Energi Juang News, Depok– Siang hari di kawasan kampus Universitas Indonesia selalu tampak ramah. Danau Mahoni memantulkan cahaya matahari seperti cermin tenang, sementara dedaunan rindang bergoyang perlahan diterpa angin. Mahasiswa lalu lalang tanpa rasa khawatir, beberapa berhenti untuk berfoto, sebagian lain duduk santai sambil berbincang ringan. Tidak ada yang tampak ganjil di tempat itu. Namun, saat matahari tenggelam dan udara mulai dingin, suasana berubah drastis. Ketika kabut perlahan turun dan lampu-lampu mulai meredup, tempat yang sama seolah menyingkap wajah aslinya, sebuah sisi gelap yang selama ini hanya berani dibicarakan dengan suara pelan.
Jembatan berwarna merah dengan detil kuning itu dikenal dengan nama Jembatan Texas, singkatan dari Teknik dan Sastra, dua fakultas yang dihubungkannya melintasi Danau Mahoni. Sejak diresmikan pada tahun 2007, jembatan ini menjadi jalan pintas favorit mahasiswa. Siang hari ia tampak cantik dan romantis, bahkan sering dijadikan latar foto. Namun malam hari, jembatan itu seolah menjadi batas antara dunia nyata dan sesuatu yang tak kasatmata. “Kalau bisa, jangan pernah lewat sini sendirian setelah jam sepuluh,” bisik seorang mahasiswa senior kepada juniornya sambil menatap lurus ke arah danau yang gelap.
Cerita demi cerita mulai beredar dari mulut ke mulut, diwariskan seperti rahasia terlarang. Seorang penjaga malam fakultas pernah berkata dengan nada serius, “Saya sudah kerja di sini belasan tahun. Banyak yang tidak percaya, tapi saya melihat sendiri.” Ia mengaku pernah mendengar suara tawa perempuan dari arah jembatan, padahal tidak ada seorang pun di sana. Tawanya lirih namun menusuk, seolah berasal dari tenggorokan yang menahan tangis. Saat penjaga itu mencoba mendekat, udara mendadak terasa berat, dan langkahnya seperti ditahan oleh sesuatu yang tak terlihat.
Kisah paling sering dibicarakan berkaitan dengan penampakan sosok perempuan yang menggantung terbalik di tengah jembatan. Mahasiswa yang mengaku melihatnya selalu menggambarkan hal yang sama: wajah pucat membiru, mata menghitam, dan lebam di sekitar pipi serta rahang. “Mukanya dekat sekali dengan saya,” ujar seorang mahasiswi dengan suara gemetar. “Rambutnya panjang, basah, dan meneteskan air seperti habis dari danau.” Ketika ia menoleh kembali, sosok itu menghilang, menyisakan bau amis dan rasa dingin yang menempel lama di kulit.
Menurut cerita yang beredar, sosok tersebut adalah arwah seorang perempuan yang ditemukan meninggal di dekat Danau Mahoni. Konon ia hamil di luar nikah dan mengakhiri hidupnya sendiri karena tak sanggup menanggung malu. Tragedi itu tak pernah benar-benar dibicarakan secara resmi, namun jejaknya hidup dalam ingatan kolektif mahasiswa. “Kasihan, tapi juga menyeramkan,” kata seorang mahasiswa Sastra sambil mengencangkan jaketnya. “Katanya dia sering muncul mencari seseorang, entah kekasihnya atau anak yang tak sempat lahir.”
Malam semakin larut, dan kabut menebal hingga jarak pandang hanya beberapa meter. Lampu jembatan yang minim membuat bayangan pepohonan tampak seperti sosok-sosok yang bergerak perlahan. Setiap langkah di atas jembatan terdengar menggema, seolah ada langkah lain yang mengikuti. “Kamu dengar itu?” tanya seorang mahasiswa Teknik kepada temannya. “Seperti ada yang ikut jalan di belakang kita.” Temannya tak menjawab, hanya mempercepat langkah sambil menahan napas.
Tak sedikit pasangan mahasiswa yang justru memilih jembatan ini sebagai tempat berbagi kisah cinta. Ironisnya, cerita romantis itu sering berujung pada pengalaman ganjil. Ada yang mengaku melihat bayangan berdiri di antara mereka saat berpelukan. Ada pula yang mendengar suara perempuan berbisik, “Pulanglah…” tepat di telinga. “Sejak malam itu, pacarku nggak mau lagi ke sini,” ujar seorang alumni. “Katanya, jembatan ini tidak suka melihat kebahagiaan orang lain.”
Beberapa warga kampus percaya bahwa arwah di tempat itu terikat oleh rasa sakit dan penyesalan. Danau yang tenang di siang hari diyakini menyimpan energi kelam yang bangkit saat malam. Penjaga kampus sering menemukan bekas tapak kaki basah di tengah jembatan menjelang subuh. “Padahal nggak hujan,” kata salah satu dari mereka. Bekas itu berhenti mendadak, seolah pemiliknya lenyap begitu saja.
Kengerian semakin terasa ketika seorang mahasiswa baru nekat melintasi jembatan sendirian tengah malam. Keesokan harinya ia ditemukan pucat dan demam tinggi. Dalam kondisi setengah sadar, ia terus mengulang satu kalimat, “Dia tertawa… sambil terbalik.” Teman-temannya yakin ia telah melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihat. Sejak kejadian itu, peringatan tak tertulis semakin dipercaya: jangan pernah menantang malam di sekitar jembatan.
Kini, Kisah Jembatan Texas UI terus hidup sebagai urban legend paling terkenal di Depok. Ia menjadi pengingat bahwa tempat seindah apa pun bisa menyimpan luka dan teror yang tak kasatmata. Di siang hari, jembatan itu tetap berdiri anggun, menghubungkan ilmu dan cerita. Namun saat malam datang, ia berubah menjadi saksi bisu jerit yang tak pernah benar-benar pergi, menunggu siapa pun yang cukup berani—or cukup ceroboh—untuk melintasinya sendirian.



