Energi Juang News, Madiun –Saat senja tiba tepian sungai di Sumber Brantas Kabupaten Malang yang tenang, aroma lumpur dan air dingin menyusup ke dalam kulit, membangkitkan rasa was-was pada siapa pun yang lewat. Warga kampung mulai menarik perahu mereka lebih dekat ke darat, karena kabar bahwa penampakan aneh pernah muncul sebelum azan Maghrib. Dari kejauhan terdengar bisikan riak air yang terlalu berat untuk hanya ikan atau arus biasa, seakan ada kehidupan yang ditutupi kabut samar. Udara mendadak sejuk, dan bayangan pohon trembesi di tepi sungai bergerak sendiri, menimbulkan dendam alam yang tak bisa dijelaskan dengan logika semata.
Pak Warsan, seorang indigo kampung itu, adalah orang pertama yang melihat bayangan putih muncul dari dasar sungai. Ia bercerita bahwa tanpa suara, sesosok makhluk melenggang keluar dari air berlumpur dengan kulit pucat kebiruan. “Aku merasa ada mata yang menatapku dari balik ombak”, kata Pak Warsan dengan suara gemetar di hadapan beberapa warga di warung kopi kecil tepi sungai. Ia tak bisa menggambarkan apakah itu buaya, tetapi gigi dan rahangnya terang dalam cahaya senja yang semakin pudar. Semua orang di warung tiba‑tiba terdiam, mendengar detak jantung mereka sendiri bergema lebih keras.
Beberapa anak kampung berkumpul di pinggir sungai, mereka menantikan adzan magrib sambil bermain batu di tepi air, ketika tiba‑tiba sebuah tangan dingin menarik kaki Mulyo ke dalam air. Jeritan menggema, air bercabang membentuk pusaran seperti pusaran gelap yang menghisap. “Tolong!!” teriak Mulyo, tetapi tak ada yang bisa menjangkaunya tanpa merasa digenggam oleh ketakutan. Setelah beberapa menit yang terasa seperti jam, tangan itu hilang. Dan diketemukan 3 hari kemudian hanya tubuhnya yang mengapung beberapa meter dari tepi sebelum arus menyeretnya kembali .
Saat cerita itu tersebar ke rumah‑rumah bambu dan lorong sempit kampung, warga berkumpul dalam lingkaran di halaman Pak Sumo. Mereka membakar dupa agar aroma cengkeh dan kayu putih menenangkan arwah. Buas pertanyaan mengisi udara: apakah kejadian ini hanya mimpi buruk bersama arus deras, atau ada sesuatu yang hidup dan marah di dasar sungai? Seorang ibu tua, Mbah Wiji, merapal doa sambil mengenang cucunya yang hilang kini tak ditemukan lagi sejak kedatangan sosok itu.
Hari demi hari ketakutan tumbuh bersama bayangan putih yang disebut sebagi “makhluk air”. Warga Sigi, Warsit, dan Mulyo yang sebelumnya berenang sore hari sekarang menolak mendekati sungai saat cahaya senja mulai meredup. Anak‑anak diawasi ketat, suara air yang membentur batu pun dianggap sebagai panggilan takut dari sesuatu yang tak kasat mata. Ketika malam datang, burung‑burung pulang ke pohon, tetapi suara gejolak air seolah masih menunggu, meraba‑raba kaki perahu yang ditempah kayu tua.
Suatu malam, Warsit yang giat mengais ikan di sungai membawa lampu petromak. Ia mendengar suara sekuntum tawa mirip anak‑anak, tapi penuh nada sedih dan mengejek. “Kenapa kau datang ke airku?” terdengar dari dalam gelap, suaranya sunyi tetapi menusuk. Warsit menggigil dan menoleh ke arah cahaya lampu yang memantulkan sesuatu putih di permukaan air. Tubuhnya membeku. Ia lari tergopoh‑gopoh ke pondok nelayan, nafasnya tersengal sambil berkata kepada suaminya yang tidur: “Aku melihat sesuatu… kulitnya putih menyala… bukan manusia.”
Ada malam ketika Sigi bermimpi buruk; ia dibawa arwah ke dasar sungai, tertahan di lumut dan lumpur, menarik napas seolah tenggelam. Dalam mimpi itu, sosok itu berdiri di atas tubuhnya dengan mata merah dan rahang yang menganga, melancarkan tawa tanpa suara, membiarkan Sigi merasakan dingin yang mencekik. Ia terbangun dengan badan berkeringat dan suara gemerisik air terus‑terusan di kamar tidurnya. Semua jendela tertutup rapat, tapi ia merasa bau lumpur dan air asin menyelinap.
Warga mulai mengadakan ritual sederhana di atas panggung bambu di tepi sungai. Mereka melempar bunga dan beras ke air, sambil Pak Kadim menyeru salam dan memohon supaya makhluk itu pergi atau setidaknya berhenti mengambil nyawa. “Jika engkau ada, biarlah damai,” lirihnya. Tapi jawaban hanya datang dalam bentuk riak air yang keras, seperti pintu bawah tanah yang diketuk dari dalam bumi. Gemuruh itu membuat beberapa orang pingsan, dan anak‑anak terdiam, menahan tangisnya.
Kedamaian sesaat pernah tiba ketika sebuah petir menyambar pohon trembesi besar dan hujan turun deras sepanjang malam. Para warga dipimpin Pak Sumo berdoa bersama, seakan alam merestui usaha mereka. Tapi selepas hujan, air Brantas membawa bau tanah basah dan ada telapak putih besar mendekati tepi sungai. Warga yang melihatnya gemetar, mereka pun mundur, menyeret anak‑anak dan ternak mereka ke jauh dari tepian. Tak ada yang berani mengambil langkah, hanya keberanian yang tersisa.
Pada akhirnya, misteri tidaklah selesai. Sosok itu masih dikenal orang sebagai penjaga gelap sungai, yang muncul saat Maghrib—kulitnya putih seperti bulan purnama yang dikotori darah. Warga masih mendengar nyanyian nazak dari dasar air, dan cerita tentang kehilangan, air yang dingin sekali, dan tawa arwah yang bersahutan. Sungai itu menyimpan rahasia yang tak akan pernah selesai, dan setiap senja mengundang pertanyaan: apakah ini hanya arwah marah, atau sesuatu yang lebih dari sekadar legenda.
Redaksi Energi Juang News



