Kamis, April 16, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaMuseum Sang Nila Utama Pekanbaru Yang Berhantu

Museum Sang Nila Utama Pekanbaru Yang Berhantu

Energi Juang News, Riau- Malam di kota Pekanbaru biasanya ramai oleh kendaraan yang melintas di Jalan Jenderal Sudirman. Namun ketika jam menunjukkan hampir pukul sepuluh malam, suasana berubah jauh lebih tenang. Lampu-lampu jalan menyinari bangunan tua yang berdiri kokoh di pinggir jalan—Museum Sang Nila Utama.

Bangunan itu menyimpan berbagai warisan budaya Melayu Riau: pakaian adat pernikahan, alat musik tradisional, permainan rakyat, hingga artefak kuno yang usianya ratusan tahun. Namun bagi sebagian orang, museum ini bukan hanya tempat menyimpan sejarah. Banyak cerita yang beredar di masyarakat tentang kejadian aneh yang terjadi di dalamnya.

Rini Syafitri, seorang pekerja museum, adalah salah satu orang yang pernah mengalami pengalaman yang sulit ia lupakan. Suatu sore menjelang malam, Rini sedang membereskan meja resepsionis di lantai dasar. Saat hendak naik ke lantai dua untuk memeriksa lampu, ia merasakan sesuatu yang aneh. Perasaan seperti sedang diperhatikan. Rini berhenti di tangga dan perlahan menoleh ke arah balkon lantai dua. Jantungnya berdegup kencang.

Di sana, berdiri sosok perempuan. Rambutnya panjang dan acak-acakan, wajahnya pucat dengan mata yang menatap tajam lurus ke arah Rini. Tubuh Rini langsung merinding. “Siapa…?” bisiknya pelan.

Namun sosok itu tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam, menatap tanpa berkedip. Rini mundur selangkah, napasnya menjadi berat. “Ya Allah… itu bukan manusia,” gumamnya.

Ketika ia berkedip sekali saja, sosok perempuan itu tiba-tiba menghilang. Sejak hari itu, Rini mengaku sering merasakan kehadiran makhluk tak kasatmata di museum tersebut. Menurut Rini, kejadian seperti itu bukan hanya terjadi sekali. Ia mengaku kerap melihat sosok-sosok lain di dalam museum, terutama ketika suasana sedang sepi.

“Kadang ada yang kecil, ada yang tinggi besar,” kata Rini suatu malam saat berbincang dengan rekan kerjanya.

Baca juga :  Danau Makam TMP Kalibata: Kisah Angker di Tengah Kota

“Serius kau nampak begitu?” tanya temannya dengan wajah pucat.

Rini mengangguk pelan.

“Macam-macam bentuknya. Ada yang wajahnya buruk… tapi ada juga yang auranya tidak jahat.”

Ia bahkan pernah melihat sosok yang berjalan di antara koleksi hewan replika di lantai dasar museum. Di balik kaca, terdapat replika harimau Sumatra, beruang madu, dan berbagai satwa khas Riau. Suatu malam ketika ia sedang mengepel lantai, Rini melihat bayangan bergerak di dekat replika harimau. Bayangan itu kemudian berjalan perlahan menuju meja tempatnya bekerja.

“Kadang datang ke meja ini,” kata Rini sambil menunjuk.

“Berkeliaran saja di sini. Lama-lama jadi biasa.”

Meskipun terdengar menyeramkan, Rini mengatakan ia sudah mulai terbiasa dengan kehadiran makhluk-makhluk itu. Cerita-cerita aneh di museum ini juga dibenarkan oleh Atuk, koordinator pemandu pengunjung museum. Pria tua itu telah bekerja di museum selama bertahun-tahun dan mengetahui banyak kejadian yang tidak diketahui pengunjung. Suatu sore, Atuk duduk di kursi dekat pintu masuk bersama beberapa petugas museum.

“Tempat ini memang banyak kisahnya,” katanya pelan.

Salah satu penjaga bertanya, “Atuk pernah lihat sendiri?”

Atuk mengangguk.

“Ada yang pernah meninggal di sini dulu… buruh bangunan.”

Para petugas langsung terdiam. Atuk kemudian menceritakan kejadian lama saat museum sedang dibangun. Seorang buruh terjatuh dari lantai dua. Tubuhnya menghantam lantai dengan posisi kepala lebih dulu. Ia meninggal di tempat dengan pergelangan tangan yang patah. Beberapa tahun kemudian, kejadian aneh terjadi ketika sebuah acara televisi melakukan syuting di museum tersebut.

Salah satu kru tiba-tiba kerasukan.

Atuk yang berada di lokasi melihat langsung kejadian itu.

“Tangannya begini,” kata Atuk sambil memperagakan posisi tangan yang terkilir.

Baca juga :  Kisah Galih dan Santapan Makhluk Tak Kasat Mata Warung Hantu di Ujung Desa

“Pergelangan seperti dililit sesuatu… seperti ular.”

Sosok yang merasuki kru tersebut kemudian mengaku sebagai buruh yang pernah jatuh dari lantai dua museum. Mendengar cerita itu, suasana di ruangan langsung terasa dingin. Di dalam museum terdapat satu sudut ruangan yang jarang dilewati pengunjung.

Lokasinya di pojok kanan lantai dasar. Di sana terdapat pelaminan adat Melayu lengkap dengan kasur pengantin. Di sampingnya terdapat koleksi etnografi suku Sakai, salah satu suku asli Riau dari Bengkalis. Namun yang membuat ruangan itu terasa berbeda adalah pencahayaannya.

Lampu di area tersebut hampir tidak pernah menyala.

“Bukan sengaja dimatikan,” jelas Atuk.

“Aliran listriknya sering rusak.”

Salah satu petugas pernah mencoba mengganti lampu berkali-kali. Tetapi lampu itu hanya menyala sebentar sebelum akhirnya mati lagi.

Atuk tertawa kecil.

“Mungkin mereka memang ingin gelap.”

Karena pencahayaan yang redup, sudut ruangan itu selalu terlihat remang-remang. Dan di situlah sering muncul penampakan. Beberapa pengunjung pernah melaporkan kejadian aneh saat berkunjung ke museum. Suatu hari, seorang pengunjung perempuan berlari keluar dari ruangan pelaminan dengan wajah pucat.

“Kenapa, Mbak?” tanya petugas.

Perempuan itu menunjuk ke arah ruangan sambil gemetar.

“Ada orang tidur di kasur itu…”

Petugas masuk untuk memeriksa.

Namun tidak ada siapa pun di sana.

Ketika diminta menjelaskan, perempuan itu berkata dengan suara pelan.

“Rambutnya acak-acakan… matanya sayu… pelipisnya hitam seperti bengkak.”

Mendengar deskripsi itu, Atuk hanya menghela napas.

“Ya… itu sering muncul di situ.” Bukan hanya sosok perempuan.

Ada juga cerita tentang sosok kakek tua yang sering terlihat duduk di sebuah artefak batu keong. Benda tersebut merupakan koleksi arkeologi yang diperkirakan berusia lima juta tahun. Beberapa pengunjung mengaku melihat kakek itu duduk diam sambil menatap lantai. Namun ketika didekati, sosok itu menghilang begitu saja.

Baca juga :  Misteri Hantu Uhang Pandak di Hutan Kerinci

“Penunggu di sini banyak,” kata Atuk.

“Ada juga yang tinggal di keramik dan guci besar.”

Cerita paling sering terjadi ketika museum dikunjungi rombongan anak sekolah. Kadang ada anak yang tiba-tiba menangis saat baru masuk ke halaman museum. “Pak… saya takut,” kata seorang anak suatu kali.

“Kenapa?”

“Ada yang berdiri di pintu…”

Namun ketika dilihat oleh orang lain, tidak ada siapa pun di sana.

Atuk kemudian biasanya bertanya kepada guru mereka.

“Ada anak yang bisa melihat?” tanyanya.

Jika ada yang memiliki kemampuan indra keenam, Atuk sering menyarankan agar anak tersebut tidak masuk ke museum.

“Takutnya tidak kuat,” katanya.

Meski banyak kisah menyeramkan, museum ini justru semakin ramai dikunjungi. Cerita-cerita mistis menyebar dari mulut ke mulut, membuat banyak orang penasaran. Suatu hari, seorang siswa bertanya kepada Atuk.

“Pak, di sini benar ada hantu?”

Atuk tersenyum tipis.

“Kalau kamu beruntung… mungkin bisa lihat.”

Teman-temannya langsung bersorak.

“Kami mau lihat!”

Atuk hanya tertawa kecil.

“Kadang orang datang ke museum untuk belajar sejarah,” katanya.

“Kadang juga… untuk mencari cerita yang tidak bisa dijelaskan.”

Dan ketika malam kembali turun di Pekanbaru, Museum Sang Nila Utama berdiri dalam kesunyian. Lampu-lampu redup menerangi koleksi budaya Melayu yang diam di balik kaca.

Namun bagi mereka yang percaya pada hal-hal tak kasatmata, mungkin ada sesuatu yang masih berjalan pelan di lorong-lorong museum itu. Sesuatu yang sudah ada sejak lama.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments