Selasa, Maret 17, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaSusuk Terlarang Terapis Spa Jakarta

Susuk Terlarang Terapis Spa Jakarta

Energi Juang News, Jakarta– Gita dikenal sebagai terapis spa yang memesona di kawasan Jakarta Pusat. Setiap hari senyumnya menenangkan pelanggan, gerakannya lembut, dan wajahnya selalu tampak segar seolah tak pernah disentuh kelelahan. Namun di balik kecantikan itu, Gita sering terbangun di tengah malam dengan dada sesak dan keringat dingin. Ada bisikan samar yang kerap terdengar dari sudut kamar, seolah seseorang memanggil namanya dengan suara parau. “Ini cuma stres,” katanya pada diri sendiri, meski hatinya tahu ada sesuatu yang jauh lebih gelap sedang mengintainya.

Obsesi Gita terhadap penampilan perlahan berubah menjadi keputusan nekat. Ia percaya kecantikannya adalah modal hidup, dan ketakutan akan kehilangan pesona membuatnya mencari jalan pintas. Seorang kenalan lama berbisik, “Kalau mau awet cantik, ada cara lama yang ampuh.” Dari situlah Gita mengenal ritual susuk. Awalnya ragu, namun dorongan batin yang tak wajar membuatnya mengiyakan. Sejak saat itu, hidupnya berubah. Bayangan hitam mulai muncul di cermin, dan setiap malam ia merasakan nyeri aneh di tubuhnya.

Kutukan mulai terasa nyata ketika Gita mencoba menghentikan ritual itu. Rasa panas menjalar di bawah kulit, disertai mimpi buruk yang sama berulang-ulang: seorang perempuan tanpa wajah menatapnya sambil tertawa. Gita mendatangi beberapa paranormal. “Susuk ini dalam, Neng. Bukan sembarang,” ujar seorang dukun tua sambil menggeleng. Warga sekitar tempat praktik bahkan berbisik, “Kalau susuknya salah pasang, yang datang bukan cantik, tapi penunggu.”

Harapan Gita nyaris padam saat bertemu seorang paranormal yang mengaku mampu melepaskan semua susuk. Di rumah gelap penuh bau kemenyan itu, sang dukun berkata pelan, “Ada syarat berat. Kalau tidak, arwah penunggu akan murka.” Dalam kondisi tertekan, Gita menuruti ritual yang disebut “pembersihan tubuh”. Namun yang terjadi justru meninggalkan luka batin mendalam. Istri sang dukun hanya menunduk di sudut ruangan, berbisik lirih, “Sudah… jangan dilawan, nanti lebih parah.”

Trauma itu menghantui Gita berhari-hari. Setiap mendengar suara pintu berderit, tubuhnya gemetar. Ia merasa kotor, terjebak, dan semakin jauh dari jalan keluar. “Aku mau mati saja,” ucapnya menangis kepada Maia, sahabatnya. Maia menggenggam tangan Gita erat. “Jangan. Kita cari cara lain. Aku tahu tempat di Cianjur, tapi syaratnya aneh,” katanya dengan wajah serius. Gita mengangguk tanpa bertanya, karena tak ada lagi yang bisa ia harapkan.

Mereka tiba di sebuah kampung sunyi di Cianjur yang diselimuti kabut tipis. Warga memandang mereka dengan tatapan penuh selidik. Seorang ibu tua berbisik kepada tetangganya, “Itu pasti yang bawa susuk berat.” Pengobatan alternatif itu mengharuskan Gita membawa koin-koin kuno. “Koin ini saksi janji lama,” ujar tetua kampung. “Kalau penunggunya marah, nyawa taruhannya.” Gita menelan ludah, jantungnya berdegup tak karuan.

Ritual dilakukan tengah malam di sebuah rumah panggung tua. Lampu minyak berkelip, bayangan manusia menari di dinding. Saat mantra dilantunkan, Gita merasakan tubuhnya ditarik oleh kekuatan tak terlihat. Dari kejauhan terdengar suara warga berdoa. “Tahan, Neng! Jangan menjerit!” teriak seseorang. Gita menangis, merasa ada benda dingin bergerak keluar dari tubuhnya, disertai jeritan melengking yang bukan berasal dari mulutnya sendiri.

Tiba-tiba angin kencang menerpa, pintu rumah terbanting. Sosok hitam menyerupai perempuan muncul di sudut ruangan, matanya kosong. “Janji… dilanggar…” desisnya. Beberapa koin kuno berjatuhan ke lantai, bergetar hebat. Tetua kampung menghardik, “Pergi! Dia sudah menyesal!” Sosok itu menjerit panjang sebelum menghilang bersama bau anyir yang menusuk hidung.

Gita pingsan dan terbangun keesokan paginya dengan tubuh lemas. Warga berkumpul di luar rumah. “Kalau dia selamat, itu mukjizat,” ujar seorang pria. Maia memeluk Gita erat. “Kamu bebas sekarang,” katanya terisak. Namun bekas trauma tak hilang begitu saja. Setiap menutup mata, Gita masih mendengar suara tawa samar, mengingatkannya pada harga mahal yang harus dibayar.

Kisah Gita kemudian menyebar luas di dunia maya dan ditonton jutaan kali. Banyak netizen menuliskan komentar, “Ini peringatan buat kita semua.” Susuk Terlarang Terapis Spa bukan sekadar cerita horor, melainkan cermin gelap tentang obsesi, tipu daya, dan bahaya praktik perdukunan. Bagi Gita, hidup memang berlanjut, tetapi bayangan malam itu akan selalu menjadi luka yang mengingatkan: ada hal-hal yang seharusnya tidak pernah disentuh manusia.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments