Energi Juang News, Jakarta– Langkah kaki Maman (62) orang yang dianggap tua membawa rombongan peziarah, menggema pelan saat memasuki halaman gedung tua yang tampak muram sejak pandangan pertama. Lampu-lampu di teras menyala remang, nyaris tak berguna melawan bayangan panjang yang menempel di dinding cat kusam. Anehnya, tak terlihat satu pun petugas museum berjaga. Yang ada hanya beberapa ibu-ibu dengan anak kecil yang tampak terburu-buru setelah kunjungan singkat dari kawasan wisata seberang. “Sepi banget ya, Bu,” ujar salah satu ibu sambil menggandeng anaknya. Ibu lainnya mengangguk cepat, “Ayo cepetan, nggak enak rasanya.” Mereka pun melangkah cepat, meninggalkan sosok Maman yang berjalan tertatih dan akhirnya sendirian di depan gedung sunyi itu.
Begitu pintu gedung tertutup di belakangnya, suasana berubah drastis. Di dalam, kesunyian terasa padat, seperti menekan dada. Setiap langkah kaki terdengar jelas memantul di lorong panjang. Tanpa petugas, Maman hanya mengandalkan papan penunjuk arah usang yang hurufnya mulai terkelupas. “Kok kayak ditinggal, ya,” gumamnya pelan. Aura gedung ini terasa jauh lebih berat dibanding halaman depan, membuat jantung berdetak lebih cepat tanpa alasan jelas. Bau debu bercampur aroma besi tua menyeruak, menusuk hidung dan memancing rasa mual yang samar.
Deretan benda sejarah terpajang di balik kaca, namun bukannya memberi rasa hormat, justru memunculkan ketegangan. Senjata perang, bayonet berkarat, dan mortir tua berdiri bisu, seolah masih menyimpan ingatan tentang jeritan manusia. Pakaian korban berlumur darah dipajang tanpa ditutup sepenuhnya, noda kecokelatan itu tampak nyata dan mengering. Foto-foto otentik evakuasi jenazah para jenderal terpampang tanpa sensor. Wajah-wajah kaku dengan mata terpejam seolah menatap balik. “Ini beneran dipajang begini?” bisik Maman, tangannya gemetar ringan.
Rasa dikuntit muncul lagi. Ada langkah kaki lain yang terdengar pelan, mengikuti ritme jalannya. Setiap kali ia berhenti, langkah itu pun berhenti. Ketika ia menoleh cepat ke belakang, lorong kosong menyambutnya. “Halah, perasaan aja,” katanya berusaha menenangkan diri. Namun bulu kuduknya berdiri, dan udara di sekeliling terasa semakin dingin. Dalam hati, Maman mengulang doa pendek, memaksa pikirannya tetap rasional di tengah suasana yang makin menekan.
Saat menaiki tangga menuju lantai dua, suara itu kembali muncul, kini lebih jelas. Bukan sekadar langkah, melainkan bisikan halus seperti panggilan. “Ssssttt…” terdengar lirih, disusul tawa kecil yang menggema sebentar lalu menghilang. “Jangan macem-macem,” ujar Maman dengan suara tertahan. “Saya cuma numpang lihat.” Entah kepada siapa ia bicara, namun bisikan itu seolah menjawab dengan keheningan yang lebih pekat.
Ia kemudian menyeberangi jembatan penghubung menuju gedung kedua yang tampak lebih baru. Catnya masih segar, udara di dalam sejuk berkat pendingin ruangan. Namun justru di sinilah rasa tidak nyaman semakin kuat. Gedung ini memiliki banyak pintu yang mengarah ke ruangan-ruangan tak berlabel, menyerupai labirin. “Kok banyak banget pintunya,” gumam Maman. Di sebuah diorama kecil tentang penculikan anak Jenderal A.H. Nasution, ia melihat bayangan seseorang melintas di kaca, lalu masuk ke salah satu pintu yang terbuka.
“Mas, itu nggak boleh masuk!” serunya refleks, mengira ada pengunjung lain. Namun sosok itu tak menoleh. Maman bergegas mengejar, langkahnya kini tak lagi tertatih. Begitu sampai di ambang pintu, ia tertegun. Ruangan besar itu kosong melompong, tanpa perabot, tanpa manusia. “Lho, ke mana orang tadi?” bisiknya panik. Saat itulah ingatannya melayang pada sosok misterius yang pernah ia lihat di rumahnya sendiri. Sensasinya sama, dingin dan mengintimidasi.
Dengan napas memburu, Maman kembali ke jalur pengunjung. Ia melanjutkan langkah menuju ruang barang bukti, tempat baju-baju para jenderal yang berlumuran darah dan mainan mendiang Ade Irma Suryani dipajang. Begitu masuk, suasana berubah drastis. Aura ruangan ini begitu kuat hingga menusuk perasaan. Tanpa alasan jelas, dada Mamant terasa sesak. Sedih, takut, dan panik datang bersamaan. “Ya Allah…” ucapnya lirih, matanya mulai berkaca-kaca.
Ia ingin pergi, namun kakinya terasa berat, seolah ada yang menahan. Dalam diam, ia merasakan kehadiran lain yang ingin didengar. Seakan-akan ruang itu memaksanya merasakan penderitaan yang pernah terjadi. Dua menit terasa seperti seabad. Tiba-tiba, sebuah tangan dingin mencengkeram pundaknya. Bukan sentuhan kasar, tapi cukup kuat untuk membuat tulang terasa nyeri. “Dingin… banget,” desahnya nyaris tak bersuara.
Menyadari bahaya jika berlama-lama, Maman menarik napas panjang dan mengumpulkan keberanian. “Saya pamit,” katanya perlahan. “Terima kasih sudah mengizinkan saya melihat.” Ia melangkah keluar sambil mengucap salam perpisahan, berharap apa pun yang mengikutinya mau melepaskan. Anehnya, tekanan itu perlahan menghilang. Udara terasa sedikit lebih ringan.
Saat akhirnya keluar gedung, seorang warga tua yang duduk di bangku taman menatapnya lekat. “Mas, habis dari dalam?” tanyanya pelan. Maman mengangguk. Orang itu menghela napas panjang. “Kalau masih bisa pulang, berarti sampeyan diizinkan,” katanya lirih. Kalimat itu membuat Maman merinding, karena ia tahu, tidak semua orang seberuntung dirinya.



