Energi Juang News, Jakarta– Sebagian dari kita mungkin tidak menyangkal jika kehidupan di dunia ini memang berdampingan. Ya, bagi umat Muslim kehidupan di dunia ini berdampingan dengan makhluk Allah SWT yang lain, yakni bangsa jin.
Meski tak banyak yang percaya, nyatanya kehidupan makluk gaib seperti jin memang benar adanya. Saking bersahabat, kehidupan manusia dengan bangsa jin, banyak ditemui kasus manusia yang disukai jin. Fenomena ini bukan hal baru bagi warga sekitar.
Banyak yang meyakini bahwa orang dengan aura tertentu bisa menarik perhatian jin, terutama jika sering berada di tempat wingit atau melakukan hal tanpa sadar di waktu-waktu terlarang seperti Magrib atau tengah malam. Bu Lastri, tetua kampung, menyebutkan bahwa anak-anak muda zaman sekarang tidak paham “tata laku” dan itu membuka celah bagi makhluk halus.
Seperti yang dialami Rina, seorang gadis berusia 22 tahun asal Jombang, awalnya tidak pernah menyadari bahwa ada sesuatu yang mengikuti langkahnya. Sejak kecil, ia sering merasa ada yang mengawasi dari sudut kamar atau mendengar suara berbisik ketika menjelang tidur. Namun, semuanya ia anggap sebagai halusinasi.
Hingga suatu malam, ia terbangun mendadak pukul 2 dini hari. Udara kamar menjadi dingin luar biasa. Di pojok ruangan, samar terlihat sosok hitam tinggi berdiri membelakanginya. Rina hanya bisa menutup mata dan menggigil. Setelah kejadian itu, setiap malam ia selalu merasa seperti “diperhatikan”.
Menurut Bu Marni, tetangganya yang dikenal sering membantu orang kesurupan, Rina menunjukkan beberapa tanda-tanda disukai jin. “Kalau orang sering melamun, susah tidur, dan suka merasa betah sendirian di tempat gelap, itu sudah ciri awalnya. Biasanya, jin memilih orang dengan energi tertentu,” jelas Bu Marni sambil menggulung tasbihnya.
Gangguan yang dialami Rina makin parah. Wajahnya menjadi pucat, tubuhnya sering panas tanpa sebab, dan ia mulai sering berbicara sendiri. Keluarganya membawa Rina ke seorang ustaz, yang langsung mengatakan bahwa ada jin yang jatuh cinta padanya. Jin tersebut tidak ingin melepaskannya, dan sudah menetap di dalam rumah mereka.
“Waktu saya rukyah, dia (jin-nya) bilang kalau sudah lama mengikuti Rina. Katanya sejak Rina kecil pernah menari di bawah pohon besar saat Magrib. Nah, di situlah jin itu mulai suka,” ujar Ustaz Rahmad, yang menangani banyak kasus serupa di daerah sekitar itu.
Ada kisah Dini juga menjadi pengingat kelam bagi warga desa. Di tengah modernitas, mereka kembali mengingat pentingnya ilmu spiritual dan kearifan lokal sebagai batas antara dunia manusia dan alam gaib. Karena kadang, tanpa sadar, kita melanggar sesuatu yang tidak bisa dilihat… dan dibalas dengan kehadiran yang tak bisa diusir.
Semua bermula dari kebiasaan Dini, gadis berusia 19 tahun yang tinggal di pinggiran desa Wonoayu, Sidoarjo. Ia dikenal sering mandi tengah malam, memakai wewangian berlebihan, dan suka menyanyi sendiri di tempat sepi. Tanpa disadari, kebiasaannya itu dianggap melanggar pakem kearifan lokal dan membuka jalan bagi makhluk gaib untuk mendekatinya.
Menurut kepercayaan warga, mandi malam menggunakan wewangian tertentu bisa mengundang jin, apalagi jika dilakukan di jam-jam rawan seperti pukul 1 hingga 3 pagi. Namun Dini menganggap semua itu hanya mitos. Hingga suatu hari ia mulai mengalami mimpi yang sama setiap malam—bertemu seorang lelaki tinggi, tampan, namun matanya merah menyala.
“Waktu saya bersih-bersih kamar Dini, saya mencium bau kembang tujuh rupa, padahal nggak ada yang menaruh bunga apa pun. Terus di dinding ada bekas tangan panjang, seperti terbakar,” cerita Bu Yayah, ibunya, dengan suara bergetar.
Setelah mimpi itu berulang-ulang, perilaku Dini berubah. Ia menjadi pendiam, sering tersenyum sendiri, dan marah jika ditanya soal tidurnya. Bahkan ia mengaku tidak ingin menikah karena “sudah ada yang menjaga”. Menurut Pak Udin, tetua kampung, itu adalah ciri utama orang yang disukai jin karena pelanggaran spiritual.
“Dulu pernah ada juga seperti itu. Karena suka duduk di bawah pohon beringin besar tiap Magrib sambil nyanyi, akhirnya jin jatuh cinta. Hidupnya jadi berat. Bahkan sempat kerasukan, dan waktu dirukyah, jin itu bilang nggak mau ditinggal,” ujar Pak Udin yang juga dikenal sebagai juru kunci setempat.
Keluarga Dini akhirnya memanggil seorang ustaz untuk membantu. Selama prosesi rukyah, Dini menjerit dan suara yang keluar dari mulutnya bukan miliknya. Sosok itu mengaku sudah mengikat Dini sejak lama karena senang dengan “aroma tubuh dan kelembutan suaranya”. Jin tersebut berkata, Dini “tidak menghormati batas dunia mereka”.
“Kebiasaan kecil yang dianggap sepele itu justru seperti membuka pintu. Menyanyi di kamar mandi, menyisir rambut jam 12 malam, atau bercermin sambil membaca puisi, itu sudah cukup mengundang,” jelas Ustaz Rozak setelah proses penyucian rumah.
Sejak itu, Dini dipantau ketat dan tidak dibiarkan tidur sendirian. Mimpi buruk masih datang, namun lebih jarang. Namun, setiap kali ada bau melati muncul mendadak di kamarnya, ibunya langsung membakar kemenyan dan membacakan doa. Mereka tahu, jin itu belum benar-benar pergi.
Redaksi Energi Juang News



