Energi Juang News,Kalbar- Kabut turun lebih cepat sore itu, menyelimuti jalan tanah yang membelah hutan Kalimantan. Udara lembap menempel di kulit seperti napas yang tak terlihat. Tiga orang anak muda Wiji, Raka, dan Dimas datang dengan niat sederhana: mendokumentasikan cerita-cerita lama yang mulai dilupakan generasi muda.
Warga desa terakhir yang kami singgahi memperingatkan agar mereka tidak masuk terlalu dalam. Namun rasa penasaran mengalahkan kehati-hatian. Di kejauhan, pepohonan ulin berdiri seperti tiang penyangga langit yang gelap. Tidak ada suara burung. Hanya desir angin dan gemerisik dedaunan yang terdengar seperti bisikan.
“Kalau kalian dengar suara orang memanggil nama, jangan jawab,” kata seorang lelaki tua bernama Pak Jantur sebelum mereka berangkat.
Wiji mengira itu hanya bumbu cerita. Hingga malam pertama di pondok kayu dekat rawa, mereka mendengar sesuatu.
Suara langkah.
Pelan. Berat. Mengitari pondok.
Raka menegang. “Kalian dengar itu?”
Dimas mengangguk, wajahnya pucat. “Itu bukan babi hutan.”
Langkah itu berhenti tepat di depan pintu. Lalu sunyi. Hanya detak jantung mereka yang terdengar di telinga sendiri.
Keesokan paginya, kami kembali ke desa dan bertanya lebih jauh tentang sosok yang diyakini menghuni hutan itu. Warga menyebutnya dengan satu nama yang membuat mereka otomatis menunduk Misteri Hantu Pampahilep.
Menurut cerita yang beredar di kalangan masyarakat Dayak, Pampahilep biasanya digambarkan sebagai makhluk tinggi besar dengan wajah rusak atau menyeramkan. Kadang ia muncul dalam rupa manusia aneh—matanya kosong, senyumnya terlalu lebar. Di lain waktu, ia hanya tampak sebagai bayangan hitam yang berdiri di antara pepohonan.
“Dia bukan sekadar hantu,” ujar Ibu Sondang, seorang perempuan paruh baya yang tinggal di tepi desa. “Dia penunggu. Roh yang tidak tenang.”
Konon, Pampahilep berasal dari arwah orang yang meninggal tidak wajar dibunuh, tersesat, atau mati sendirian di hutan. Rohnya tidak diterima bumi maupun langit, lalu berubah menjadi makhluk gaib yang menyesatkan siapa saja yang masuk wilayahnya.
“Orang bisa tiba-tiba linglung,” tambah Pak Jantur. “Jalan lurus rasa berputar-putar. Sudah dekat desa, tapi seperti ditarik kembali ke dalam.”
Wiji mencatat semuanya. Kisah seram Pampahilep terdengar seperti legenda klasik. Namun ekspresi warga tidak menunjukkan mereka sedang mendongeng.
Seorang pemuda desa bernama Arman,17th bahkan mengaku pernah mengalaminya.
“Saya cuma cari rotan, tidak jauh dari sini,” katanya pelan. “Tiba-tiba hutan jadi sunyi sekali. Lalu saya lihat sosok tinggi di antara pohon. Wajahnya seperti meleleh… matanya kosong.”
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Wiji.
“Saya lari. Tapi aneh, Mas. Saya merasa sudah lari lurus. Tahu-tahu kembali ke tempat pertama.”
Arman mengaku baru bisa keluar setelah pingsan dan ditemukan warga keesokan harinya.
Cerita mistis Pampahilep semakin terasa nyata ketika mereka memutuskan kembali ke hutan untuk merekam suara malam. Kali ini, Pak Jantur memberi kami jimat kecil dari akar kering.
“Bukan jimatnya yang penting,” katanya. “Sikap kalian. Jangan sombong. Jangan berkata kasar.”
Malam kedua, mereka berjalan lebih dalam. Hutan terasa berbeda—lebih dingin, lebih berat. Kabut menggantung rendah di antara batang pohon.
Tiba-tiba Dimas berhenti.
“Aku dengar ibu memanggil,” bisiknya.
“Kamu ngaco,” Raka menepuk bahunya.
Tapi aku juga mendengarnya. Suara perempuan tua, lirih, memanggil nama Dimas dari arah rawa.
“Dimas… pulang…”
Langkah Dimas bergerak tanpa sadar menuju suara itu.
“Jangan jawab!” teriak Wiji, teringat pesan Pak Jantur.
Bayangan tinggi tampak sekilas di antara pohon. Hitam pekat, lebih gelap dari malam. Sosok itu berdiri diam, tapi kehadirannya terasa menekan dada.
Wajahnya perlahan terlihat ketika kilat menyambar di kejauhan—rusak, seperti kulit terbakar dan meleleh. Matanya cekung, kosong, namun seolah menatap langsung ke dalam pikiran.
Raka gemetar. “Itu… itu dia?”
Wiji tak mampu menjawab.
Dimas tiba-tiba berputar arah, wajahnya kosong. “Kita sudah dekat jalan pulang,” katanya datar.
Padahal jelas mereka justru makin masuk ke rawa.
Tanpa pikir panjang, Wiji menarik tangannya dan mengeluarkan jimat akar dari saku. “Kita tidak berniat mengganggu,” kata Wiji lantang, berusaha menjaga nada hormat. “Kami hanya tamu.”
Angin bertiup kencang. Bayangan itu bergeser, lalu menghilang di balik kabut.
Beberapa detik kemudian, suara hutan kembali—serangga, burung malam, gemerisik biasa. Dimas tersadar seperti habis mimpi panjang.
“Apa yang terjadi?” tanyanya bingung.
Mereka tidak menjawab sampai berhasil keluar ke tepi hutan.
Keesokan harinya, Pak Jantur mendengarkan cerita Mereka tanpa terkejut.
“Berarti kalian selamat,” katanya singkat.
“Kenapa dia tidak menyerang?” tanya Raka.
“Dia tidak selalu membunuh,” jawabnya. “Kadang hanya ingin kalian tersesat. Hutan ini kuburannya.”
Legenda Pampahilep telah hidup turun-temurun. Banyak orang luar menganggapnya takhayul. Namun data cerita lisan yang dikumpulkan peneliti budaya lokal menunjukkan pola yang sama: kemunculan di hutan lebat, korban yang mendadak linglung, dan bayangan tinggi yang diam mengawasi.
Bagi masyarakat Dayak, cara menghindari roh penunggu hutan ini bukan dengan melawan, melainkan menjaga etika. Tidak berkata kasar. Tidak meremehkan alam. Membawa ramuan tradisional atau benda pelindung sebagai simbol hormat.
“Yang jahat itu bukan hutannya,” kata Ibu Sondang sebelum kami pulang. “Yang jahat itu manusia yang lupa diri.”
Kini, setiap kali Wiji mengingat perjalanan itu, ada satu detail yang terus mengganggu pikirannya.
Rekaman suara malam kedua hilang.
Bukan rusak. Bukan terhapus.
File berdurasi dua jam itu kosong, hanya menyisakan satu suara samar di detik terakhir.
Sebuah bisikan berat, parau, nyaris tak terdengar:
“Jangan kembali…”
Sejak saat itu, mereka tak pernah lagi meragukan Misteri Hantu Pampahilep.
Redaksi Energi Juang News



