Energi Juang News, Magelang–Di tengah Desa Ketangi di Kecamatan Kaliangkrik, sekitar 18 km di barat Kabupaten Magelang, berdiri sebuah punden tua yang sudah ada sejak zaman leluhur. Letaknya sangat unik, karena diapit langsung oleh Tempat Pemakaman Umum (TPU) dan sebuah bendungan rawa yang sunyi. Dari dulu, masyarakat setempat percaya bahwa punden tersebut bukan sekadar bangunan biasa, melainkan tempat tinggal roh penjaga atau danyang yang melindungi desa. Mereka menyebutnya sebagai pepunden, berasal dari kata “pepundèn”, yang artinya sesuatu yang dihormati. Keberadaan punden itu menjadikan lokasi tersebut sebagai titik spiritual penting, dan jika tidak dihormati, konon bisa membawa malapetaka.
Tradisi di Desa Ketangi menjadikan punden sebagai tempat bermeditasi atau ritual khusus, terutama saat warga memiliki hajat besar seperti pernikahan atau tolak bala. Masyarakat meyakini bahwa dengan bersemedi di sana sambil membawa sesajen, mereka akan mendapatkan berkah dan ketentraman. Namun, ada juga aturan tidak tertulis yang harus ditaati: jangan pernah datang ke punden dengan niat main-main, apalagi melanggar pantangan spiritual di sana. Banyak yang percaya, roh penunggu punden bisa berubah murka jika tidak dihormati sebagaimana mestinya.
Bariah, seorang pemudi asli Ketangi, merasakan langsung konsekuensi dari melanggar aturan tak tertulis itu. Saat ia melakukan ritual sebagai pengantin baru di punden tersebut, sesuatu yang tidak masuk akal terjadi. Sang suami yang awalnya duduk bersimpuh dengan khusyuk, tiba-tiba menjerit ketakutan. “Wajahmu… itu bukan kamu, Bariah! Matamu merah, dan wajahmu penuh bulu!” katanya sambil gemetar. Bariah sendiri mengaku tubuhnya terasa panas dan tidak bisa bergerak, seolah ada sesuatu yang masuk ke dalam dirinya. Ritual yang seharusnya sakral itu malah berubah menjadi malam terkelam dalam hidup mereka.
Cerita misteri lain datang dari Mbah Man, Tetua kampung yang dikenal sering bersemedi di punden karena alasan spiritual. Dalam sebuah kesempatan, ia mengaku mengalami kejadian yang membuat bulu kuduknya berdiri hingga hari ini. Aku sedang duduk, meditasi di malam Jumat Kliwon. Tiba-tiba muncul sosok kakek tua, berjubah hitam, berdiri tepat di depanku. Wajahnya rusak seperti terbakar, matanya cekung dan gelap,” ujar Rohman. Suasana seketika berubah dingin, padahal tidak sedang musim hujan. Roh itu hanya berdiri, lalu menghilang ketika adzan Subuh berkumandang dari kejauhan.
Deskripsi sosok arwah yang sering muncul dan diceritakan Mbah Man di sekitar punden sangat menyeramkan. Warga menggambarkan danyang penjaga punden itu sebagai sesosok tua renta, berjubah panjang, kulit keriput seperti kayu lapuk, dan mata merah menyala. Kadang terdengar suara ringkikan kuda atau bau kemenyan yang menyengat tanpa sumber. “Saya pernah lihat sosok putih duduk di atas batu punden. Rambutnya panjang menjuntai, mukanya hancur… tapi dia diam saja seperti sedang menunggu,” kata Siti, ibu rumah tangga yang rumahnya tak jauh dari lokasi. Ia mengaku sejak malam itu, anaknya sering mengigau dan bicara sendiri.
Puncak dari teror mistis ini terjadi ketika sebuah video tersebar di media sosial. Dalam video tersebut, terlihat jelas bayangan perempuan berbaju putih berayun-ayun di pohon besar dekat punden. Suaranya mengerang pelan, namun cukup jelas bagi warga yang menyaksikannya. “Itu bukan orang! Kami semua di sini tahu pohon itu angker,” ujar Darto, seorang pemuda yang ikut merekam kejadian tersebut. Beberapa akun lokal langsung menyebarkan video itu, membuat punden Ketangi viral sebagai tempat angker yang tidak boleh sembarangan dikunjungi.
Kisah lain yang tak kalah menyeramkan dialami oleh pasangan muda yang tak mau disebutkan namanya. Mereka iseng mengunjungi punden saat malam minggu, hanya untuk coba-coba uji nyali. Sesaat setelah mereka menginjak area punden, lampu senter mereka padam, dan muncul bau anyir darah. “Kita kabur, tapi suara tertawa kecil itu mengikuti sampai rumah,” katanya gemetar. Sejak kejadian itu, mereka tidak pernah lagi mendekati area tersebut. Bahkan, mobil yang mereka kendarai malam itu mogok total keesokan harinya.
Meski banyak yang mengalami kejadian ganjil, ada juga warga yang tetap menjunjung tinggi nilai spiritual punden tersebut. Mereka percaya, selama niat seseorang datang baik, maka roh penjaga tidak akan mengganggu. Namun, kisah mistis yang terus beredar membuat suasana di sekitar punden semakin mencekam, terutama saat malam tiba. “Kami jaga adat, tapi bukan berarti kami tidak takut,” ujar Mbah Man, tetua setempat. Ia selalu mengingatkan warganya untuk tidak asal datang ke punden tanpa izin atau pemahaman yang cukup.
Desa Ketangi kini lebih dikenal karena cerita angkernya daripada keindahan alam atau kekayaan budayanya. Banyak wisatawan lokal yang penasaran ingin datang, tapi warga setempat mulai memberlakukan batasan untuk menjaga kesucian tempat tersebut. Bahkan, di beberapa sudut desa kini dipasang papan peringatan agar tidak sembarangan masuk ke area punden, khususnya saat malam hari. Ini dilakukan bukan hanya untuk menjaga tradisi, tapi juga demi keselamatan jiwa mereka yang tidak percaya.
Cerita-cerita dari Desa Ketangi menjadi pengingat bahwa tidak semua tempat bisa dianggap biasa. Di balik tempat yang dihormati seperti punden, bisa saja ada kekuatan gaib yang tidak dapat dijelaskan secara logika. Seperti kata Mbah Man, “Kami tidak ingin menakut-nakuti. Tapi di sini, kami sudah melihat, mendengar, dan merasakan sendiri.” Ketakutan itu bukan hanya dari bayangan atau suara aneh, melainkan dari rasa bahwa mereka tidak sendiri di tempat itu.
Redaksi Energi Juang News



