Sabtu, April 18, 2026
spot_img
BerandaOjo LaliManusia Boleh Berencana, Saldo yang Menentukan

Manusia Boleh Berencana, Saldo yang Menentukan

Energi Juang News, Nganjuk- Manusia boleh berencana, saldo yang menentukan. Kalimat ini bukan sekadar quote bijak yang biasa dipajang di status WhatsApp jam 2 pagi, tapi sudah naik level jadi hukum alam dalam percintaan modern—termasuk dalam kisah legendaris Penceng,29 dan Peni,26.

Kalau Newton dulu sibuk dengan gravitasi, Penceng sibuk dengan realita: “Kenapa yang jatuh bukan apel, tapi harga diri?”

Penceng adalah pria sederhana. Sederhana sekali. Bahkan dompetnya pun ikut sederhana alias tipis. Sementara Peni adalah wanita dengan selera hidup yang… ya, tidak sederhana.

Pertemuan mereka terjadi di momen sakral, membantu Peni yang menjadi korban kecelakaan motor.

Dari situlah cinta tumbuh sejak Penceng nganter Peni terapi kaki yang keseleo akibat kecelakaan. Dari chat yang awalnya “makasih bantuanya” dan dibalas “udah makan belum?”sok perhatian Penceng yang belum punya uang tapi punya harapan.

Saat baru jadian Penceng pernah berkata dengan penuh keyakinan: “Aku bakal bahagiain kamu, Pen.”

Masalahnya, semesta menjawab dengan cara yang cukup kejam: saldo rekening Penceng sering tiarap apalagi kurs dolar makin menggila akibat perang Iran Israel-AS, hanya cukup untuk bahagia sendiri… itupun kalau harus hemat.

Lama kelamaan Peni mulai bosan dengan gombalan Penceng,terlihat dari Peni sering update story:

  • “Healing butuh biaya, bukan sekadar cinta.”
  • “Capek jadi kuat, pengen jadi cukup.”

Dan Penceng yang penghasilannya pas pasan, masih kuat kerja keras, tapi gaji yang diterima tidak cukup.

Dalam setiap kegalauan Peni tiba tiba muncul, laki laki dengan kondisi dompet yang berbeda.

Peno,27 ini hadir tanpa perlu usaha berlebihan dan tidak perlu gombal apek model Penceng. Tidak perlu janji masa depan, karena masa depannya sudah kelihatan dari saldo dashboard mobile banking.

Baca juga :  Cinta Tak Terukur, WIL Masuk Kubur

Peni yang awalnya berkata “aku nggak butuh yang kaya”. Tapi karena usaha Peno yang gigih,perlahan Peni mengedit prinsipnya jadi:“Aku nggak butuh yang terlalu kaya… asal cukup banget.”

Penceng mulai merasakan ada yang berubah,iapun memberanikan diri bertanya:

“Pen, kamu berubah ya?” Peni menjawab lembut:

“Aku nggak berubah, Ceng… cuma realistis.”

Terperanjat dengan jawaban Peni yang lembut namun menohok,i situlah Penceng sadar, dia bukan kalah saing tapi dia kalah saldo.

Pilihan di depan mata:

  • Penceng: penuh cinta, minus dana
  • Mas Saldo: minim drama, maksimal transferan

Dan Peni memilih stabilitas. Yang ada hanya satu chat “Ceng, makasih ya selama ini.”

Kalimat paling sopan untuk mengakhiri segalanya.

Penceng membaca sambil tersenyum. Senyum yang dipaksakan, seperti saldo yang dipaksakan cukup sampai akhir bulan.

Bukan berarti cinta tidak penting. Tapi di dunia yang harga kopi saja bisa bikin mikir dua kali, realita sering lebih keras dari janji.

Penceng kini tidak lagi mengejar cinta. Ia mengejar sesuatu yang lebih realistis: kestabilan finansial.

Redaksi Energi Juang News

 

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments