Energi Juang News, Lamongan– Kisah mula munculnya hantu berbaju merah di sekolah ini terjadi di sebuah bangunan Sekolah Dasar di salah satu desa di Lamongan, Jawa Timur, dan hingga kini masih menjadi cerita yang dibicarakan warga sekitar. Peristiwa ini bukan sekadar isu, melainkan pengalaman nyata yang dialami langsung oleh para guru dan staf sekolah. “Ini bukan cerita karangan,” ujar seorang warga bernama Pak Sarji saat ditemui, “soalnya sudah banyak yang melihat dan merasakan kejadian aneh di sana.”
Seperti yang dialami Bu Murti, seorang guru kelas, yang sore itu masih menyelesaikan administrasi menjelang waktu maghrib. Saat ia hendak naik ke kelas 4 di lantai dua untuk mengambil dokumen yang tertinggal dikelas 4, tangga sekolah tampak gelap dan sunyi. “Kok aneh.. seperti diawasi,” benak Bu Murti . Benar saja, saat hendak menaiki tangga langkahnya terhenti seketika, ketika di ujung tangga samar samar muncul sosok berbaju merah dengan wajah menghitam gosong, pandangan matanya kosong, dan tubuhnya terdiam tanpa suara.
Bu Murti mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya bayangan atau kelelahan mata, namun rasa takut langsung menyergap ketika sosok itu seakan menatap lurus ke arahnya. “Wajahnya rusak seperti terbakar, saya gemetar,” ucapnya dengan suara bergetar saat menceritakan ulang. Ketika ia mundur perlahan, sosok tersebut tiba-tiba menghilang sekelebat. Dalam kondisi panik, Bu Murti berlari turun sambil menangis dan masuk ke ruang guru menemui Pak Minto, wakil kepala sekolah yang masih ada diruang guru.
Dengan napas terengah, Bu Murti berkata, “Pak, saya melihat ha..han..hantu di tangga, sumpah Pak saya tidak bohong.” Pak Minto yang awalnya ragu mencoba menenangkan, “Mungkin Ibu capek, Bu.” Namun karena Bu Murti tampak sangat ketakutan, Pak Minto akhirnya memutuskan naik ke lantai dua untuk mengambil dokumen Bu Murti yang tertinggal. Bu Murti hanya bisa berdoa sambil berbisik, berharap tidak terjadi apa-apa.
Saat Pak Minto ke lantai dua tak terjadi apa apa, namun saat keluar dari kelas 4, suasana sekolah terasa berbeda. Angin dingin berembus dari balkon, disertai suara tangisan lirih seperti perempuan merintih kesakitan. “Itu suara apa?” gumam Pak Minto. Di sudut balkon yang gelap, ia melihat sosok tertelungkup berbaju merah, rambutnya panjang menutupi wajah, dan tubuhnya tampak kaku. Iapun teringat cerita Bu Murti, seketika bulu kuduknya berdiri dan ia bergegas lari turun tanpa menoleh lagi.Dengan terengah engah Pak Minto membenarkan pengalaman Bu Murti dengan wajah pucat. “Apa yang Ibu lihat itu nyata bu,” katanya.
Keesokan harinya, kabar penampakan itu cepat menyebardilingkungan sekolah hingga ke warga sekitar sekolah. Pak Tarjo, tukang kebun sekolah, angkat bicara. “Saya curiga ini ada yang tidak beres,” ujarnya. Ia mengingat beberapa hari sebelumnya melihat seseorang yang dikenalnya mondar-mandir mencurigakan di pinggir sekolah menjelang malam.
Orang yang dimaksud Pak Tarjo adalah Mbah Pangat, sosok yang dikenal warga sebagai dukun beraliran ilmu hitam. “Saya lihat dia pakai baju hitam, komat-kamit sambil mencangkul tanah,” kata Pak Tarjo. Yang membuat penasaran lagi, ia melihat benda seperti kepala kambing yang masih meneteskan darah dikubur di dekat pagar sekolah. Warga sekitar percaya ritual dengan maksud tertentu yang menjadi pemicu munculnya hantu berbaju merah.
Seorang warga lain, Bu Rukmini, menambahkan bahwa antar pengurus sekolah yang berada di satu yayasan tersebut memang sedang tidak harmonis. “Katanya ada konflik internal yayasan dengan SMP di SD disebelahnya,” ujarnya. Isu perebutan lahan dan jabatan membuat suasana semakin panas. Beberapa warga meyakini konflik dunia nyata itu membuka celah bagi gangguan gaib. “Kalau niatnya sudah tidak baik, yang datang juga yang buruk,” ucap seorang sesepuh desa.
Sejak kejadian itu, aktivitas sekolah berubah drastis. Guru-guru enggan pulang sore, dan siswa sering mengeluh melihat bayangan merah di jendela kelas. “Anak saya takut ke kamar mandi sekolah,” kata seorang wali murid. Warga pun mengadakan doa bersama dan meminta bantuan tokoh agama. Mereka berharap arwah penasaran itu bisa tenang dan tidak lagi mengganggu proses belajar mengajar.
Kisah muncul hantu berbaju merah di sekolah Lamongan ini menjadi pengingat bahwa dunia pendidikan bukan hanya soal bangunan dan kurikulum, tetapi juga energi dan niat di dalamnya. Hingga kini, warga masih mempercayai bahwa teror tersebut berkaitan dengan ulah manusia yang menyalahgunakan ilmu hitam. “Kalau sekolah mau damai, bersihkan dulu niatnya,” ujar seorang kyai desa menutup perbincangan dengan nada serius dan penuh makna.
Redaksi Energi Juang News



