Energi Juang News, Solo – Tomo warga Solo bukanlah pria miskin. Ia memiliki rumah besar dan usaha yang terlihat selalu ramai. Namun, semua itu mulai terlihat mencurigakan sejak beberapa bulan terakhir. Warga desa kerap membicarakan suara aneh dari rumahnya saat tengah malam. Seperti erangan wanita dan bisikan berbahasa Jawa Kuno yang membuat bulu kuduk meremang. Seorang tetangga, Pak Sardi, pernah berkata, “Aku dengar suara itu jam siji bengi, Mas. Kayak bukan suara manusia.”
Satu malam, saat sedang minum kopi di warung, Tomo tanpa sengaja membuka sedikit rahasianya. Ia bercerita bahwa hidupnya dulu penuh utang, tapi semuanya berubah setelah bertemu seseorang di pinggiran hutan selatan. Orang itu adalah dukun tua dengan tatapan tajam dan suara berat. “Kalau kamu mau kaya, datang saja ke alas tengah malam, bawa kemenyan dan janji setia,” kata si dukun. Tapi, Tomo tak tahu bahwa dia sedang masuk ke dalam perjanjian pesugihan yang mengerikan.
Dukun itu memperingatkan bahwa pesugihan yang akan dijalani adalah milik Nyi Blorong. Sosoknya digambarkan sebagai wanita berparas luar biasa cantik, dengan rambut panjang menjuntai dan mata hijau menyala. Namun, dari pinggang ke bawah, tubuhnya adalah seekor ular raksasa bersisik emas. Setiap malam satu Suro, kamu harus tidur dengan dia. Kalau berhasil, sisiknya akan jatuh dan berubah jadi emas,” kata dukun itu sembari menghisap rokok kretek dalam-dalam. Tomo merasa ragu, namun ambisinya mengalahkan logika.
Sayangnya, bukan hanya itu syaratnya. Dukun itu melanjutkan dengan suara pelan namun tegas, “Kamu juga harus kasih satu tumbal dari keluargamu. Harus ada darah dagingmu sendiri supaya Nyi Blorong tetap muda dan senang.” Tomo membeku saat mendengarnya, namun ia mengangguk tanpa banyak berpikir. Kekayaan yang dijanjikan terlalu menggoda. Ia percaya bisa mengakalinya nanti. Namun, dunia gaib tak pernah bisa ditipu.
Istrinya, Riri, mulai mengalami kejadian aneh. Kandungan yang sudah berusia tujuh bulan tiba-tiba lenyap tanpa jejak. Tidak ada pendarahan, tidak ada sakit, hanya perutnya yang kembali rata seperti belum pernah mengandung. Saat dibawa ke bidan desa, sang bidan hanya menggeleng lemas, “Aku ndak ngerti, ini seperti… bayi itu diambil dari dalam tanpa bekas.” Riri pun mulai sering meracau dalam tidur, menyebut nama-nama yang tak dikenal dan menangis histeris di tengah malam.
Warga pun semakin yakin ada yang tidak beres di rumah Tomo setelah salah satu pembantunya ditemukan tewas di belakang rumah. Tubuhnya remuk seperti dililit ular raksasa, tulang punggungnya patah dalam empat bagian. Polisi hanya bisa mengatakan korban mengalami kecelakaan aneh, tapi warga tahu ini bukan kejadian biasa. Bu Minah, tetangga dekat, berkata dengan wajah pucat, “Aku lihat bekas sisipan seperti sisik ular di tanah, besar sekali.”
Tomo pun berusaha mencari tumbal berikutnya. Ia mencoba menyerahkan keponakannya yang masih kecil. Namun, upacara pengorbanan yang dilakukan diam-diam gagal total. Nyi Blorong murka. Malam itu, Tomo mengalami mimpi buruk yang terlalu nyata: tubuhnya dililit ular besar bersisik emas, matanya membelalak melihat wajah Nyi Blorong yang mendesis penuh amarah. “Kau ingkar janji, Tomo,” ucapnya. “Sekarang, nyawamu jadi gantinya.”
Esok harinya, tubuh Tomo ditemukan dalam kondisi mengenaskan di kamarnya. Kulitnya penuh bekas lilitan, lehernya patah, dan matanya terbuka lebar dengan ekspresi ketakutan luar biasa. Tak ada tanda orang masuk atau kabur. Polisi pun bingung. Warga percaya, malam itu Tomo benar-benar diambil oleh Nyi Blorong. Pak Sardi berkata sambil menunduk, “Sudah aku bilang, main-main dengan dunia gaib itu ndak pernah ada untungnya.”
Sejak kejadian itu, rumah Tomo kosong dan dibiarkan terbengkalai. Tak ada yang berani mendekat. Bahkan, seekor kucing pun enggan melintas di halamannya. Suara desisan samar masih kadang terdengar saat malam 1 Suro tiba. Mereka bilang arwah Tomo belum tenang, dan Nyi Blorong masih menunggunya untuk kembali menyempurnakan janji yang terputus.
Cerita ini menjadi pelajaran bagi banyak orang. Keinginan untuk kaya secara instan seringkali membuka pintu ke arah yang tak bisa ditutup kembali. Dunia pesugihan bukan hanya soal kekayaan, tapi soal janji yang harus ditepati. Jika tidak, bukan hanya harta yang hilang, tapi juga nyawa dan keturunan yang dikorbankan. Dan bagi Nyi Blorong, janji yang dilanggar akan dibayar dengan kutukan kekal.
Redaksi Energi Juang News



