang orang.”
“Sering?” Dimas mengulang.
Meski tampak dari luar seperti komplek perumahan kosong,namun bagi sebagian orang tempat itu tidak pernah benar-benar kosong. Ada sosok lain yang menghuni, menghindari hiruk pikuk urusan manusia diluar komplek.
Karena di antara dinding yang retak dan jendela yang hampa…
Redaksi Energi Juang News



