Minggu, Mei 31, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaWewe Gombel Penculik Anak yang Bergentayangan di Waktu Maghrib

Wewe Gombel Penculik Anak yang Bergentayangan di Waktu Maghrib

Energi Juang News,Pacitan– Sore itu suasana di kampung Ngadirojo tampak
seperti biasa ramai oleh suara anak-anak bermain dan ibu-ibu yang duduk santai
di taman. Bu Wika, seorang ibu muda yang tinggal di pojok utara kampung, tampak
sedang asyik mengobrol dengan tetangga sambil mengawasi anak semata wayangnya,
Lala, yang duduk termenung di bawah pohon mangga. Biasanya, Lala termasuk anak
yang aktif dan cerewet, tetapi sore itu ia tampak murung, memainkan tanah
dengan jarinya, sesekali melirik ke arah semak-semak seolah ada yang menarik
perhatiannya.

Tak terasa waktu mulai merambat ke magrib.
Kumandang adzan dari masjid membuat para ibu bergegas menggiring anak-anak
mereka pulang. Namun, saat Bu Wika menoleh untuk memanggil Lala, ia
tersentak—Lala tidak terlihat di mana pun. “Lala! Lala! Jangan bercanda, Nak!”
teriaknya panik sambil berlari ke arah taman. Satu per satu sudut diperiksa,
semak-semak digoyang, kolong bangku dilongok, tapi hasilnya nihil. Dalam
kepanikan itu, seorang anak laki-laki berumur sekitar 7 tahun menunjuk ke arah
kebun belakang dan berkata, “Tadi ada nenek-nenek ajak Lala pergi ke sana,
Bu… wajahnya jelek banget.”

Seketika suasana berubah tegang. Beberapa
warga menyebut bahwa apa yang dilihat anak itu bukan manusia, melainkan Wewe
Gombel, makhluk gaib dalam legenda Jawa yang dikenal suka menculik
anak-anak menjelang malam. “Payudaranya panjang, hampir nyapu tanah. Rambutnya
putih kusut. Matanya merah dan besar,” ucap Pak Marno, salah satu warga tua
yang ikut mencari, menggambarkan sosok yang pernah ia lihat puluhan tahun lalu.
Kata-katanya membuat bulu kuduk merinding, karena identik dengan ciri-ciri
klasik hantu Wewe Gombel.

Menurut cerita turun-temurun, hantu Wewe
Gombel adalah arwah wanita yang meninggal dengan dendam karena tak memiliki
anak. Ia dipercaya menculik anak-anak yang dianggap tidak diperhatikan orang
tuanya, lalu dibawa ke dunianya dan dirawat dengan sangat baik. Namun meski
demikian, keberadaannya tetap mengerikan. “Kadang sosoknya berubah, bisa jadi
ibu-ibu, bisa jadi tetangga sendiri. Kita nggak pernah tahu,” kata Bu Sarti,
warga yang dikenal suka menyimpan kisah-kisah mistis.

Kengerian semakin menjadi-jadi ketika malam
tiba. Beberapa warga mengatakan mendengar suara tangisan anak kecil dari arah
kebun kosong. “Kedengeran lirih banget, tapi jelas itu suara Lala,” ucap Pak
Darto, tetangga Bu Wika, sambil menunjuk ke arah pohon beringin tua. Suasana
semakin mencekam ketika lampu-lampu jalan tiba-tiba meredup dan angin dingin
bertiup pelan. Beberapa ibu-ibu mulai menangis, dan Bu Wika hampir pingsan
karena histeris.

Mengikuti petunjuk dari sesepuh kampung, warga
memulai ritual pencarian tradisional untuk memanggil kembali Lala dari
genggaman dunia gaib. Panci, wajan, sendok, dan penutup panci dipukul
keras-keras sambil meneriakkan mantra yang sudah diwariskan turun temurun.
“Blek-blek ting, blek-blek ting, Lala metuo! Lala metuo!” Mantra ini
diulang-ulang selama mereka berkeliling kampung. Setiap suara alat dapur
menggema di antara lorong dan gang rumah warga, membawa harap agar arwah
penasaran itu melepaskan anak malang tersebut.

Sekitar satu jam setelah ritual dilakukan,
seorang anak kecil terlihat berjalan tertatih dari arah kebun dengan mata
kosong dan baju lusuh. “Lala! Ya Allah, Lala!” teriak Bu Wika sambil berlari
memeluk putrinya. Namun yang aneh, Lala tidak menangis atau berbicara. Ia hanya
menunjuk ke arah langit sambil berbisik, “Neneknya baik, tapi dingin.” Ucapan
itu membuat beberapa warga yang mendengar saling berpandangan ngeri. Apa yang
sebenarnya terjadi selama anak itu hilang?

Sejak kejadian malam itu, kampung Ngadirejo
menjadi lebih waspada. Anak-anak dilarang bermain saat surup, dan setiap sore
warga berkumpul di pos ronda untuk berjaga. Bu Wika membawa Lala ke ustaz dan
juga ke dukun kampung untuk ruqyah. “Dia masih sering bicara sendiri. Katanya
si nenek masih datang dalam mimpi,” ucap Bu Wika saat ditemui oleh warga. Meski
Lala akhirnya pulih, tapi trauma dan ketakutan itu tak pernah benar-benar
hilang dari mata gadis kecil itu.

Legenda penculikan anak oleh Wewe Gombel
kembali menjadi buah bibir. Cerita ini bukan hanya sekadar dongeng pengantar
tidur, tapi kisah nyata yang masih dipercaya dan dialami oleh sebagian
masyarakat Jawa. Sosok Wewe Gombel kini menjadi simbol peringatan bagi para
orang tua: jangan lalai dalam menjaga anak, apalagi saat waktu surup menjelang.
Karena mungkin, di balik senyapnya sore, sosok nenek berambut putih masih
mengintai di antara bayangan pepohonan.

Redaksi Energi Juang News


Baca juga :  Dibuntuti dari Gang Kuburan: Teror Gaib yang Menghantui Gadis Desa Geneng-Ngawi-Jawa Timur
Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments