Energi Juang News, Jakarta– Di sebuah desa terpencil di kaki Wilis, penduduknya masih mempercayai kekuatan gaib yang disebut santet susuk konde. Tak banyak yang berani membicarakannya secara terbuka karena dipercaya bisa mengundang bala. Seorang warga tua bernama Mbah Rusmi mengatakan, “Ilmu itu bukan sembarangan. Bila Sarti terkena tulah akibat susul itu, bisa membuat tubuhmu panas seperti dibakar dari dalam.” Cerita ini bermula dari pengalaman nyata seorang wanita bernama Sarti yang tiba-tiba merintih kesakitan tanpa sebab jelas.
Sarti dikenal sebagai penjual jamu keliling. Suatu hari ia pulang dengan tubuh menggigil dan mengeluh perutnya seperti ditusuk-tusuk jarum. Dokter setempat tak menemukan penyakit apapun, namun rasa sakit itu kian menjadi. Sampai akhirnya keluarga membawa Sarti ke rumah sakit di kota dan dilakukan rontgen. Hasilnya mengejutkan. Terdapat bayangan benda asing seperti kawat, paku, dan pecahan kaca dalam perut dan lengannya. Semua itu seakan bersarang dalam tubuhnya, padahal tak ada luka luar sama sekali.
Warga yang mengetahui kejadian itu segera mencurigai santet susuk konde. Konon, jenis santet ini menggunakan susuk dari logam tajam yang disisipkan ke tubuh korban tanpa melalui luka fisik. Seorang dukun sakti dari daerah lain menyebut bahwa susuk konde biasanya bekerja atas permintaan seseorang yang dendam atau iri hati. “Kalau niatnya jahat, tubuh bisa penuh dengan benda-benda logam. Itu bukan sekadar santet biasa, tapi bentuk kutukan,” jelas dukun itu kepada warga yang berkumpul malam hari di balai desa.
Menurut mitos, pelaku santet susuk konde harus menyediakan tumbal sebelum mengirimkan ilmunya. Tumbalnya bukan sembarangan, biasanya ayam cemani atau kerbau hitam dengan darah yang dianggap sakral. Salah satu warga, Pak Darto, mengaku pernah mendengar suara tangisan binatang saat malam Jumat Kliwon, “Itu suaranya bukan dari dunia kita. Seperti ada yang menyembelih tanpa suara, hanya isak tangisnya yang terdengar,” katanya sambil menyalakan rokok dengan tangan gemetar.
Setelah kejadian itu, Sarti tak pernah benar-benar sembuh. Tubuhnya makin melemah dan wajahnya berubah pucat, seperti kehilangan darah. Dari perutnya mulai muncul seperti kawat berduri dan paku sambil mengeluarkan nanah. Kadang ia berbicara sendiri, menyebut nama seseorang yang tidak dikenal keluarganya.
Suaminya, Pak Sarwan, mengaku beberapa kali menemukan rambut wanita yang sangat panjang di tempat tidur mereka, meski sang istri berambut pendek. “Aku curiga, ini bukan hanya santet. Tapi ada yang ikut tinggal di rumah ini,” ujarnya lirih.
Dukun desa setempat pun akhirnya melakukan ritual khusus di rumah Sarti. Warga berkumpul dengan membawa kemenyan, bunga tujuh rupa, dan kendi air. Saat prosesi berlangsung, terdengar suara seperti benda logam jatuh dari atap. Ketika dicari, mereka menemukan sebatang paku yang masih hangat dan berlumur darah. Warga panik, sementara Mbah Rusmi hanya berkata lirih, “Itu tandanya susuk kondenya belum lepas sepenuhnya.”
Waktu terus berjalan, namun teror tak kunjung usai. Bahkan, beberapa tetangga mulai mengeluh mimpi buruk dan mendengar suara rintihan tengah malam. “Saya mimpi ditusuk-tusuk dan pas bangun, dada saya lebam biru,” ujar Bu Mirah, tetangga yang tinggal di sebelah rumah Sarti. Warga pun mulai menghindari keluarga tersebut. Ada ketakutan yang menjalar, bahwa energi negatif dari santet itu bisa menular.
Akhirnya keluarga Sarti memutuskan pindah ke daerah lain, meninggalkan rumah yang kini dianggap berhantu. Rumah itu kosong, tapi suara aneh kadang masih terdengar saat malam. Beberapa orang berani yang mencoba masuk mengaku merasa ditatap dari kegelapan. Satu di antaranya bahkan mengaku mencium bau anyir darah padahal tak ada apapun di dalam rumah. “Rumah itu tak lagi milik manusia,” bisik warga yang tinggal tak jauh dari sana.
Kisah santet susuk konde ini masih menjadi buah bibir hingga hari ini. Sebuah pengingat bahwa ilmu hitam tidak hanya hidup dalam cerita lama, tapi bisa mengintai siapa saja yang lengah dan terbakar rasa benci. Warga desa kini lebih waspada, menghindari pertikaian dan menjaga hubungan baik. Karena mereka tahu, di balik konde yang terlihat anggun, bisa tersimpan teror yang menyiksa tubuh dan jiwa manusia tanpa ampun.
Redaksi Energi Juang News



