Energi Juang News, Malang –Di sebuah dusun terpencil di Tulungagung, kabar burung mulai menyebar tentang kematian misterius Cahyo bos travel yang dahulu hidup sederhana dalam kurun waktu yang tak lama berubah kaya raya. Warga gempar melihat tubuhnya tampak berbulu kasar menyerupai sekawanan monyet abu-abu. Suara desahan bayangan malam mengiringi jenazahnya keluar dari rumah sederhana yang biasanya sunyi senyap.
Beberapa tetangga bercerita pada malam sebelum Cahyo tiada, terdengar gemeretak ranting pohon di belakang kebunnya. “Aku dengar suara monyet merintih,” kata Siti, penjual sayur keliling, suaranya gemetar seolah baru saja melihat bayangan. Langkahnya berat ke depan pagar bambu, lampu petromak goyah diterpa angin dingin yang tiba-tiba muncul.
Menurut Pak Slamet, tokoh warga setempat, Cahyo sering membawa sesajen ke pohon besar di tengah hutan. Lampu minyak tanah dan gelas berisi air didirikan tiap malam Jumat. “Jika tidak ada sesajen, monyet-monyet itu mulai mengintai dari pepohonan,” ujarnya dengan mata merah sembab, mengunyah kata takut yang tak terkira.
Pada malam ketika ritual dilakukan, beberapa penduduk mendengar pesan pesan bahasa Jawa kuno dari suara lelaki—lalu monyet-monyet bergelantungan dari pohon-pohon. Cahyo tampak berdiri di depan sesajen, wajahnya tertutup kabut tipis, tangan memanggul bambu yang berlumuran kotoran. Bau anyir darah dan tanah basah menyebar hingga ke sumur-sumur.
Di saat bulu mulai muncul, penduduk melihat satu sosok tinggi mirip primata berjalan keluar pagar rumah Cahyo. “Itu dia! Monyetnya berjalan seperti manusia!” teriak Joko, pemuda dusun yang menatap horor. Cahyo tertatih, tubuhnya bergetar, suaranya berubah serak, tak bisa berkata kecuali lenguhan panjang nyaris tak manusiawi.
Arwah-arwah yang menyertai sosok tersebut dikatakan warga muncul di malam-malam hening sesudah Cahyo tiada. Bayangan berkeliaran di kamar tidur kosong, hal-hal bersilat halus lewat dinding. Waktu lewat larut tengah malam, suara berbisik memanggil namanya: “Cahyo… Cahyo…” seolah dari balik lantai kayu, kasar dan penuh dendam.
Seorang perempuan tua, Mbok Siem, melihat Cahyo di impian buruknya. Tubuhnya separuh manusia separuh kera, matanya merah menyala dalam gelap. “Ia menjerit: ‘Aku telah kehilangan harga diriku!’” katanya pada yang menemani, lalu tubuh Cahyo melenting ke pohon besar, ranting patah jatuh menimpa tanah dengan suara kosong yang membuat Mbok Siem terjaga berkeringat dingin.
Keheningan setelah kematian Cahyo malah memperkuat mitos di dusun. Anak-anak tak berani lewat kebun pada malam hari, anjing-anjing menggonggong tanpa sebab, dan udara malam menjadi tebal sesak. Warga memasang jimat di pintu rumah: kain putih, kemenyan hangus, dan boneka kecil berbulu monyet agar arwah tak menjerat.
Pihak yang pernah memberi tahu Cahyo agar berhenti mempercayai praktek kuno itu berkata padanya, “Tinggalkan ritual mu, Cahyo! Jangan kau permainkan alam dan arwah!” namun suaranya tenggelam ditelan malam saat Cahyo memilih tetap berjalan ke hutan, berani menantang bayangan. Kini ia hilang, tak bisa pulang, tubuhnya dijaga gelap yang tak tertembus siang sekalipun.
Akhirnya, cerita tentang Ritual Pesugihan Monyet Ngujang menjadi pelajaran pahit. Warga menyadari betapa dalamnya pengaruh kepercayaan yang salah kepada manusia dan arwah gelap. Hutan yang dulu tempat mencari kayu kini diselimuti ketakutan, suara ranting yang patah di malam sunyi selalu mengingatkan bahwa ritual kera pesugihan tidak pernah membawa kemakmuran, hanya kehancuran.
Redaksi Energi Juang News



