Energi Juang News, Jakarta– Di lereng Gunung Muria, terdapat sebuah desa kecil bernama Karangsari. Desa ini dikelilingi hutan lebat yang oleh warga disebut sebagai Alas Peteng, hutan gelap yang pantang dimasuki setelah matahari terbenam.
Menurut para tetua desa, Alas Peteng dijaga oleh sosok raksasa mengerikan bernama Buto Ijo wujud makhluk raksasa berkulit hijau, bermata merah menyala, dan bertaring tajam.
Legenda mengatakan, Buto Ijo akan muncul ketika ada yang merusak alam atau melanggar batas wilayahnya.
Namun, generasi muda Karangsari menganggapnya hanya dongeng. Termasuk Ardi dan teman-temannya yang gemar berkemah dan berburu konten misteri di media sosial.
“Ah, cuma cerita buat nakut-nakutin anak kecil,” kata Ardi, tertawa saat kakeknya memperingatkan agar tak masuk Alas Peteng malam-malam.
“Buto Ijo itu nyata, Di. Dulu, Pak Darto pernah lihat bayangan raksasa di balik pohon besar. Habis itu, kambingnya hilang semua!” seru Pak Raji, tetua desa.
“Itu pasti maling, bukan Buto Ijo,” balas Ardi ringan.
“Kalau berani, coba bermalam di dalam hutan sana,” tantang warga lainnya, setengah bercanda.
Tanpa pikir panjang, Ardi dan dua temannya Fikri dan Dila membawa tenda dan perlengkapan, lalu berangkat menuju tengah hutan, tepat saat matahari mulai tenggelam.
Pendakianpun dimulai, menyusuri jalan yang biasa pendaki lewati. Pesona alam Gunung Muria membius mereka hingga menyadarkan watu sudah gelap, saatnya mendirikan tenda untuk menginap.
Dila yang penakut selalu mencoba melihat sekeliling dengan curiga karena takut Buto ijo menampakkan diri seperti cerita Pak Raji tadi siang.
Perasaan Dila sudah gelisah sedari sore susah untuk dihilangkan, menciptakan rasa takut yang menjalar ke seluruh tubuhnya,
Tibalah waktu tidur, Ardi dan Fikri tidur bersebelahan . Sedangkan Dila diposisi pinggir tenda gelisah tak mudah memejamkan mata. Suasana malam itu terlalu dingin, gelap dan senyap, hanya terdengar suara burung malam dan desir angin.
Tapi sekitar pukul dua dini hari, mulai terjadi hal hal aneh diluar nalar terjadi. Dila yang sedari tadi susah memejamkan mata mulai curiga tenda mereka mulai bergetar.
Dilanjutkan suara langkah kaki berat disemak semak, membuat Dila penasaran mengintip dari celah tenda yang tersingkap. Namun dia tak menemukan sesuatu apapun.
“Kalian denger itu?” bisik Dila ketakutan berusaha membangunkan Ardi dan Fikri.
Dila meyakinkan mereka dari beberapa menit lalu ia juga mencium bau anyir dan busuk.
“Itu cuma suara binatang malam…” jawab Ardi ragu, sambil ketiganya mengintip disela tenda yang tersingkap secara bergantian.
Namun giliran Fikri melihat keluar tiba tiba Fikri berbisik namun dengan raut ketakutan.”Itu bukan binatang!!” Fikri menunjuk ke balik pepohonan.
Dari sela-sela pohon, terlihat sepasang mata merah menyala dikegelapan.
Tubuh raksasa perlahan muncul, berlumur lumpur, dan kulitnya hijau seperti lumut busuk terkena sinar temaram sirnar bulan. Disitulah mereka baru percaya apa yang dikatakan Pak Raji yaitu Buto Ijo.
Makhluk itu mulai menggeram, mengaum menakutkan dan pohon-pohon pun bergetar.
Tiba tiba terdengar suara keras berasal dari mahluk itu, “Kalian sudah melanggar batas! Alam ini bukan tempat permainan!”.
Sungguh membuat takut mereka bertiga karena suaranya berat, menggema seisi hutan yang angker itu.
Buto Ijo tidak menyerang, tapi membalikkan tanah tempat mereka mendirikan tenda, menunjukkan tulang belulang hewan yang terkubur mungkin korban sebelumnya.
Rasa takut yang makin memuncak membuat ketiganya lari terbirit-birit menuju ke desa.
Setelah kejadian itu, mereka satu persatu jatuh sakit. Setelah sembuh, mereka bertiga bersumpah tak akan pernah meremehkan cerita mitos keangkeran Gunung Muria.
Semenjak kejadian itu, warga Karangsari kembali memasang batas batu di pinggir Alas Peteng. Tanda untuk para pendatang dan penduduk desa, karena tak seorang pun berani melewati batas itu.
Karena pada malam-malam tertentu, suara Buto Ijo masih terdengar bergema dari dalam hutan walaupun masih banyak yang tak percaya keberadaannya.
Cerita ini tidak hanya menakutkan, tapi juga mengandung pesan yang bisa dipetik tentang pentingnya menjaga alam, menghormati tradisi, dan mempercayai nasihat orang tua.
Redaksi Energi Juang News



