Energi Juang News, Sumedang – Langit malam di jalur tua antara Cirebon Purwakarta itu selalu terasa berbeda. Udara lebih dingin, angin berdesir seperti membawa bisikan panjang yang tak pernah selesai. Jalan lurus yang membelah hutan dan bukit itu tampak biasa di siang hari, namun berubah menjadi lorong gelap penuh teka-teki saat malam tiba, Misteri Hantu Jalan Daendels.
Jalur ini dulunya dikenal sebagai Grote Postweg, dibangun pada masa pemerintahan Herman Willem Daendels atas perintah Napoleon Bonaparte. Proyek sepanjang Anyer hingga Panarukan itu memang menjadi simbol kekuatan kolonial—tetapi juga meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Di balik aspal yang kini dilalui kendaraan modern, tersimpan cerita yang tak tercatat dalam buku sejarah resmi.
“Kalau lewat sana malam Jumat Kliwon, jangan berhenti,” kata Pak Darsa, seorang warga tua di daerah Cadas Pangeran. “Banyak yang lihat… tapi bukan manusia.”lanjutnya.
Menurut cerita Pak Darsa, beberapa pengendara sering mengalami kejadian aneh saat melintas di jalur tersebut.
“Motor bisa mati sendiri. Padahal bensin penuh. Terus… tiba-tiba ada sosok hitam lusuh namun dingin yang berdiri di pinggir jalan. Kalau orang, pasti bergerak. Ini diam. Kadang hilang begitu saja.” Menurut PAk Darsa ini pertanda akan adanya korban kecelakaan yang berujung hilangnya nyawa seseorang.
Sejarah mencatat bahwa ribuan pekerja pribumi dipaksa membangun jalan ini dalam waktu singkat. Banyak yang meninggal karena kelelahan, penyakit, atau kelaparan. Namun, masyarakat percaya ada sesuatu yang lebih gelap dari sekadar tragedi manusia.
“Penyebab kecelakaan bukan karena kondisi capek sang supir, tapi rata rata korban merasa ada yang mengajak masuk kedalam hutan dan kemudian “Diambil atau Tumbal istilahnya”,” kata Mang Ujang, sopir truk yang sudah puluhan tahun melewati jalur ini.
Konon, ada cerita bahwa Daendels membuat perjanjian gaib agar proyek tersebut selesai tepat waktu. Nyawa manusia menjadi tumbal yang tak bisa dihindari.
Mitos ini mungkin sulit dibuktikan, tapi cerita-cerita yang beredar terasa terlalu konsisten untuk diabaikan begitu saja.
Di beberapa titik bekas pos penjagaan tua, warga sering melihat sosok perempuan berbaju merah atau entah itu berlumuran darah dan asing.
“Dia pakai baju putih bercak merah darah, rambut pirang panjang,” ujar Ibu Sari, pemilik warung kecil di pinggir jalan.
Ia berjalan seolah melayang dan seperti mencari seseorang.”
Menurut legenda, ia adalah seorang nonik Belanda yang menunggu kekasihnya—seorang serdadu yang tewas di jalan itu.
Sebagian orang menganggap semua ini hanya efek psikologis—kelelahan, sugesti, atau kondisi jalan yang memang berbahaya. Namun bagi warga setempat, cerita-cerita ini bukan sekadar mitos.
“Kalau cuma satu dua orang, mungkin bohong,” kata Pak Darsa.
“Tapi ini sudah puluhan tahun. Banyak yang ngalamin. Dan kita mendapat cerita dari korban selamat”
Ia yang sudah renta menatap jalan yang mulai diselimuti kabut, dan sontak aura yang membuat bulu kuduk berdiri mendatangi.
“Sosok tak tampak tapi kadang… kita harus percaya, ada yang hidup berdampingan dengan kita.”
Redaksi Energi Juang News



