Energi Juang News, Jakarta– Petualangan kelam ini bermula dari seorang pria bernama Rosyid, usia 30 tahun, asal Jakarta. Setelah dipecat dari pekerjaannya secara tidak adil, ambisi Rosyid untuk cepat kaya membawanya ke jalan gelap: pesugihan. Ia tergoda oleh cerita temannya tentang ritual mistis Roro Kembang Sore di Tulungagung—jalan pintas menuju kekayaan.
Perjalanan dari Jakarta menuju Tulungagung bukan tanpa gangguan. Di tengah hujan deras, ban bus yang ditumpanginya meledak secara misterius. Saat para penumpang panik, seorang wanita tiba-tiba kesurupan dan menjerit ketakutan. Namun, Rosyid yang sudah mantap memilih jalan ini, menolak mundur dan memaksa sopir melanjutkan perjalanan.
Sesampainya di kaki Gunung Bolo, hawa mistis langsung terasa. Rumah-rumah bilik tua yang dipenuhi wangi sedap malam seakan menyambut kedatangannya. Ketika menapaki tangga menuju makam Roro Kembang Sore, ia merasa seperti ada yang membisikkan sesuatu ke telinganya—dingin, menyeramkan, membuat bulu kuduknya berdiri.
Di makam, Rosyid bertemu sang kuncen, penjaga ritual. “Kalau ingin kaya, kamu harus patuh. Apapun yang terjadi, jangan lari,” ucap sang kuncen. Ritual pertama dimulai dengan mandi kembang di ruangan gelap gulita. Di tengah keheningan, muncul sosok makhluk tinggi besar, kulitnya hitam legam, giginya bertaring, lidahnya menjulur panjang ke lantai. Matanya menyala merah, wajahnya seperti daging busuk yang hancur. Ia mendekat sambil tertawa menggelegar. Air liur yang menetes dari lidahnya bercampur darah, menetes ke wajah Rosyid. Bau busuk menyengat seolah berasal dari bangkai yang membusuk.
Ketika ritual selesai, makhluk itu lenyap. Namun, yang lebih mengerikan adalah tahap berikutnya. Kuncen menyediakan beberapa wanita cantik sebagai bagian dari ritual esoteris. Setelah Rosyid menyelesaikan hubungan layaknya suami-istri dengan salah satu dari mereka, wanita itu berubah menjadi sosok nenek tua mengerikan, penuh darah dan gigi runcing. Pemandangan itu sangat menjijikkan, seperti mimpi buruk dalam wujud nyata.
Usai ritual, kuncen memberinya air khusus yang tidak boleh disentuh siapa pun kecuali Rosyid sendiri. Setelah semua syarat dipenuhi, ia pulang ke Jakarta.
Tak lama, kabar mengagetkan datang—atasan yang dulu memecatnya tewas dalam kecelakaan mobil tragis. Kepalanya hancur tak dapat dikenali. Rosyid terdiam, merenung—”Apakah ini tumbal pertama?”
Benar saja, setelah kejadian itu, hidup Rosyid berubah drastis. Kekayaan dan kesuksesan datang bertubi-tubi. Tapi setiap tahunnya, selalu ada orang terdekatnya yang meninggal secara mengenaskan. Hingga akhirnya, anak dan istrinya sendiri menjadi korban.
Rosyid pun menyadari: pesugihan Roro Kembang Sore bukan tanpa tumbal. Semua kemewahan dibayar dengan nyawa orang tercinta. Dulu ia tak percaya, tapi sekarang ia hidup dalam penyesalan abadi. Konon, pesugihan ini tak hanya mengambil tumbal, tapi bisa memakan nyawa pelakunya sendiri.
Kini, Rosyid hidup dalam bayang-bayang horor. Dia ingin memperingatkan siapa pun: jangan pernah menukar jalan hidup dengan janji manis sesat. Lebih baik bersyukur dan melihat segala cobaan sebagai jalan Tuhan untuk meninggikan derajat manusia.
Redaksi Energi Juang News



