Energi Juang News, Tulungagung– Suasana sore di sebuah desa kecil dekat Tulungagung terasa begitu sunyi, seolah angin menahan napas ketika seorang wanita pendatang terlihat berjalan dengan langkah gontai menuju rumah kerabatnya. Warga sekitar hanya bisa saling pandang, merasa ada beban berat yang dibawa wanita itu. “Mbakyu, kamu kok murung?” tanya seorang ibu yang berpapasan dengannya. Wanita itu hanya tersenyum hambar, seakan menyembunyikan luka yang tak mampu terucap. Tak ada yang tahu bahwa langkahnya segera membawanya pada pengalaman paling gelap yang pernah dialami manusia.
Wanita itu adalah Wiwin, penyanyi dangdut dari Bandung yang dulunya hidup dalam gemerlap panggung. Ia datang dengan hati remuk setelah hubungan terlarangnya dengan seorang pria bernama Agung terbongkar dan menghancurkan reputasinya. Warga desa melihatnya sering duduk termenung di teras rumah kerabatnya. “Cerita saja, siapa tau ada kelegaan setelah kamu cerita,” ujar seorang tetangga tua mencoba menghibur. Namun Wiwin tetap bungkam, seolah masa lalunya masih mengejar dari balik bayang-bayang.
Saat keputusasaan menelannya, seorang warga menyarankan jalan yang dipercaya bisa membuka keberuntungan dengan cepat. “Ada ritual pesugihan, tapi tak semua orang berani,” bisik seorang bapak dengan nada ragu. Wiwin semula menolak, tetapi pikirannya yang kacau membuatnya mempertimbangkan hal yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Malam itu, ia mendengar suara gamelan lirih dari kejauhan, seperti pertanda bahwa sesuatu tengah memanggilnya dari dunia lain.
Pada malam berikutnya, Wiwin dibawa ke rumah seorang dukun bernama Mbah Bejo oleh seorang warga. Rumah itu dipenuhi asap kemenyan yang pekat, membuat udara terasa berat dan lembab. “Masuk nak. Kalo sudah sampai sini, jiwamu harus siap,” kata Mbah Bejo dengan suara parau. Wiwin menggigit bibir, mencoba menyembunyikan getar ketakutan yang merayap di tengkuknya. Warga yang mengantar hanya berbisik, “Teteh hati hati, jangan salah langkah.”
Ketika ritual dimulai, Wiwin dikejutkan oleh kabut tebal yang muncul tiba-tiba dari balik ruangan. Suara gamelan yang entah dari mana asalnya berdentang pelan namun menyesakkan. Dari balik kabut itu, sosok perempuan cantik berbusana kemben hijau dengan selendang emas melayang keluar. Kulitnya pucat, matanya memancarkan cahaya kehijauan, dan langkahnya seperti tidak menyentuh tanah. Warga yang ikut menyaksikan langsung memalingkan wajah. “Astaghfirullah… ini beneran ya, Bu?” bisik seorang lelaki gemetar.
Sosok itu menatap Wiwin tanpa kedip, tatapannya memancarkan kuasa yang tak bisa dilawan. “Kamu kesini sudah niat ingin kembali kaya. Tapi semua ada yang harus ditumbalkan,” suara sosok tersebut terdengar bergema, tidak seperti suara manusia. Wiwin merasakan dadanya sesak, tetapi ia tak mampu bergerak. Mbah Bejo kemudian berkata pelan, “Ini Nyai Roro Kembang Sore. Apa yang diucapkan harus dilakukan ya.” Wiwin menelan ludah, belum menyadari bahwa syarat itu jauh lebih mengerikan dari dugaan apa pun.
Saat syarat itu diucapkan bahwa ia harus melakukan hubungan intim dengan pria asing di hadapan sang dukun dan sosok gaib dan Wiwin hampir mundur. Namun pikirannya yang telah digerogoti ambisi membuatnya tetap tinggal. “Teteh kalo engga yakin mundur saja,” bisik salah satu warga yang berjaga dekat pintu. Tetapi Wiwin hanya menggeleng dengan mata merah. Ritual itu pun berlangsung, sementara sosok Nyai Roro Kembang Sore berdiri mengawasi, senyumnya tipis seperti menikmati penderitaan manusia.
Setelah ritual selesai, Wiwin diberikan air khusus oleh sang kuncen untuk membersihkan diri. Air itu dingin seperti es, namun ketika menyentuh kulitnya terasa seperti menyengat tulang. Beberapa warga yang mengetahui ritual itu hanya bisa saling pandang cemas. “Jangan langsung mandi, nanti ada tanda tanda tak biasa,” ujar seorang ibu. Wiwin mengabaikannya. Ia tak tahu bahwa apa yang terjadi setelah itu akan mengubah hidupnya selamanya.
Saat mandi dengan air tersebut, tubuh Wiwin tiba-tiba bergetar halus dan perutnya terasa seperti diremas dari dalam. Tanpa rasa sakit, sesuatu keluar dari tubuhnya dan janin yang bahkan tak ia sadari keberadaannya. Wiwin menjerit, membuat warga yang mendengar dari kejauhan berlari. “Ya Allah, Apa yang terjadi dengan mbak Wiwin ini?” teriak seorang bapak panik. Namun ketika mereka tiba, Wiwin justru berdiri terpaku, wajahnya pucat seperti mayat.
Ketika ia kembali ke kamar, ia melihat bayangan Nyai Roro Kembang Sore berdiri di sudut ruangan, tersenyum dengan mata yang bersinar hijau. Suara lirih masuk ke telinganya: “Kekayaan sudah kau dapat, dan sebentar lagi penderitaan muncul juga.” Sejak hari itu, uang memang datang tanpa henti, namun Wiwin tak pernah tidur nyenyak. “Kamu sepertinya tak bahagia?” tanya seorang warga suatu malam. Wiwin hanya menjawab lirih, “Aku sudah kaya dengan cara salah, dan hatiku tambah tak karuan.” Dan sejak itu, ia sadar bahwa pesugihan perzinahan Nyi Roro Kembang Sore bukanlah jalan untuk kembali hidup, melainkan pintu menuju kehancuran yang lebih dalam.
Redaksi Energi Juang News



