Rabu, Maret 11, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaKesaksian Seorang Sahabat Tentang Suatu Malam Mengerikan

Kesaksian Seorang Sahabat Tentang Suatu Malam Mengerikan

Energi Juang News, Semarang– Di sebuah perumahan tua di pinggiran kota Semarang, suasana malam biasanya tenang dan hanya diisi suara jangkrik yang bersahutan. Namun bagi Soni, malam-malam itu tak lagi sama sejak mendengar kesaksian dari sahabatnya, Virsa. Cerita itu begitu nyata hingga membuat bulu kuduknya berdiri setiap kali teringat. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana wajah Virsa tampak pucat ketika menceritakan kejadian yang menimpa keluarganya.

Menurut pengakuan Virsa, kejadian aneh itu bermula pada suatu sore yang tampak biasa. Ibunya tengah menyiapkan makan malam ketika telepon rumah tiba-tiba berdering. Ketika diangkat, tidak terdengar suara apa pun. Hanya keheningan panjang yang menimbulkan rasa tidak nyaman. Ibunya sempat berpikir itu hanya salah sambung, namun telepon kembali berdering beberapa menit kemudian. Dengan sedikit kesal, sang ibu menyuruh adik Virsa yang masih SMA untuk mengangkat telepon tersebut.

“Hallo, dari siapa?” tanya sang adik dengan nada lembut. Dari seberang, terdengar suara laki-laki muda yang terdengar jauh dan serak, “Saya Bimo.” Seketika, si adik terdiam. “Bimo? Ini Bimo yang mana?” tanyanya bingung. “Aku cuma mau tanya kabar kalian,” jawab suara itu datar namun pelan. Suara itu memang terdengar akrab di telinga mereka, tapi mustahil karena Bimo, sepupu Virsa, sudah meninggal tiga bulan lalu dalam kecelakaan tragis. Suasana di rumah mendadak sunyi, hanya bunyi detak jam yang terdengar.

Sejak hari itu, panggilan misterius terus berlanjut. Kadang si penelpon diam, kadang berbicara dengan suara lirih seperti orang kelelahan. Anehnya, hanya adik Virsa dan saudara perempuannya yang bisa mendengar suara itu. Jika ibunya yang mengangkat, tak terdengar apa-apa selain dengungan samar seperti angin. “Bu, suaranya jelas banget, sumpah! Itu Bimo!” kata sang adik panik. Ibunya hanya bisa memeluk anaknya, mencoba menenangkan diri walau wajahnya mulai pucat pasi.

Akhirnya keluarga Virsa sepakat berdiskusi. Mereka duduk bersama di ruang tamu malam itu, lampu temaram menyinari wajah-wajah tegang. “Kalau telepon itu datang lagi, jangan panik,” ujar ibunda Virsa lirih. Tak lama kemudian, telepon benar-benar kembali berdering. “Halo?” suara adik Virsa terdengar bergetar. Dari seberang, suara itu lagi pelan, dingin, dan familiar. “Kalian semua sehat?” tanyanya. Dengan hati-hati, si adik menjawab, “Bimo, terima kasih sudah perhatian, tapi alam kita sudah berbeda. Pergilah dengan tenang, ya. Kami akan doakan kamu.” Lalu, sambungan terputus begitu saja.

Beberapa bulan setelah panggilan terakhir itu, suasana rumah tampak lebih tenang. Tidak ada lagi telepon aneh yang masuk. Namun, ketenangan itu hanya bertahan sementara. Tetangga mereka mulai bercerita tentang penampakan sosok putih yang sering terlihat mondar-mandir di halaman rumah Virsa. “Saya lihat sendiri, Mbak,” ujar Bu Warti, tetangga depan rumah, ketika berbincang dengan ibunda Virsa. “Sosoknya tinggi, bajunya putih, rambutnya lusuh, tapi… tidak punya wajah.”

Desas-desus pun mulai menyebar di sekitar lingkungan. Beberapa warga mengaku melihat sosok itu keluar masuk rumah Virsa lewat tembok pagar tanpa membuka gerbang. “Malam itu saya lewat, tiba-tiba sosok itu berdiri di depan pagar, tapi pas saya kelap, hilang,” kata Pak Darto, penjaga malam. Wajahnya tegang ketika menceritakannya kepada Soni dan warga lain. Sejak itu, banyak orang yang enggan lewat di depan rumah Virsa setelah magrib.

Kabar makin heboh ketika seorang anak kecil yang bermain di halaman mengaku mendengar suara telepon berdering dari dalam rumah kosong. Padahal, telepon rumah keluarga Virsa sudah lama dicabut sejak kejadian aneh itu. Soni yang mendengar cerita itu langsung merinding. “Jadi, maksudnya arwah Bimo masih di sana?” tanyanya pada warga. Bu Warti hanya menjawab pelan, “Mungkin dia belum benar-benar pergi. Mungkin masih ingin memastikan keluarganya baik-baik saja.”

Suatu malam, Soni memutuskan datang ke rumah Virsa untuk memastikan kabar yang beredar. Rumah itu tampak sepi, tapi jendela kamarnya terbuka. Dari dalam, samar-samar terdengar suara dering telepon yang menembus keheningan. Soni melangkah pelan, namun langkahnya terhenti ketika melihat bayangan putih berdiri di balik tirai. Bayangan itu tidak bergerak, hanya menatap lurus ke arah luar jendela, lalu menghilang seperti asap. Dering telepon pun berhenti bersamaan.

Sejak malam itu, rumah keluarga Virsa benar-benar ditinggalkan. Tak ada satu pun yang berani menempatinya lagi. Namun warga Sidomulyo terutama mereka yang masih sering melintas di depan rumah itu — mengaku kadang masih mendengar suara telepon berdering dari dalam, meski tak ada sambungan listrik atau telepon yang terpasang. Bagi mereka, kisah itu bukan sekadar cerita, tapi kesaksian seorang sahabat tentang arwah yang belum menemukan jalan pulang.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments