Rabu, Juni 3, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaBatara Karang: Teror Ilmu Gaib yang Menyeramkan

Batara Karang: Teror Ilmu Gaib yang Menyeramkan

Energi Juang News, Madiun– Haryo tiba di kampung kecil di kaki gunung Wilis ketika senja mulai meredup, dan suara jangkrik menggema di antara pepohonan rindang. Di sana Haryo mendengar bisikan warga soal sebuah “cakupan ilmu” yang disebut Batara Karang, sebuah tradisi gaib yang diyakini memberi kekebalan dan umur panjang bagi pemakainya. Meski disebut demikian, aura di kampung itu terasa berat dan mencekam, seolah ada sesuatu yang mengintai dari balik bayang-bayang. Warga setempat pun enggan berbicara banyak, menunduk tiap kali menyebut nama ilmu itu, takut menimbulkan sesuatu yang lebih besar.

Waktu malam tiba, Haryo dibawa oleh seorang tetua kampung bernama Pak Surya menuju sebuah gubuk tua di tepi hutan. “Dulu, orang yang memegang ilmu itu tidak diterima oleh bumi,” katanya sambil menyalakan pelita kuning dan menatap pohon besar di depan gubuk. “Jasadnya akan berkeliaran, ia tidak bisa dikuburkan!”

Begitu memasuki gubuk, udara terasa sangat dingin walau nyala pelita bergoyang-goyang. Di sudut ruangan terlihat patung kayu usang, kain hitam membungkusnya, dan ada bekas sesajen daun sirih serta dupa yang sudah habis. Tiba-tiba terdengar suara lirih di balik jendela, “Kembalilah…” bisik yang memekakkan telinga. Haryo menoleh, tapi hanya siluet pohon yang bergoyang di luar. Pak Surya menggenggam lengan Haryo, matanya membelalak: “Jangan tanggapi suara itu, karena dia … pengguna Batara Karang yang kutukannya masih nyata.”

Warga kampung pernah mengalami kejadian mengerikan: anak kecil hilang selama tiga malam, dan ketika ditemukan ia hanya diam, matanya kosong dan jemarinya merangkak seperti ingin memegang sesuatu yang tak kasat-mata. “Dia merasakan panggilan,” ujar ibu dari anak itu, sambil terisak di depan rumah kayu. Ada yang bahkan mendengar tawa menyedihkan di malam hari, di dekat kuburan tak bertanda, setelah senja lewat. Semua itu dikaitkan dengan pengguna Batara Karang yang tubuh jasadnya tidak bisa istirahat, lalu menjadi arwah gentayangan.

Baca juga :  Tersesat di Kampung Mati Purbalingga

Saat Haryo berjalan ke makam lama di tepi hutan, langit mulai berwarna ungu gelap dan angin membawa aroma khas dupa yang terbakar. Di atas batu nisan rusak Haryo melihat bekas lingkaran hitam entah ritual apa yang dilakukan dulu. Seorang pemuda kampung menunjuk ke arah lingkaran itu sambil bergumam, “Itulah bekas panggilan jin yang dikendalikan melalui Batara Karang.” Tubuh Haryo merinding, seakan sesuatu mengusap belakang kerah baju Haryo. Haryo membeku sejenak, mendengar suara ranting patah di belakang pepohonan.

Kemudian muncul sosok arwah: bayangan manusia tanpa wajah, rambut panjang terurai, berjalan perlahan di antara pepohonan. Cahaya pelita Haryo hampir padam, dan bayangan itu mendekat sambil mengangkat tangan yang tampak merangkak ke arah Haryo. “Pergilah… jangan ganggu kami,” suara sunyi menyelinap di pepohonan. Haryo terduduk, tak berani bergerak. Pak Surya berdiri di samping Haryo, memegang kayu tua dan melantunkan doa-doa. Bayangan itu tersentak, lalu menghilang begitu saja — meninggalkan jejak bekas kaki berlumuran tanah basah di tanah.

Warga mengaku bahwa pengguna Batara Karang, setelah meninggal, memang tidak mendapatkan ketenangan. Ia akan terus berkeliaran sebagai wujud kutukan ilmu hitam yang dikelola jin jahat. Salah satu nenek di kampung dengan suara gemetar berkata, “Dia bukan lagi manusia, tapi boneka jenglot yang hidup, yang dipakai untuk keperluan penglaris dagangan atau menakuti saingannya.” Dalam keheningan malam, Haryo dapat mendengar gesekan rantai halus di lantai bambu rumahnya — padahal tidak ada orang di sana.

Percakapan dengan beberapa tokoh kampung semakin memperkuat kesan menyeramkan: “Ilmu itu memberi kekuatan, tapi tubuhnya tetap manusia,” kata Pak Adi sambil menatap api unggun yang mulai padam. “Tapi kekuatan itu menarik perhatian makhluk lain. Dia bukan hanya kuat di dunia, tapi menjadi beban di alam lain.” Haryo merasakan aura gelap menyelimuti sudut kampung, dan meski banyak yang berkata takut, tetap ada yang tergoda oleh janji umur panjang dan kebal senjata.

Baca juga :  Nandur Demit di Jalur Prameks: Teror Beringin Penunggu Sungai

Di balik janji manis ilmu gaib tersebut, tersimpan risiko luar biasa: tubuh tak diterima oleh bumi, arwah yang tersiksa, dan kehidupan yang berubah menjadi mimpi buruk. Haryo melihat sendiri tanda-tanda di kampung itu: pintu rumah berderit sendiri di malam buta, lampu pelita mati mendadak, sosok kecil menanti di pojok jendela. Warga hanya bisa berdoa dan menjaga jarak dari tempat tempat yang dahulu dipakai ritual Batara Karang. “Kami sudah cukup menderita karena ilmu itu,” ujar seorang ibu dengan nada pasrah.

Ketika Haryo pulang dari kampung itu, dawn breaking, kabut masih menggantung di jalan setapak. Haryo menoleh ke belakang: pepohonan tampak seperti barisan penjaga bisu menatap Haryo. Perasaan lega sekaligus ngeri mengiringi saat kendaraan melaju meninggalkan kampung. Dan satu hal jelas: janji kekuatan cepat atau lambat akan berbuah bayangan dan derita — kisah pengguna Batara Karang yang menolak istirahat tetap menghantui mereka yang tinggal dekat.

Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa setiap keinginan besar memiliki bayangan yang besar pula.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments