Minggu, April 19, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaKisah Ojol Diorder Pocong Arwah Wanita Korban Pembunuhan

Kisah Ojol Diorder Pocong Arwah Wanita Korban Pembunuhan

Energi Juang News, Jakarta– Malam itu suasana kota Malang diselimuti gerimis tipis. Herman, seorang tukang ojek online yang sudah biasa beroperasi hingga larut malam, menerima pesanan dari seorang penumpang bernama Wina. Lokasi penjemputan menunjukkan sebuah titik di sekitar warung Madura yang terletak di tengah kota. Namun saat ia tiba, tak ada satu pun orang yang terlihat di sekitar tempat itu. “Mungkin dia berteduh karena hujan,” pikir Herman sambil menyalakan rokoknya dan menunggu beberapa saat. Tapi tiba-tiba, dari ujung gang yang gelap, ia melihat sosok wanita berbaju putih berdiri membisu.

Wanita itu berjalan perlahan ke arahnya. Tanpa banyak kata, ia hanya mengangguk dan langsung naik ke motor Herman. Arah tujuan ditunjukkan lewat aplikasi: sebuah alamat yang terletak tak jauh dari sebuah kompleks pemakaman tua. Sepanjang perjalanan, wanita itu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Yang terdengar hanya suara lirih seperti tangisan, membuat bulu kuduk Herman berdiri. Anehnya, ia tak merasakan berat tubuh si penumpang di jok belakang, seolah tak ada yang dibonceng sama sekali. Tapi setiap kali melirik lewat spion, wanita itu masih tampak duduk di belakang dengan kepala menunduk.

Setibanya di lokasi tujuan, wanita itu menunjuk ke sebuah gang yang ternyata mengarah ke gerbang makam. Herman merasa aneh tapi mengikuti petunjuknya. Wanita itu turun dan berkata pelan, “Tunggu, saya ambil uang ke rumah dulu.” Ia kemudian berjalan menuju sebuah rumah tua di pinggir makam. Tapi langkahnya terasa aneh, bukan berjalan biasa, melainkan seperti melayang ringan di atas tanah. Herman yang melihatnya merasa janggal, tapi masih berusaha berpikir logis barangkali ia salah lihat karena suasana remang.

Baca juga :  Bayang Raksasa di Oranje Nassau Pengaron

Herman menunggu di atas motornya hingga lima belas menit berlalu. Namun wanita itu tak kunjung keluar. Saat ia hendak memanggil, datang dua pemuda kampung yang bernama Anto dan Kiki. Mereka bertanya, “Mas nunggu siapa di sini?” Dengan santai Herman menjawab, “Tadi ada penumpang perempuan masuk ke rumah ini, belum bayar.” Mendengar jawaban itu, raut wajah Anto dan Kiki langsung berubah serius. “Lho mas, itu rumah udah lama kosong. Gak ada orang tinggal di situ sejak dua tahun lalu.”

Mendengar itu, Herman mendadak merasa seperti ditarik keluar dari logika. Ia menatap rumah itu dengan seksama, dan perlahan perasaannya berubah menjadi cemas. Kiki berkata, “Tadi kami lihat mas ngomong sendiri, kayak lagi ngeladenin orang yang gak kelihatan.” Anto mengangguk dan menunjukkan rekaman ponselnya. Herman awalnya tak percaya dan memaksa mereka menunjukkan videonya. Begitu ditunjukkan, tubuhnya menegang. Dalam rekaman itu, tampak dirinya sedang berbicara sendiri, motornya kosong, tak ada penumpang.

Herman menatap layar ponsel itu dengan keringat dingin mengalir di pelipis. Di akhir rekaman, tampak sekelebat bayangan putih yang berdiri di balik pohon dekat makam. Saat kamera secara tak sengaja menangkap wajah sosok itu, terlihat wajah yang rusak, menghitam, dan penuh darah. Sosok itu mengenakan kain kafan yang kotor, seperti pocong, dengan bekas luka di bagian wajah dan leher. Herman yang melihatnya mulai menjerit tak terkendali, memukul-mukul helmnya sendiri sambil berteriak, “Bukan! Dia manusia! Aku bonceng manusia!” Teriak Herman karena pertempuran logika didalam pikirannya.

Anto dan Kiki mencoba menenangkan Herman yang mulai menunjukkan tanda-tanda seperti kesurupan. Ia marah-marah, mengusir mereka sambil bergumam tak jelas. Tapi keduanya tetap berusaha mendekatinya dengan pelan. “Mas, yang mas bonceng itu pocong. Serius. Itu rumah udah jadi tempat angker,” kata Anto. Kiki menambahkan, “Di sini dulu ada korban pembunuhan perempuan. Mayatnya dibuang dan dimakamkan tanpa kepala. Sampai sekarang masih sering muncul penampakan.” Kata-kata itu menancap dalam benak Herman yang mulai goyah.

Baca juga :  Cerita Mencekam: Teror Gaib dari Rowo Bayu

Setelah beberapa lama bertahan dengan amarah dan penyangkalan, Herman akhirnya terdiam. Ia mulai menyadari bahwa suasana sekeliling sangat asing. Rumah-rumah di sekitarnya tampak kusam dan terbengkalai, dan samar terdengar suara lolongan anjing dari kejauhan. Cahaya lampu jalan yang redup seolah menambah suasana muram tempat itu. Herman menatap makam di dekat rumah tersebut dan matanya menangkap nisan tua dengan nama wanita yang tak asing bernama Wina.

Tangannya bergetar saat menunjuk nisan itu, dan air matanya menetes tak sadar. “Jadi… yang aku bonceng tadi… dia…?” Suaranya nyaris tak terdengar. Kiki menepuk pundaknya pelan, “Iya mas, dia udah lama meninggal. Dan banyak yang ngaku masih sering lihat sosoknya nyetop ojek di sekitar warung Madura.” Herman tertunduk, tubuhnya lemas. Malam itu bukan hanya menjadi malam kerja biasa baginya, tapi malam yang merubah pandangannya tentang dunia yang tak kasat mata bahwa ada batas yang tak selalu terlihat antara yang hidup dan yang mati.

Sejak malam itu, Herman tak pernah lagi mengambil orderan di sekitar warung Madura. Motornya pun jarang terlihat keluar malam. Beberapa warga sempat mengatakan bahwa Herman kerap berbicara sendiri, seperti sedang berdialog dengan penumpang yang tak kasat mata. Kisahnya menyebar dari mulut ke mulut, menjadi bagian dari legenda malam kota Malang. Kisah tukang ojek yang membonceng pocong wanita, sebuah cerita yang akan terus menghantui siapa pun yang mendengarnya.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments