Energi Juang News,Kediri- Langit sore itu tampak biasa saja ketika Arga memulai pendakiannya. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, dan suara burung terdengar samar seperti bisikan dari dunia lain. Ia mengira perjalanan ini hanya akan menjadi petualangan biasa—hingga langkahnya membawa ia lebih dalam ke wilayah yang tidak semua orang berani datangi.
Gunung yang ia daki adalah Gunung Penanggungan, sebuah tempat yang tak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena lapisan sejarah dan spiritual yang begitu pekat. Terletak di antara Mojokerto dan Pasuruan, gunung ini berdiri setinggi 1.653 meter di atas permukaan laut, seolah menjadi penjaga sunyi dari masa lalu yang belum selesai.
Arga mulai merasakan sesuatu yang janggal saat melewati reruntuhan candi kecil yang tersembunyi di balik semak belukar. Batu-batu kuno itu dingin, bahkan saat disentuh di bawah matahari sore. Ia pernah membaca bahwa puluhan situs peninggalan Hindu-Buddha tersebar di lereng gunung ini, namun merasakannya secara langsung adalah pengalaman yang berbeda.
Malam turun lebih cepat dari yang ia perkirakan.
Di tengah hutan yang semakin gelap, Arga memutuskan untuk beristirahat. Ia mendirikan tenda di area datar yang konon dulunya digunakan sebagai tempat pertapaan para ksatria kerajaan. Angin malam membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang sulit dijelaskan—seperti dupa yang terbakar tanpa sumber.
Saat itulah ia mendengar suara.
Lirih. Seperti seseorang memanggil namanya.
“Arga…”
Ia terbangun dengan jantung berdegup kencang. Suara itu bukan dari dalam mimpinya. Itu nyata. Ia membuka tenda perlahan, dan di antara kabut yang mulai menebal, ia melihat sosok perempuan berdiri tak jauh dari tempatnya.
Rambutnya panjang, menjuntai hingga pinggang. Pakaiannya menyerupai busana kuno, putih namun tampak kusam oleh waktu. Wajahnya samar, namun cukup jelas untuk menunjukkan bahwa ia sedang tersenyum.
Senyum yang tidak menenangkan.
Penduduk setempat menyebut sosok itu sebagai Putri Ayu Tanding. Dalam cerita turun-temurun, ia bukan sekadar makhluk halus, melainkan penjaga spiritual gunung ini. Ada yang percaya ia melindungi, namun ada pula yang bersumpah bahwa siapa pun yang melihatnya tak akan pernah pulang dengan keadaan yang sama.
Arga mencoba bergerak, namun tubuhnya terasa berat. Seolah tanah di bawahnya menahan setiap langkah. Sosok itu perlahan mendekat, langkahnya tidak terdengar, hanya kabut yang bergeser mengikuti kehadirannya.
“Kenapa kamu datang tanpa izin?” suara itu kini terdengar jelas, namun bibirnya tidak bergerak.
Arga ingin menjawab, tetapi suaranya tercekat. Dalam benaknya, potongan cerita yang pernah ia dengar kembali muncul—tentang para pertapa zaman Kerajaan Kediri yang mencari pencerahan di gunung ini, tentang ritual yang membuka batas antara dunia manusia dan dunia lain.
Dan mungkin… ia telah melangkah terlalu jauh.
Sosok Putri Ayu Tanding berhenti tepat di depannya. Matanya kini terlihat—kosong, namun dalam, seperti jurang tanpa dasar. Tiba-tiba, suara-suara lain mulai bermunculan. Bisikan, tangisan, bahkan tawa kecil yang menggema dari berbagai arah.
Arga menutup telinganya, tetapi suara itu tetap masuk.
Di kejauhan, ia melihat bayangan lain bergerak di antara pepohonan. Bentuknya tidak jelas—kadang menyerupai manusia, kadang hanya bayangan transparan yang melayang tanpa arah. Inilah yang sering diceritakan warga: penampakan makhluk gaib yang muncul di malam hari, terutama di area yang dekat dengan situs kuno.
Beberapa peneliti menyebut fenomena ini sebagai efek psikologis akibat kelelahan. Namun bagi mereka yang pernah mengalaminya, penjelasan itu terasa terlalu sederhana.
Karena apa yang mereka lihat… terasa nyata.
Dalam kondisi antara sadar dan tidak, Arga tiba-tiba teringat pesan seorang sesepuh yang ia temui sebelum pendakian:
“Gunung itu bukan hanya tanah dan batu. Ia hidup. Dan tidak semua yang hidup ingin kamu lihat.”
Dengan sisa tenaga, Arga memejamkan mata dan berusaha mengatur napas. Ia mencoba memohon—entah kepada siapa—agar diizinkan pergi.
Beberapa saat kemudian, semua suara berhenti.
Ketika ia membuka mata, sosok itu sudah hilang.
Kabut perlahan menipis, dan hutan kembali sunyi seperti semula. Namun sesuatu telah berubah. Udara terasa lebih dingin, dan tanah di sekitarnya tampak seperti baru saja terganggu.
Pagi harinya, Arga turun gunung tanpa banyak bicara. Ia melewati kembali candi-candi kuno, pepohonan, dan jalur yang sama—namun semuanya terasa berbeda. Seolah gunung itu telah memperlihatkan wajah lain yang tidak semua orang bisa lihat.
Gunung Penanggungan memang bukan yang tertinggi di Jawa Timur, terutama jika dibandingkan dengan Gunung Arjuno atau Gunung Welirang. Namun kekuatannya tidak terletak pada ketinggian, melainkan pada lapisan misteri yang menyelimuti setiap sudutnya.
Hingga kini, kisah tentang sosok Putri Ayu Tanding dan penampakan lain masih terus diceritakan. Para praktisi spiritual datang untuk bermeditasi, para peneliti mencoba mencari jawaban, dan para pendaki… sebagian pulang dengan cerita yang tak bisa mereka jelaskan.
Namun bagi mereka yang pernah merasakannya, satu hal menjadi pasti—ada sesuatu di sana yang memperhatikan.
Redaksi Energi Juang News



