Energi Juang News, Batang– Di sebuah desa di Batang Jawa Tengah yang religius dan adem ayem, tempat ayam berkokok lebih rajin daripada alarm ponsel, hidup seorang dokter muda yang baru ditempatkan untuk tugas belajar. Namanya Borus tentu saja ini nama samaran karena kalau bukan, bisa-bisa ia viral lagi. Ia datang dengan kepala botak mengilap dan tubuh kurus. Walaupun fisiknya minimalis, semangatnya sebagai dokter cukup besar… setidaknya menurut dirinya sendiri.
Masalahnya, desa tempat ia bertugas begitu ketat menjaga norma. Kontak fisik antar lawan jenis saja diatur ketat. Apalagi keluyuran malam seperti gaya hidup kota sebelumnya hal itu jelas tidak mungkin. Akibatnya, hasrat Borus yang ia sebut “kebutuhan biologis yang ditahan seperti sumbatan wastafel” mulai menggelegak. Iman warga desa kuat, tetapi “imin” Borus yang goyah.
Sebagai dokter, ia seharusnya menjaga amanah untuk tidak “nyuntik sembarangan”. Bukan cuma menyuntik dalam arti medis, tapi juga menjaga etika agar jarum tumpulnya tidak digunakan untuk hal-hal yang keliru. Sayangnya, teori moral kadang kalah oleh dorongan primitif yang sudah lama tidak mendapat “asupan simpatisan”.
Kisah ini bermula ketika Borus mendapat pasien baru bernama Sritem. Seorang perempuan muda yang bagi Borus “bagai bunga kecubung baru mekar di musim panen”. Di mata orang awam mungkin nilai dibawah lima dari sepuluh, tapi bagi Borus yang sudah bertahun-tahun kering kerontang, itu sudah setara delapan koma sembilan.
Kedatangan Sritem membuat Borus merasa ruangan praktek tiba-tiba berubah menjadi lokasi paling romantis kelas FTV kaca tabung. Pada pertemuan pertama, Borus masih berlagak profesional.
Namun pada pertemuan kedua, suaranya mulai berubah menjadi lebih lembut mirip pedagang ketoprak yang ingin meyakinkan pembeli agar menambah kerupuk. Hehehe…
Perlahan tapi pasti, Borus melancarkan “rayuan maut ”. Maut bukan karena mematikan, tapi karena terdengar seperti gombalan pria kesepian ber ` otak ngeres` yang terlalu banyak nonton film XXX dihape.
Sritem yang polos seperti roti tawar tanpa selai mulai masuk “jebakan praktek nyuntik”. Entah karena terpikat, bingung, atau hanya karena butuh konsultasi lanjutan, ia mulai sering datang. Borus pun makin berani yang diibaratkan `kucing yang sudah hafal jalan menuju tempat makan ikan asin`.Hehehe…
Suatu hari, ketika Sritem datang untuk konsultasi, dan Borus melihat ini sebagai “kesempatan emas”. Ia pun mengajaknya masuk ruang praktek dengan wajah penuh percaya diri “melakukan tindakan medis”, dengan membawa “jarum tumpul” yang selalu ia banggakan.
Saat kegiatan “nyuntik-menyuntik” berlangsung…’ krak!‘ tiba tiba pintu terbuka. Seorang pasien lain menerobos masuk. Jika ini film komedi, adegannya akan disertai suara drum “tudum-tss!”. Tapi sayang, ini kehidupan nyata. Bukan pasien sembarangan melainkan Bangor pacar Sritem. Bangor heran melihat adegan yang tidak tercantum dalam buku panduan praktik kedokteran mana pun. Borus kaget melompat keluar arena pertempuran dan Sritem ketakutan. Mendapat berondongan pertanyaan campur makian Bangor Sritem yang polos akhirnya menceritakan semuanya, dan Borus hanya bisa berdiri kaku seperti tiang listrik PJU baru dipasang.
Tak terima ulah Borus praktek `nyuntik` memakai `jarum tumpul` ke Sritem, Bangor lapor ke Kades setempat. Alhasil Kadespun memanggil Borus untuk meminta klarifikasi. Ibarat petani yang panen sebelum waktunya, Borus justru harus menanggung gagal panen total.
Boleh saja cerita ini membuat kita tertawa geli, tetapi semoga kita tidak meniru “metode nyuntik” Borus yang berpotensi menghancurkan masa depan.
Terkadang, sanksi paling berat bukan pemindahan tugas atau penundaan pangkat,
melainkan rasa malu yang menempel sampai uban tumbuh kembali… kalau tumbuh. Hehehe
Redaksi Energi Juang News



