Sabtu, April 18, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaMisteri Hantu Gunung Gombak: Bisikan dari Astana Giri

Misteri Hantu Gunung Gombak: Bisikan dari Astana Giri

Energi Juang News,Ponorogo- Gunung Gombak memang tidak tinggi. Hanya sekitar 250 meter di atas permukaan laut. Namun, bagi sebagian orang, perjalanan ke puncaknya bukan hanya soal fisik—melainkan juga tentang keberanian menghadapi sesuatu yang tak kasatmata.

Di puncak Gunung Gombak, terdapat kompleks pemakaman yang dikenal sebagai Astana Giri Gombak. Di sanalah dimakamkan seorang tokoh penting: Tumenggung Brotonegoro, atau dikenal sebagai Bupati Polorejo, sosok yang pernah membantu perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda pada tahun 1825.

Ia wafat setelah terluka dalam pertempuran dan melarikan diri hingga ke kawasan ini. Untuk menyembunyikan jejaknya, jenazahnya dikuburkan di puncak gunung yang saat itu dianggap terlarang.

Sejak saat itu, wilayah tersebut dikenal sebagai Nglarangan—tempat yang dulu tidak boleh dikunjungi sembarang orang.

Kini, tempat itu justru ramai oleh peziarah.

Namun, tidak semua pulang dengan cerita biasa.

Suatu malam di bulan Suro, seorang pemuda bernama Dimas datang bersama dua temannya. Mereka berniat ziarah sekaligus “uji nyali”.

“Ah, paling cuma cerita orang tua,” kata Dimas sambil menyalakan senter.

Di pos bawah, mereka bertemu dengan juru kunci makam, Pak Patok.

“Kalau naik malam, jangan sembarangan bicara,” pesan Pak Patok pelan.

Dimas tersenyum meremehkan. “Siap, Pak. Kami cuma mau lihat-lihat.”

Pak Patok menatapnya lama. “Yang dilihat… belum tentu suka dilihat balik.”

Perjalanan menuju puncak hanya sekitar 700 meter. Tapi malam itu terasa jauh lebih panjang.

Langkah kaki mereka bergema aneh.

“Eh, kalian dengar?” bisik salah satu temannya.

“Apa?” tanya Dimas.

“Kayak suara kuda…”

Dimas tertawa. “Di gunung begini mana ada kuda?”

Namun suara itu kembali terdengar.

“Tap… tap… tap…”

Seperti derap pelan dari kejauhan.

Baca juga :  Tragedi Lelaki yang Berusaha Lepas dari Teror Kutukan Pesugihan Gunung Kawi

Mereka berhenti. Senter diarahkan ke jalan setapak yang gelap.

Kosong.

Tapi suara itu terus mengikuti.

Saat hampir sampai puncak, Dimas merasa ada yang berjalan di belakangnya.

Ia menoleh cepat.

Dan di situlah ia benar benar kaku tak bergerak melihat sosok yang muncul dibelakangngnya.

Sesosok bayangan hitam, tinggi, dengan bentuk menyerupai penunggang kuda, namun tanpa wajah yang jelas karena tempat itu hanya disinari rembulan.

“Woy… kalian lihat itu?” suara Dimas bergetar.

Temannya menjawab pelan, “Jangan ditunjuk… jangan dilihat lama…”

Namun sudah terlambat.

Bayangan itu berhenti.

Dan perlahan… mendekat.

“Siapa… kamu?” tanya Dimas dengan suara nyaris tak terdengar.

Tak ada jawaban.

Namun suara lain muncul—bukan dari depan, melainkan dari samping.

“Muleeehh” Dimas menoleh ke arah suara itu, tapi tak ada siapa-siapa.

“Muleeehh”…” suara itu kembali terdengar, kini lebih dekat.

Temannya menarik lengannya. “Dim, kita turun sekarang, ini sudah terlalu jauh masuk ke alam mereka!”

Namun kaki Dimas terasa berat, seolah tanah menahannya. Mulut tak bisa berkata, hanya menggigil ketakutan.

Mereka akhirnya berhasil mencapai puncak. Di sana, kompleks makam terlihat tenang. Lampu redup menerangi cungkup utama tempat dimakamkannya Tumenggung Brotonegoro dan istrinya.

Menurut Pak Patok, banyak peziarah datang dengan niat berbeda. Ada yang berdoa, ada yang mencari berkah, bahkan ada yang mencoba hal-hal di luar batas.

“Kalau niatnya tidak baik, biasanya ‘ditunjukkan’,” ujarnya.

“Ditunjukkan bagaimana, Pak?”

“Ya… seperti yang kamu alami.”

Sejak malam itu, Dimas berubah.

Ia tidak pernah lagi meremehkan tempat-tempat seperti Gunung Gombak.

Suatu hari, temannya bertanya, “Kalau diajak ke sana lagi?”

Dimas langsung menggeleng.

“Enggak semua tempat cocok untuk manusia,” katanya pelan.

Baca juga :  Kutukan Gubuk Terlarang: Arwah Pembakar Diri yang Tak Pernah Tenang

“Emangnya kamu takut?” Dimas menatap kosong.
“Bukan takut… tapi tahu diri.”

Gunung Gombak tetap menjadi tujuan wisata religi yang ramai. Peziarah datang silih berganti, membawa harapan dan doa.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments