Energi Juang News, Jakarta–Setiap daerah di Indonesia memiliki istilah tersendiri untuk menyebut makhluk gaib, tak terkecuali di Tulungagung. Di wilayah ini, istilah “demit” digunakan untuk menggambarkan sosok hantu, sebagaimana yang juga lazim digunakan dalam budaya Jawa. Namun, tidak semua demit memiliki bentuk yang sama. Salah satu yang cukup dikenal oleh masyarakat Tulungagung adalah Thongthong Sot.
Thongthong Sot digambarkan sebagai makhluk menyeramkan dengan tubuh menyerupai manusia, namun memiliki kepala hewan. Keberadaannya dipercaya berkaitan erat dengan mereka yang memiliki kekuasaan, namun menyalahgunakannya. Sosok ini diyakini akan mengganggu para pejabat yang tidak jujur dan berhati kotor.
Gangguannya pun tak main-main. Jika seorang pejabat yang korup bekerja hingga larut malam di kantornya, ia mungkin akan merasakan kursinya tiba-tiba bergoyang sendiri, bahkan ditusuk oleh benda tajam tak kasat mata yang membuatnya kesakitan. Fenomena ini menjadi bentuk simbolik dari peringatan moral bagi para pemegang kekuasaan.
Menariknya, Thongthong Sot tidak hanya muncul saat malam hari. Makhluk ini diyakini bisa muncul kapan saja, tergantung situasi dan kondisi.
Di sisi lain, nama Thongthong Sot juga digunakan oleh para orang tua di Tulungagung sebagai alat untuk menakuti anak-anak agar tidak bermain di tempat-tempat berbahaya. Misalnya, area kosong, semak belukar, sungai, atau bangunan tua yang dianggap berisiko. Dengan menyebut-nyebut nama Thongthong Sot, anak-anak menjadi enggan mendekati tempat-tempat tersebut, karena merasa sosok itu benar-benar ada dan mengawasi.
Karena sering disebut dalam percakapan sehari-hari, gambaran hantu Thongthong Sot akhirnya tertanam kuat dalam imajinasi anak-anak. Sosok ini menjadi bagian dari budaya lisan yang berkembang turun-temurun sebagai peringatan akan bahaya, baik bagi anak-anak maupun bagi orang dewasa yang menyimpang dari moral.
Redaksi Energi Juang



