Oleh Hiski Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)
Pernyataan komika Pandji Pragiwaksono yang menyinggung adat istiadat masyarakat Toraja, khususnya upacara adat kematian Rambu Solo’, menuai polemik publik.
Potongan video Pandji yang kini viral di berbagai platform media sosial, menunjukkan dirinya membawakan materi komedi yang menyatakan bahwa masyarakat Toraja kerap menggelar pesta pemakaman yang mahal. Karena itu, sebagian warga jatuh miskin.
Pernyataan itu dinilai masyarakat adat Toraja melecehkan nilai budaya dan kearifan lokal yang selama ini mereka junjung tinggi. Sang komika juga dianggap berbicara tanpa memahami konteks budaya dan filosofi yang melatarbelakangi tradisi Rambu Solo.
Tepatnya, Pandji perlu memahami relativisme kebudayaan. Gagasan ini pertama kali dicetuskan oleh Franz Boas, seorang antropolog Jerman-Amerika.
Relativisme kebudayaan adalah prinsip bahwa nilai-nilai, praktik, dan keyakinan suatu budaya harus dipahami dan dinilai dalam konteks kebudayaan itu sendiri. Bukan dari sudut pandang kebudayaan lain.
Jadi dalam realitanya, relativisme kebudayaan mendorong orang untuk mencoba memahami alasan di balik suatu tradisi, alih-alih menghakiminya.
Nah, apa yang dinyatakan Pandji dalam video lamanya itu menunjukkan bahwa yang bersangkutan menghakimi kebudayaan orang atau suku lain.
Padahal yang semestinya dilakukan, adalah memahami kebudayaan orang lain dalam kerangka berpikir para pendukung kebudayaan itu sendiri. Bukan dari sudut pandang diri sendiri, sebagai pendukung kebudayaan yang berbeda.
Bagi masyarakat Toraja, upacara Rambu Solo’ merupakan tradisi yang mencerminkan penghormatan tertinggi kepada leluhur dan anggota keluarga yang telah wafat.
Tradisi ini bukan sekadar pesta apalagi foya-foya, melainkan simbol penghormatan dan cinta terhadap perjalanan hidup seseorang.
Maka sebaiknya, kita tak buru-buru menghakimi apalagi melecehkan kebudayaan orang lain. Karena apa yang menurut kita tak baik, belum tentu demikian menurut orang lain.
Redaksi Energi Juang News



