Minggu, Mei 31, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaHoror! Sopir Ambulans Jenazah Dihantui Bercak Darah Korban Kecelakaan

Horor! Sopir Ambulans Jenazah Dihantui Bercak Darah Korban Kecelakaan

Energi Juang News, Jakarta– Malam itu, udara terasa lembab dan langit menggantung awan hitam pekat seolah menyembunyikan sesuatu yang kelam. Wanto, seorang sopir ambulans jenazah dari Surabaya, baru saja mendapat tugas mengantar jenazah seorang wanita paruh baya yang menjadi korban kecelakaan tragis. Korban, diketahui berusia sekitar 40 tahun, meninggal dengan luka parah di bagian kepala. Proses pemandian dan pengkafanan telah selesai menjelang sore, dan menjelang pukul lima, Wanto bersiap untuk perjalanan ke rumah duka di Ngawi. Ia sudah terbiasa menghadapi kematian, tapi malam itu terasa berbeda sejak langkah pertamanya memasuki mobil jenazah.

Perjalanan dimulai seperti biasa, dengan suasana jalan yang perlahan lengang seiring malam menelan kota. Mobil ambulans melaju dengan kecepatan stabil, dan Wanto mencoba memusatkan pikirannya untuk tetap tenang. Namun, saat jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam dan jalanan sudah sangat sepi, sebuah suara lirih mulai terdengar dari belakang. Rintihan samar seperti suara wanita kesakitan menggema di dalam mobil, meskipun jenazah sudah terbujur kaku. Wanto yang mencoba tetap tenang hanya bergumam, “Ah, paling hanya halusinasi, biasa kalau nyupir malam.” Tapi suara itu semakin nyata, seolah ada yang berusaha berbicara.

Dalam keheningan yang mencekam, sebuah bayangan putih tiba-tiba melintas cepat di depan mobil. Refleks Wanto menginjak rem dengan keras, membuat tubuh jenazah terdorong ke depan dan kain kafan yang membungkusnya tersingkap sebagian. Dengan jantung berdegup kencang, ia segera menepi dan membuka pintu belakang untuk merapikan posisi jenazah. Namun begitu ia membuka kain penutup kepala, ia melihat darah segar masih menetes dari luka kepala korban, padahal proses pengkafanan seharusnya sudah menghentikan semua itu.

Baca juga :  Misteri Hantu Lungun: Pemburu Nyawa dari Langit Malam

Tangannya bergetar saat mencoba memperbaiki posisi jenazah. Tetapi hal yang paling membuatnya nyaris pingsan adalah ketika matanya secara tak sengaja bertemu dengan mata si jenazah—terbuka, menatap kosong ke arahnya. Wanto terdiam sejenak, lalu dengan panik menutup kembali wajah korban dan bergegas kembali ke kursi kemudi. “Astaghfirullah… ini jenazah atau apa…” gumamnya pelan. Ia memutuskan untuk mempercepat laju kendaraan agar segera sampai tujuan, walau ketakutan kini menyergap lebih kuat dari sebelumnya.

Setibanya di rumah duka, suasana mendadak menjadi hening saat Wanto menceritakan kejadian menyeramkan di jalan. Salah satu warga, Pak Lik Rono, menanggapi dengan wajah prihatin, “Almarhumah itu katanya pergi ke Surabaya nyari suaminya yang kabur, Mas. Tapi malah ketabrak pas depan THR… katanya memang ada dendam yang belum selesai.” Warga sekitar percaya, arwah korban kecelakaan kadang sulit tenang, terutama jika meninggal dalam keadaan tertekan atau menyimpan emosi mendalam.

Setelah serah terima jenazah dilakukan, dan ambulans dibersihkan seadanya, Wanto pamit kembali ke Ngawi. Namun, sepanjang perjalanan pulang, suara rintihan dan tangisan perempuan terus terdengar dari balik kursi belakang. Bayangan putih bahkan sesekali muncul di kaca spion. Rasa takut yang sebelumnya bisa ditepis kini berubah jadi kepanikan yang nyata. Wanto merasa malam itu adalah malam tergelap sepanjang hidupnya sebagai sopir ambulans.

Ia memutuskan untuk singgah di sebuah warung kopi pinggir jalan demi menenangkan diri. Warung yang tadinya ramai perlahan mulai sepi begitu ambulans berhenti di depannya. Seorang pria tua di sudut warung tiba-tiba menutup hidung dan berkata, “Aromanya nyengat, Mas… ini bau darah, bukan bensin.” Wanto yang merasa tak mencium apa-apa hanya tersenyum kecut dan buru-buru menyeruput kopi sebelum memutuskan pergi lagi. Keanehan demi keanehan terasa semakin nyata malam itu.

Baca juga :  Boneka Berhantu di Sudut Kamar

Setibanya di rumah menjelang dini hari, Wanto mencoba menenangkan diri dan memeriksa perlengkapan ambulans. Saat hendak membersihkan keranda yang digunakan, ia menemukan bercak darah kering yang tertinggal. Darah itu tampak masih segar meski sudah berjam-jam berlalu. “Mungkin ini penyebabnya…,” bisiknya pelan. Ia merasa bahwa selama darah itu belum bersih sempurna, arwah si jenazah masih menumpang, menyuarakan kesedihannya lewat tangisan dan aroma kematian yang menyengat.

Keesokan harinya, Wanto tak keluar rumah. Ia masih terngiang suara lirih dari malam sebelumnya. Beberapa warga bahkan datang untuk menanyakan keadaannya setelah mendengar cerita dari warung kopi semalam. “Mas Wanto, jangan lupa didoakan, ya… jenazah yang tak tenang itu sering butuh pengantar yang juga mengikhlaskan,” ucap seorang tetua kampung. Wanto hanya mengangguk, matanya kosong menatap keranda yang masih berdiri di sudut ruangan, seolah masih menyimpan sosok yang belum sepenuhnya pergi.

Sejak kejadian itu, Wanto mulai lebih hati-hati saat mengantar jenazah. Ia selalu memastikan tak ada darah yang tertinggal, dan selalu memanjatkan doa untuk arwah yang dibawanya. Namun malam itu akan terus membekas dalam pikirannya, sebagai malam di mana tugas sederhana berubah menjadi teror panjang dari dunia yang tak terlihat. Sebuah pengingat bahwa kadang, kematian membawa cerita yang belum selesai.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments