Minggu, April 19, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaMisteri Hantu Uhang Pandak di Hutan Kerinci

Misteri Hantu Uhang Pandak di Hutan Kerinci

Energi Juang News, – Kabut turun perlahan di kaki Gunung Raya ketika senja mulai merayap di ufuk barat. Hutan lebat di wilayah Lempur, Kabupaten Kerinci, tampak seperti lautan hijau yang tak bertepi. Pepohonan besar berdiri rapat, menjulang tinggi seperti pagar raksasa yang menjaga rahasia lama dari dunia luar.

Di kejauhan, suara burung malam terdengar sesekali memecah kesunyian. Angin yang berembus pelan menggesek dedaunan, menimbulkan suara lirih seperti bisikan samar dari balik semak-semak.

Di depan sebuah rumah kayu tua di Desa Lempur, seorang pria berdiri sambil menatap hutan yang mulai gelap. Namanya Dito, 29 tahun, seorang pemerhati kisah-kisah mistis yang sejak lama tertarik pada cerita-cerita aneh dari berbagai daerah.

Sejak remaja, ketika masih bersekolah di Sungai Penuh, ia sudah sering mendengar kisah tentang makhluk misterius yang konon hidup di hutan Kerinci. Malam itu ia datang untuk menemui seorang tokoh budaya setempat yang dipercaya mengetahui banyak cerita lama.

Namanya Iskandar Zakaria.

Pintu rumah kayu itu berderit perlahan saat dibuka.

“Silakan masuk,” ujar Iskandar dengan suara tenang.

Di dalam rumah yang hanya diterangi lampu kuning redup, bayangan mereka tampak bergoyang di dinding papan. Aroma kopi hitam yang baru diseduh memenuhi ruangan.

Dito membuka percakapan dengan hati-hati.

“Pak Iskandar… saya ingin mendengar cerita lama yang sering dibicarakan orang dulu. Tentang makhluk yang konon hidup di hutan Kerinci.”

Iskandar tersenyum tipis. Ia lalu menoleh ke arah jendela yang menghadap langsung ke gelapnya hutan.

“Kamu datang karena cerita itu, ya?” katanya pelan.

Dito mengangguk.

Beberapa detik mereka terdiam sebelum lelaki tua itu kembali berbicara.

“Orang-orang di sini menyebutnya Uhang Pandak.”

Baca juga :  Ketindihan Pocong di Kos Baru Dekat Kampus Solo

Dito sedikit mendekat, rasa penasarannya semakin besar.

“Seperti apa wujudnya, Pak?”

Iskandar menarik napas panjang, seolah sedang membuka kembali ingatan lama yang sudah lama tersimpan.

“Matanya merah… menyala di tengah gelap,” ujarnya perlahan.

Ia kemudian melanjutkan dengan nada lebih serius.

“Tubuhnya pendek, tapi terlihat kuat. Seluruh badannya ditutupi bulu berwarna kuning kecokelatan. Kalau dia sudah masuk ke semak-semak, biasanya langsung hilang begitu saja.”

Dito merasakan bulu kuduknya meremang.

Cerita itu terdengar seperti legenda, namun cara Iskandar menceritakannya membuat semuanya terasa begitu nyata.

“Orang di desa pernah melihatnya?” tanya Dito.

Iskandar mengangguk pelan.

“Beberapa orang mengaku pernah melihat bayangannya bergerak di hutan. Tapi jarang sekali yang benar-benar bisa melihatnya dengan jelas.”

Ia meneguk kopi sebelum melanjutkan.

“Makhluk itu sering muncul di bukit-bukit yang dipenuhi tanaman perdu liar.”

“Tanaman apa?” tanya Dito.

“Paitan,” jawab Iskandar.

Menurut cerita warga, makhluk itu sering terlihat memakan bunga dari tanaman tersebut. Bunganya mirip bunga matahari kecil, tumbuh liar di lereng-lereng bukit.

Bagi petani setempat, tanaman paitan sebenarnya cukup biasa. Banyak yang memanfaatkannya sebagai penutup tanah karena kandungan nitrogennya yang tinggi.

Namun kehadiran makhluk misterius di sekitarnya membuat tanaman itu sering dikaitkan dengan cerita-cerita aneh.

Malam semakin larut ketika Dito meninggalkan rumah Iskandar. Jalan desa tampak sepi dan hanya diterangi lampu-lampu kecil di depan rumah penduduk.

Di ujung jalan, seorang warga bernama Rahman menemaninya berjalan menuju penginapan.

“Bang Rahman,” kata Dito sambil menyalakan senter kecil. “Apakah warga di sini masih sering membicarakan makhluk itu?”

Rahman tersenyum samar.

“Masih,” jawabnya.

Ia menunjuk ke arah hutan yang mulai tertutup kabut malam.

Baca juga :  Misteri Mencekam Dusun Setan di Klaten

“Kadang ada orang yang melihat sesuatu bergerak cepat di semak-semak. Tapi begitu didekati… sudah tidak ada apa-apa.”

Dito terdiam sejenak.

“Menurut Abang, itu benar-benar makhluk atau hanya cerita orang tua dulu?”

Rahman tidak langsung menjawab. Ia justru berhenti berjalan dan menatap ke arah pepohonan yang gelap.

Angin malam berhembus lebih dingin.

“Di hutan seperti ini,” katanya perlahan, “banyak hal yang belum kita mengerti.”

Mereka kembali berjalan.

Suara ranting patah tiba-tiba terdengar dari arah semak-semak di sisi jalan.

Krek…

Rahman langsung berhenti.

“Dengar itu?” bisiknya.

Dito menyorotkan senter ke arah suara tadi. Cahaya lampu menembus dedaunan, namun tidak terlihat apa pun selain bayangan pohon.

Semak-semak itu masih bergoyang pelan.

Beberapa detik kemudian semuanya kembali sunyi.

Rahman menarik napas panjang.

“Mungkin hanya musang,” katanya, meski suaranya terdengar tidak terlalu yakin.

Setelah beberapa saat berjalan, mereka akhirnya tiba di persimpangan jalan desa.

Sebelum berpisah, Rahman menatap Dito dengan ekspresi serius.

“Kalau suatu hari kamu melihat sesuatu bergerak di semak-semak… jangan langsung mendekat.”

Dito mengernyit.

“Kenapa?”

Rahman tersenyum tipis.

“Karena mungkin saja… dia yang sedang memperhatikanmu.”

Dito terdiam.

Di belakang mereka, hutan Gunung Raya berdiri gelap dan sunyi, seolah menyimpan sesuatu yang belum pernah sepenuhnya terungkap.

Apakah makhluk itu benar-benar sekadar cerita lama yang diwariskan dari generasi ke generasi?

Ataukah ia adalah spesies misterius yang belum pernah tercatat dalam dunia ilmu pengetahuan?

Hingga hari ini, tidak ada jawaban pasti.

Namun bagi warga desa di sekitar Gunung Raya, sosok kecil berbulu kuning kecokelatan dengan mata merah itu bukan sekadar legenda.

Di balik gelapnya hutan Kerinci, misteri itu seolah masih hidup… dan mungkin masih mengawasi setiap langkah manusia yang berani memasuki wilayahnya.

Baca juga :  Jembatan Bingung: Pengalaman Malam Mencekam

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments