Selasa, Mei 26, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaHantu Pohon Pisang Menggugah Kenangan Kecil Pemuda Desa

Hantu Pohon Pisang Menggugah Kenangan Kecil Pemuda Desa

Energi Juang News, Jakarta– Dahulu saat anak anak kecil hujan turun perlahan, hanya rintik-rintik kecil yang terdengar jatuh menyentuh daun-daun dan tanah basah. Aku, Ade, dan Bri baru saja selesai mengaji di langgar ujung desa. Kami masih kecil saat itu, usia belum genap sepuluh tahun. Kegembiraan mengiringi langkah kaki kami karena hanya dalam hitungan hari, kami akan mulai belajar membaca Al-Qur’an. Jalanan setapak yang biasa kami lalui memang harus melewati kebun pisang milik Pak Lurah, tapi kami tak pernah benar-benar takut. Sampai malam itu.

Entah dari mana asalnya, angin kencang tiba-tiba berhembus mematahkan suasana tenang. Daun-daun pisang bergerak liar seakan ada sesuatu yang sedang bermain di antara batangnya. Cahaya bulan malam itu memang samar-samar, tapi cukup untuk menimbulkan bayangan aneh dari pohon-pohon pisang yang tinggi menjulang. Suasana yang awalnya biasa menjadi sangat tidak nyaman. Ade yang paling depan langsung berhenti berjalan. Bri yang di belakangnya ikut membeku. “Bayangan itu gerak sendiri,” bisik Bri lirih. Aku hanya mengangguk pelan, bulu kudukku meremang.

Tanpa aba-aba, Ade dan Bri langsung berteriak, “Hantuuuuu!” lalu lari sekencang mungkin. Aku ikut panik dan tanpa pikir panjang, ikut berlari menyusul mereka. Sekitar lima puluh meter berlari dalam gelap, Ade terpeleset dan jatuh. Bri yang menginjak sarung sendiri pun terguling, dan aku pun menghantam mereka dari belakang. Kami terjerembab di lorong jalan, pakaian kotor, lutut berdarah, tapi yang lebih menyiksa adalah rasa takut yang merambat dari ujung kaki hingga kepala.

Sesampainya di rumah, aku menceritakan kejadian itu pada Emak. Tapi bukannya panik atau khawatir, Emak hanya tertawa kecil lalu berkata dengan suara pelan namun tegas, “Manusia kok takut sama hantu. Kalau kau beriman, justru hantu yang takut sama kau.” Ia lalu mencarikan baju ganti dan mengusap rambutku dengan penuh kasih. Tapi kata-kata Emak itu menancap di ingatan. Sejak malam itu, kami tak lagi melewati kebun pisang jika hari mulai gelap.

Baca juga :  Pantai Parangkusumo Portal Gaib Kerajaan Nyi Roro Kidul

Kenangan masa kecil itu seolah hidup kembali beberapa tahun kemudian. Kejadian menyeramkan terjadi lagi, tepat di kebun pisang yang sama, malam ketika warga desa pulang dari acara hiburan di rumah Pak Lurah. Tidak banyak yang tahu bahwa malam itu, sosok yang sudah lama tidak terdengar kembali muncul. Konon, kata orang tua, arwah penasaran dari seseorang yang meninggal tak wajar di kebun itu masih menghuni di antara pohon-pohon pisang yang rindang. Sosok itu dipercaya sebagai hantu pohon pisang.

Adi dan Warni, pasangan muda dari RT sebelah, adalah dua orang yang mengalami langsung gangguan tersebut. Saat acara di rumah Pak Lurah usai, hujan rintik-rintik mulai turun. Mereka memutuskan pulang melewati kebun pisang karena lebih dekat. Tapi suasana terasa sangat berbeda. Tak ada suara jangkrik, tak ada binatang lain. Hanya suara hujan dan desiran angin yang membuat malam itu seolah menutup diri. Langkah mereka pelan karena jalanan licin, tapi justru itulah yang membuat mereka mendengar suara yang sangat ganjil.

“Ada yang denger suara anak ayam?” tanya Warni dengan suara gemetar. Adi mengangguk, matanya menatap sekeliling. Suara itu makin lama makin keras, seperti anak ayam mencari induknya. Tiba-tiba, dari kejauhan, mereka melihat sosok tinggi dan kurus berdiri kaku di antara batang pisang. Sosok itu mengenakan kain putih yang lusuh dan tampak seolah membusuk. Cahaya bulan yang mulai terang memperlihatkan detail wajahnya—atau lebih tepatnya, ketidakwujudan wajah itu. Wajahnya rusak, tak berbentuk, dengan bola mata yang sudah tidak ada di tempatnya.

Mereka mencoba mendekat, tapi setiap langkah mereka, sosok itu bergerak menjauh. Namun saat mereka ingin berbalik karena tak tahan dengan rasa takut, sosok itu tiba-tiba muncul tepat di belakang mereka. Warni sempat menjerit, dan Adi refleks menarik tangannya. Keduanya gemetar melihat wajah hantu itu dari dekat—lubang kosong di matanya seakan menarik siapa pun yang menatapnya. Hantu pocong kebun pisang itu tak hanya menyeramkan secara rupa, tapi juga membuat tubuh terasa berat dan sulit digerakkan.

Baca juga :  Cerita Mencekam: Teror Gaib dari Rowo Bayu

Mereka mencoba lari sekuat tenaga. Tapi jalan yang licin membuat mereka beberapa kali terpeleset. Nafas mereka tinggal separuh, dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Keesokan paginya, warga menemukan mereka terjepit di antara dua pohon pisang besar. Warni masih pingsan, sedangkan Adi hanya bisa meracau tak jelas, menyebut-nyebut “mata… matanya kosong… dia di belakang kami.” Sejak kejadian itu, warga sepakat menutup jalur pintas itu dan memasang sesajen agar arwah itu tidak kembali muncul.

“Ini bukan pertama kali kebun pisang itu dihuni yang begitu,” ujar Pak Min, salah satu warga tua yang tinggal dekat kebun. “Dulu ada anak kecil hilang di situ. Ketemunya tiga hari kemudian, tapi dia udah nggak waras. Katanya ada yang panggil-panggil dia dari balik batang pisang.” Cerita itu beredar dari mulut ke mulut dan menjadi bagian dari mitos desa. Tapi kini, dengan kejadian yang menimpa Adi dan Warni, cerita lama itu tak lagi dianggap mitos. Sosok itu nyata, dan ia masih menghuni pohon-pohon pisang di ujung desa.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments