Energi Juang News, Jakarta- Dari luar, Sendang Gondoarum tampak tak lebih dari genangan air tenang di tengah hamparan sawah yang sunyi. Rumah-rumahan reot menaunginya, dengan atap separuh runtuh dan dinding ditumbuhi lumut. Tapi bagi warga Plumbon, sendang itu bukan sembarang tempat.
“Kalau cuma lewat, jangan sampai tengok mata airnya. Apalagi saat Maghrib,” bisik Pak Raji, tetua dusun, ketika aku mencoba mendekati lokasi itu.
Suatu hari, seorang pria bernama Sugeng kembali ke desa setelah lama merantau. Wajahnya muram, dan kabarnya ia bangkrut berat, terlilit utang sampai miliaran.
Hingga akhirnya ia memutuskan mencari pesugihan ke Sendang Gondoarum.
“Dia udah gelap mata. Malam itu, aku lihat dia bawa sesajen ke Sendang Gondoarum,”
kata Bu Narti, penjaja jamu keliling setempat.
Malam demi malam Sugeng menghilang. Saat warga mencarinya, ia mengaku sedang bertapa.
“Saya hanya ingin berdoa. Mencari jalan keluar,” jawab Sugeng, tapi sorot matanya kosong.
Sampai suatu malam, suara gamelan terdengar dari arah sendang. Aroma melati menguar hingga ke jalan utama. Beberapa warga mengaku melihat seorang wanita sangat cantik berjalan ke arah rumah Sugeng, mengenakan kebaya putih dan kaki tak menyentuh tanah. Ketakutan warga yang melihatnya, seolah berubah menjadi prasangka buruk terhadap Sugeng.
Berdasar cerita warga Yamin yang penasaran, mencoba mengintip apa yang dilakukan Sugeng dengan tamu perempuannya itu.
Sungguh membuat kaget dan ngeri tatkala melihat Sugeng sedang bercumbu dengan siluman ular , namun sepertinya Sugeng melihat sosok didepannya seorang perempuan.
Yamin berkesimpulan Sugeng menjadi budak nafsu melayani Siluman ular itu tiap malam Jumat.
Hari berganti bulan warga mulai resah ketika Sugeng tiba-tiba mendadak kaya. Rumahnya direnovasi, mobil terparkir, dan toko emas dibuka di kota.
Tapi istri dan anak bungsunya mendadak hilang. Setiap ditanya Sugeng berkelit kalau anak dan istrinya pergi kerumah pamannya di Jakarta.
Karena curiga orang-orang mulai saling berbisik, membenarkan kalau anak dan istri Sugeng sudah menjadi tumbal siluman ular itu.
“Anak sebagai tumbalnya. Dia udah bikin perjanjian sama siluman ular itu. Kalau niat kuat, apapun dikorbankan,” kata juru kunci Sendang Gondoarum.
“Siluman ular itu memang kadang datang dalam wujud perempuan. Tapi bukan sembarang perempuan. Dia akan meminta tumbal dan nafsu. Sugeng pasti melayaninya tiap malam Jumat,”
— sambung juru kunci sambil menghisap cerutu tua.
Sugeng menyiapkan kamar khusus yang tak boleh dimasuki siapa pun. Konon, di malam-malam tertentu terdengar desisan dan suara erangan dari dalam kamar tersebut. Namun suara itu terdengar menakutkan.
Setelah dua tahun berjalan kekayaan Sugeng mulai meredup, seiring sudah tidak ada lagi orang terdekat untuk dijadikan tumbal.
Kekayaan Sugeng tak berlangsung lama. Tubuhnya kurus, seperti dikuras energi. Ia mulai berhalusinasi, dan mengaku melihat bayangan anaknya menangis di sumur belakang. Bisa jadi itu itu arwah anaknya yang dijadikan tumbal.
Suatu malam, warga mendapati rumah Sugeng kosong. Di atas tempat tidur yang dikhususkan itu, hanya tersisa sisik besar seperti milik ular, basah oleh darah. Dan di lantai terukir tulisan dengan darah:
“Janji telah ditepati. Kini kau giliranku.”
Yang tersisa aroma anyir darah dan wangi gondoarum melati bercampur, dan misteri hilangnya Sugeng dari rumahnya malam itu.
Sejak malam itu, Sugeng tak pernah terlihat lagi. Tapi suara gamelan dan aroma melati dari arah Sendang Gondoarum kembali datang, membuat area sekitar sendang menjadi angker dan menakutkan terutama setiap malam Jumat Kliwon. Penampakan arwah arwah para tumbal sering muncul menghantui warga.
“Siapa pun yang berniat ke sana demi pesugihan, siap-siap menjadi budak setelah mati. Dunia boleh kaya, tapi ruhmu akan melarat selamanya,” pesan Juru Kunci terakhir sebelum meninggalkan Sendang tersebut.
Redaksi Energi Juang News



