Senin, Mei 11, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaTradisi Toraja Dilecehkan, Bukti Tak Paham Relativisme Kebudayaan

Tradisi Toraja Dilecehkan, Bukti Tak Paham Relativisme Kebudayaan

Oleh Hiski Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)

Pernyataan komika Pandji Pragiwaksono yang menyinggung adat istiadat masyarakat Toraja, khususnya upacara adat kematian Rambu Solo’, menuai polemik publik.

Potongan video Pandji yang kini viral di berbagai platform media sosial, menunjukkan dirinya membawakan materi komedi yang menyatakan bahwa masyarakat Toraja kerap menggelar pesta pemakaman yang mahal. Karena itu,  sebagian warga jatuh miskin.

Pernyataan itu dinilai masyarakat adat Toraja melecehkan nilai budaya dan kearifan lokal yang selama ini mereka junjung tinggi. Sang komika juga dianggap  berbicara tanpa memahami konteks budaya dan filosofi yang melatarbelakangi tradisi Rambu Solo.

Tepatnya, Pandji perlu memahami relativisme kebudayaan. Gagasan ini pertama kali dicetuskan oleh Franz Boas, seorang antropolog Jerman-Amerika.

Relativisme kebudayaan adalah prinsip bahwa nilai-nilai, praktik, dan keyakinan suatu budaya harus dipahami dan dinilai dalam konteks kebudayaan itu sendiri. Bukan dari sudut pandang kebudayaan lain.

Jadi dalam realitanya, relativisme kebudayaan mendorong orang untuk mencoba memahami alasan di balik suatu tradisi, alih-alih menghakiminya.

Nah, apa yang dinyatakan Pandji dalam video lamanya itu menunjukkan bahwa yang bersangkutan menghakimi kebudayaan orang atau suku lain.

Padahal yang semestinya dilakukan, adalah memahami kebudayaan orang lain dalam kerangka berpikir para pendukung kebudayaan itu sendiri. Bukan dari sudut pandang diri sendiri, sebagai pendukung kebudayaan yang berbeda.

Bagi masyarakat Toraja, upacara Rambu Solo’ merupakan tradisi yang mencerminkan penghormatan tertinggi kepada leluhur dan anggota keluarga yang telah wafat.
Tradisi ini bukan sekadar pesta apalagi foya-foya,  melainkan simbol penghormatan dan cinta terhadap perjalanan hidup seseorang.

Maka sebaiknya, kita tak buru-buru menghakimi apalagi melecehkan kebudayaan orang lain. Karena apa yang menurut kita tak baik, belum tentu demikian menurut orang lain.

Baca juga :  Pagar Laut Cilincing: Ketika Ruang Hidup Nelayan Dirampas Korporasi

Redaksi Energi Juang News

Hizkia Darmayana
Hizkia Darmayanahttps://energijuangnews.com/
Hidup Hanya Sekali, Maka Buatlah Berarti. Pimpinan Redaksi dari EnergiJuangNews.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments

High pressure hydraulic lifting equipment pada Dilema Gen Z: Antara Ambisi Jakarta Kota Global dan Realitas PHK Massal
Offshore heavy lifting hydraulic system pada Selat Hormuz Memanas, Iran Balas Serangan AS
Hydraulic jacks exporter from India pada Sampah MBG di Bandung Diperkirakan Capai 60 Ton