Energi Juang News, Jakarta- Di lereng sunyi Gunung Merbabu, terdapat sebuah desa terpencil yang menyimpan kisah kelam dan mengerikan. Di balik panorama alam yang memukau, tersimpan rahasia berdarah yang membuat siapapun berpikir dua kali untuk berkunjung ke sana. Teror itu berawal dari peristiwa tragis yang menimpa seorang wanita cantik bernama Kanthil—yang dikenal sebagai simpanan Pak Lurah—dan sang kusir delman yang setia menemaninya.
Pagi buta yang dingin berubah menjadi mencekam saat warga menemukan tubuh Kanthil dan kusirnya tergeletak tak bernyawa di parit pinggir jalan berbatu. Yang membuat bulu kuduk merinding adalah kenyataan bahwa mata mereka telah hilang, seperti dicungkil paksa. Anehnya, perhiasan seperti giwang masih menempel di telinga Kanthil, namun gelang-gelang emas di tangannya lenyap. Kudanya ditemukan mati dengan leher nyaris putus, delmannya tetap utuh. Ini bukan perampokan biasa—ini lebih seperti ritual mengerikan.
Desas-desus pun menyebar. Konon, ini adalah ulah geng kriminal baru yang disebut “Kecu Anyaran”, dan syarat untuk menjadi anggotanya adalah mencungkil mata korban dan menunjukkannya pada pemimpin kelompok mereka. Tapi benarkah begitu? Tak ada yang tahu pasti. Yang jelas, sejak tragedi itu, teror tak pernah benar-benar berhenti.
Pak Lurah Sasongko, yang dulu dikenal memiliki hubungan gelap dengan Kanthil, malah berusaha mencuci tangan. Padahal, seluruh desa tahu bahwa Kanthil adalah gundiknya. Dalam berbagai pidato, Sasongko membantah, namun masyarakat tahu semua itu hanya omong kosong. Tak seorang pun berani menentangnya karena pengaruh kekuasaannya yang kuat.
Namun sejak kematian tragis itu, arwah Kanthil mulai menunjukkan tanda-tanda ketidaktenangan. Konon, selama 40 hari setelah kematiannya, setiap malam pasaran Wage, suara roda delman terdengar berderit di jalanan sunyi. Warga yang berani mengintip akan melihat sosok Kanthil dan kusirnya, dengan wajah pucat dan mata berlumuran darah, mengendarai delman mereka di jalur yang biasa mereka lewati dulu—antara pasar Wage dan pekuburan tua.
Tanda kehadiran mereka ditandai dengan aroma bunga Kanthil yang menusuk hidung, wangi yang semakin menyengat seiring makin dekatnya makhluk halus itu. Bila seseorang melihat mereka, Kanthil akan menoleh perlahan—dengan wajah pucat dan mata kosong yang mengucurkan darah. Satu tatapan itu cukup untuk membuat siapapun jatuh pingsan, atau bahkan gila.
Hingga kini, sudah lebih dari dua dekade berlalu sejak tragedi itu terjadi. Namun legenda tentang “Hantu Kanthil dan Setan Delman” terus bergulir dari generasi ke generasi. Salah satu pengalaman paling menyeramkan dialami oleh Murod, seorang pekerja malam yang tertidur di dekat rumah Pak Lurah.
Dalam tidurnya, Murod bermimpi didatangi seorang kakek tua yang memperingatkannya untuk pulang. Ia terbangun dengan jantung berdebar, namun rasa kantuk membuatnya tetap bertahan. Saat ia hendak benar-benar pulang, muncul sosok wanita yang memintanya diantar pulang karena tertinggal delman. Bau wangi bunga Kanthil seketika menyeruak di udara.
Merasa kasihan, Murod mengantar wanita itu menggunakan sepeda motornya. Sepanjang perjalanan, motor terasa berat seperti membawa beban tak kasat mata. Setibanya di dekat pekuburan, wanita itu turun dan bertanya, “Pinten mas?” (Berapa mas?). Saat Murod mendongak untuk menjawab, dunia seakan runtuh di hadapannya.
Wajah wanita itu berubah menjadi sangat mengerikan. Bola matanya tak ada, hanya lubang hitam berlumuran darah. Dengan tawa cekikikan yang memekakkan telinga, ia berkata dengan suara serak, “Kulo niki Kanthil lho, mas…”
Murod langsung pingsan dan ditemukan keesokan paginya oleh warga. Sejak kejadian itu, banyak warga menyebut makhluk itu sebagai “Setan Kanthil dan Setan Delman.” Kejadian serupa kerap terjadi, apalagi setelah pasar Wage dipindahkan—area bekas pasar kini menjadi kompleks pemakaman. Anehnya, setiap malam Wage, wangi bunga Kanthil kembali tercium meski tak ada pohon Kanthil di sekitar sana.
Apakah Anda cukup berani untuk menginjakkan kaki di desa itu pada malam Wage?
Redaksi Energi Juang News



