Energi Juang News, Jakarta– Malam di kawasan Jakarta Timur itu terasa berat, seolah udara masih menyimpan panas yang tak kasatmata. Bangunan bekas pusat perbelanjaan berdiri kaku, sunyi, dan gelap, padahal lalu lintas di sekitarnya terus bergerak seperti biasa. Warga yang melintas sering mempercepat langkah tanpa sadar, enggan menoleh terlalu lama. “Kalau lewat sini, dada suka sesak,” ujar seorang ibu penjual gorengan di pinggir jalan. Ia tak tahu persis alasannya, hanya merasa tempat itu berbeda, seperti menyimpan kesedihan yang belum selesai.
Tragedi kebakaran besar pada 15 Mei 1998 menjadi awal dari semua cerita. Kerusuhan yang melanda Jakarta kala itu menjadikan pusat perbelanjaan yang dulu dikenal sebagai Yogya Plaza ini titik neraka di tengah kota. Ratusan orang terjebak di dalam gedung, tak sempat menyelamatkan diri saat api menjalar cepat. Setelah semuanya berakhir, bangunan itu tak hanya menyisakan puing dan duka, tetapi juga kenangan mengerikan yang terus hidup di benak warga sekitar. “Banyak yang nggak bisa keluar,” kata Pak Slamet, warga lama. “Teriakannya masih kebayang sampai sekarang.”
Seiring waktu, Tragedi Horor Mall Klender mulai dikenal bukan hanya sebagai catatan sejarah kelam, tetapi juga sumber kisah mistis. Warga mengaku sering mencium bau aneh, seperti darah dan asap terbakar, meski kejadian itu sudah lama berlalu. “Kadang bau itu datang malam-malam,” ujar seorang pedagang kopi. “Padahal bangunannya kosong.” Aura suram seolah menetap, membuat siapa pun yang tahu ceritanya enggan berlama-lama di sekitar lokasi.
Salah satu kisah yang paling sering diceritakan terjadi pada tahun 2000. Seorang pemuda asal Magelang bersama ayahnya pulang ke kontrakan setelah turun dari Metromini di Kebon Singkong. Karena lelah, mereka duduk di halte depan bangunan bekas mall itu. Tiba-tiba seorang wanita berseragam SPG Yogya Plaza duduk di samping mereka. “Mukanya biasa aja,” kenang pemuda itu. Namun sang ayah mendadak menarik tangannya. “Ayo pergi, sekarang,” bisik ayahnya dengan suara tegang.
Pemuda itu heran dan menoleh ke arah wanita tersebut. Detik itu juga, jantungnya serasa berhenti. Tubuh wanita itu tampak hangus, wajahnya terkelupas, dan bola matanya menonjol keluar. Tanpa berpikir panjang, mereka lari terbirit-birit meninggalkan halte. “Saya masih dengar kayak ada yang nangis,” katanya. Sejak malam itu, ia tak pernah berani melewati tempat tersebut sendirian.
Cerita jeritan dan tangisan juga sering didengar warga malam hari. Beberapa orang mengaku mendengar suara minta tolong dari dalam gedung kosong. “Kayak orang terjebak,” kata Pak Slamet pelan. Suara itu muncul berulang, lalu hilang tiba-tiba, meninggalkan keheningan yang lebih menakutkan. Sebagian warga percaya, suara-suara itu berasal dari arwah korban yang belum menemukan ketenangan.
Kisah mistis lain dialami Bang Ucok, sopir Metromini 506 jurusan Pondok Kopi–Kampung Melayu. Tiga bulan setelah tragedi, ia mengemudi malam hari dan berhenti di kawasan Buaran. Banyak penumpang berseragam pegawai mall naik ke dalam angkotnya. “Saya senang, penuh,” ujarnya. Namun setelah melewati area bekas mall, penumpang-penumpang itu turun satu per satu tanpa suara.
Saat tiba di terminal dan menghitung uang setoran, Bang Ucok terperanjat. Uang yang diterimanya berubah menjadi daun kering. “Saya langsung merinding,” katanya. Cerita serupa juga dialami beberapa sopir lain, memperkuat keyakinan bahwa penumpang misterius itu bukan manusia biasa. Sejak kejadian itu, banyak sopir memilih menghindari jalur tersebut saat malam.
Ada pula kisah tentang Budi, seorang pemuda yang naik angkot dari Buaran menuju Rawamangun. Di tengah perjalanan, seorang penumpang berwajah pucat dengan pakaian seperti terbakar naik dan duduk diam. Tak sepatah kata pun diucapkan hingga angkot melewati area bekas mall. Tiba-tiba, penumpang itu menghilang tanpa membuka pintu. “Saya lihat bangkunya kosong,” kata sopir yang mengantar Budi. “Padahal baru aja ada orang.”
Bagi warga Jakarta Timur, bangunan itu bukan sekadar bekas pusat perbelanjaan. Ia menjadi simbol luka kolektif, tempat sejarah dan kisah gaib bertemu. Ada yang menganggap cerita-cerita ini hanya sugesti, tetapi banyak pula yang percaya karena mengalaminya sendiri. “Kalau nggak percaya, silakan,” ujar Pak Slamet. “Yang penting, hormati tempat ini.”
Hingga kini, Tragedi Horor Mall Klender tetap hidup dalam ingatan dan cerita lisan masyarakat. Api memang telah padam puluhan tahun lalu, tetapi bayang-bayangnya masih terasa di setiap sudut. Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang terus bergerak maju, lokasi ini seolah menjadi pengingat bahwa ada peristiwa yang meninggalkan luka terlalu dalam untuk benar-benar dilupakan, baik oleh manusia maupun oleh mereka yang diyakini masih tertinggal di sana.



