Energi Juang News- Hari menjelang Maghrib saat Roni seorang mahasiswa Malang menjejakkan kaki di kawasan hutan pinus Coban Talun, Batu. Kabut turun perlahan, pucuk-pucuk pinus yang berdiri kokoh. Pandangan mulai tertutup putihnya kabut yang menggantung rendah. Meski udara dingin mulai menusuk kulit, Roni tetap bertahan. Kamera ia arahkan ke bentangan hutan yang begitu memukau, mencoba mengabadikan momen sebelum gelap sempurna mengambil alih. Namun, keindahan itu tiba-tiba terasa suram ketika seorang bapak paruh baya menyapa di jalan setapak. Ia membawa cangkul dan tampak baru pulang dari kebun. Dengan serius, ia mengingatkannya agar berhati-hati. “Coban Talun bukan tempat biasa Mas. Banyak cerita mistis di sini, apalagi malam,” katanya perlahan, seperti berbisik kepada angin.
Roni tentu penasaran. Tapi bapak itu hanya mengangguk pelan saat ia bertanya lebih jauh. “Dulu, ada tiga anak Pramuka meninggal tertimpa pohon di situ, tahun 2006,” lanjutnya. Nada suaranya berat, seperti mengandung beban masa lalu. Roni hanya bisa mengangguk. Saat malam tiba, kegiatan perkemahan dimulai dengan api unggun yang dikelilingi anak-anak berseragam Pramuka. Mereka bernyanyi dan menampilkan seni yang telah mereka latih. Canda tawa memecah sunyi hutan. Tapi tak satu pun dari kami menyadari bahwa malam itu akan berubah menjadi malam yang tidak bisa kami lupakan.
Sekitar pukul sembilan malam, Roni dan dua guru lainnya meninggalkan lokasi api unggun. Mereka merasa yakin anak-anak aman bersama panitia kakak kelas yang mendampingi. Namun, belum sampai sepuluh menit kami beristirahat di tenda guru, suara langkah tergesa-gesa mengagetkan mereka. Seorang siswi datang dengan napas memburu. “Pak Edy, ada anak yang kesurupan!” teriaknya panik. Roni langsung keluar dan melihat suasana di sekitar api unggun berubah mencekam. Khanif, salah satu siswa, tampak berdiri kaku dengan mata melotot. Tangannya bergerak aneh, menendang-nendang ke arah api seolah melawan sesuatu yang tidak terlihat. Tatapannya kosong, namun tubuhnya seolah digerakkan oleh kekuatan yang bukan miliknya.
Roni bersama guru lain segera membacakan doa dan ayat-ayat suci. Suasana semakin mencekam ketika beberapa siswa mulai menangis ketakutan. Khanif sesekali mengeluarkan suara yang bukan suaranya sendiri, parau dan dalam. Seorang siswa pemberani merangkul tubuhnya dan membawanya menjauh dari api unggun. Dalam beberapa menit, tubuh Khanif lunglai, napasnya kembali normal, dan kesadarannya mulai pulih. Mereka memutuskan untuk memadamkan api unggun dan menyuruh seluruh peserta kemah kembali ke tenda. Malam terasa lebih gelap dari biasanya. Ketegangan belum usai ketika sekitar tengah malam, genset mendadak mati. Gelap total menyelimuti seluruh area kemah. Suasana menjadi lebih mencekam karena semua penerangan lenyap. Menambah keleluasaan suara suara aneh bermunculan. Suara seperti orang tersiksa menjelang ajal, bahkan suara erangan tangis bercampur suara tenggorokan seperti terpotong, mengerikan. Sampai menjelang pagi mereka bisa tidur karena kelelahan.
Tak hanya itu, keesokan harinya, mereka dikejutkan oleh kabar hilangnya empat ponsel dan sejumlah uang dari tenda panitia. Semua barang tersebut sebelumnya disimpan rapi di dalam tas dan tak ada tanda-tanda pencurian biasa. “Kami bergiliran jaga, Pak, tapi semalam memang terasa aneh. Udara tiba-tiba dingin sekali,” ujar salah satu panitia. Sejumlah guru mencoba mencari tahu, tapi tidak ditemukan jejak siapa pun yang keluar masuk tenda malam itu. Kejadian tersebut menambah deret keanehan yang mereka alami. Entah apa yang benar-benar terjadi, tapi mereka semua sepakat ada sesuatu yang tidak terlihat telah ikut hadir malam itu.
Beberapa hari setelah perkemahan, rasa penasaran Roni semakin besar. Ia memutuskan untuk berbicara langsung dengan Khanif, siswa yang kesurupan. Dalam perbincangan di ruang OSIS, ia menjelaskan bahwa sejak awal dirinya merasa tidak nyaman saat memasuki area hutan. “Seperti diawasi, Pak. Dari balik pohon-pohon itu, saya merasa ada yang memperhatikan kami,” katanya. Ia juga mengaku mencium bau anyir yang sangat menyengat saat tenda baru saja didirikan. Menurut Khanif, tempat itu bukan sekadar hutan biasa, melainkan lokasi dibuangnya jasad para korban tragedi Gerakan 30 September.
Dengan suara pelan, Khanif melanjutkan ceritanya. “Saya melihat potongan tubuh berserakan, Pak. Kepala, tangan, kaki, seperti dibuang begitu saja,” ucapnya. Roni terdiam. Cerita itu bukan sekadar isapan jempol karena beberapa warga pun pernah membenarkan adanya peristiwa kelam di kawasan itu. Dulu, hutan Coban Talun memang dipercaya sebagai lokasi eksekusi gelap dan pembuangan jenazah tanpa identitas. Sosok-sosok makhluk halus yang menghuni tempat ini diyakini sebagai arwah penasaran dari mereka yang tewas tanpa keadilan. Tidak diterima bumi dan langit, mereka berkeliaran dalam bentuk-bentuk yang tak bisa dijelaskan.
Roni kembali menemui warga sekitar. Seorang kakek bernama Pak Min mengaku pernah melihat sosok perempuan berambut panjang duduk di atas pohon pinus. “Dia menangis tiap malam, Mas. Suaranya seperti dari alam lain. Kadang-kadang juga ada suara jeritan minta tolong dari dalam tanah,” katanya lirih. Menurut Pak Min, perempuan itu diyakini sebagai salah satu korban yang diperkosa dan dibunuh sebelum mayatnya dibuang. Roni merinding mendengarnya. Sosok yang dia ceritakan muncul dalam wujud yang sangat menyeramkan dengan wajahnya pucat, matanya kosong, dan tubuhnya sering terlihat separuh mengambang di antara kabut. Benar benar suasana yang membuat bulukuduk berdiri meremang.
Kini, cerita mistis Coban Talun bukan lagi sekadar mitos bagi Roni. Dua malam itu telah menjadi saksi betapa tempat ini menyimpan luka sejarah yang belum pulih sepenuhnya. Ada energi yang tidak bisa dijelaskan dengan akal. Dari kesurupan hingga kejadian kehilangan yang tak masuk logika, semua seperti menyuarakan protes dari dimensi lain. Bahwa tempat dengan sejarah kelam harus dihormati, bukan ditertawakan atau diremehkan. Kita tidak pernah tahu, mungkin mereka hanya ingin dikenang, atau sekadar minta didoakan. Alasannya bagi mereka yang mati tak wajar, dunia ini belum selesai.
Redaksi Energi Juang News



