EnergiJuangNews,Solo- Tak semua bangunan tua menyimpan kenangan yang ingin diingat. Di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, Kemlayan, Kota Solo, berdiri sebuah bangunan besar yang kini tampak lebih hidup sebagai wahana wisata ketimbang tempat beristirahat. Dindingnya kusam, jendelanya retak, dan lorong-lorongnya menyimpan sunyi yang aneh. Siang hari ia terlihat biasa saja, tetapi saat senja turun, hawa di sekitarnya berubah berat. Warga sekitar tahu betul, bangunan itu bukan sekadar bekas hotel, melainkan tempat di mana sejarah dan penderitaan saling berkelindan.
Bagi warga sekitar, cerita tentang Hotel Cakra bukan isapan jempol. Mei, seorang perempuan berusia 49 tahun yang membuka warung angkringan sekitar 700 meter dari lokasi, mengaku sejak dulu sudah terbiasa mendengar kisah-kisah aneh. “Teman-teman yang ada di situ banyak melihat sosok-sosok,” ujarnya pelan sambil menuangkan teh panas. “Yang sering itu orang Belanda pakai gaun putih, tapi besar sekali badannya, berdiri di kaca yang retak. Merinding saya kalau ingat.”
Mei mengenang masa ketika bangunan itu masih beroperasi penuh. Hotel tersebut dulunya termasuk hotel berkelas di Solo, tempat orang-orang berada tak sembarangan. “Dulu orang masuk tak kasih Rp100 ribu aja ndak mau,” katanya sambil menggeleng. Namun semua berubah setelah kerusuhan Mei 1998. Demonstrasi besar yang melintas dari kawasan kampus menjalar menjadi amarah massa. Hotel Cakra terkena imbas, dibakar, dirusak, dan akhirnya ditinggalkan. Sejak saat itu, kesunyian mulai mengambil alih.
Di balik statusnya sebagai hotel, bangunan ini menyimpan sejarah yang jauh lebih kelam. Slamet, pria 62 tahun yang kini bekerja sebagai satpam di area bekas hotel, menyebut tempat itu dulunya merupakan pusat militer Jepang atau Kempetai. “Dulu di situ markas tentara Jepang,” ujarnya lirih. “Banyak orang disiksa di dalam. Terutama perempuan Jawa.” Slamet berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Ada yang tidak langsung dibunuh, tapi disiksa sampai kehabisan darah.”
Menurut Slamet, penderitaan itu tidak benar-benar berakhir. Ia pernah mendengar cerita tentang makhluk halus yang merasuki orang-orang tertentu. “Kalau merasuki orang yang pikirannya kosong, dia suka bilang, ‘aku minta tolong dibantu dibunuh sekalian, daripada disiksa sampai sekarang’,” ucapnya. Slamet menghela napas panjang. “Lha kita kan ndak bisa membunuh orang yang sudah meninggal.”
Salah satu kisah yang paling sering dibicarakan warga adalah tentang kamar nomor 13. Slamet mengaku tidak tahu pasti awal mula larangan tersebut, namun hingga kini kamar itu tidak pernah dibuka. “Sampai sekarang pun tidak boleh dibuka,” tegasnya. “Dipakai rumah hantu pun ndak boleh. Kamar nomor 13 itu.” Warga percaya, membuka kamar tersebut berarti mengundang sesuatu yang seharusnya tetap terkunci.
Kepercayaan warga tidak berhenti sampai di situ. Slamet menjelaskan bahwa sebagian masyarakat meyakini arwah orang yang meninggal akan singgah di bangunan itu selama 40 hari. “Jadi misalkan saya meninggal, didoakan sampai 40 hari, itu saya tinggal di situ,” katanya datar. “Menunggu 100 hari baru bergeser ke pemakaman.” Bagi orang luar, keyakinan ini mungkin terdengar ganjil, namun bagi warga sekitar, itu adalah bagian dari hidup sehari-hari.
Dar, warga lain berusia 58 tahun yang tinggal tepat di samping bangunan tersebut, memiliki pandangan berbeda. Ia mengaku tidak pernah diganggu. “Nggak sama sekali,” katanya sambil menjaga toko kelontongnya. “Cuma kalau orang yang masuk ke situ, kadang dengar suara sepatu tentara, ‘prok prok prok’, kaya lagi baris-berbaris.” Dar menyebut suara itu sering terdengar malam hari, seolah ada pasukan tak kasatmata yang masih berjaga.
Selain suara, penampakan juga kerap muncul bagi orang-orang tertentu. “Ada mbak-mbak yang nunggu dulu itu sering diperlihatkan,” ujar Dar. Ia menirukan suara lirih yang sering diceritakan pengunjung, “‘Bu, aku dongakno…’ minta didoakan.” Tak jauh dari situ, terdapat sebuah sumur tua yang kini ditumbuhi pohon besar. Pohon itu sudah beberapa kali ditebang, namun selalu tumbuh kembali. Warga percaya penunggu sumur tidak mengizinkan pohonnya dihilangkan.
Kini, bekas Hotel Cakra Solo telah berubah menjadi wahana rumah hantu yang ramai dikunjungi. Ironisnya, apa yang dianggap hiburan oleh pengunjung justru merupakan kenangan pahit bagi bangunan itu sendiri. Warga sekitar memilih berdamai, hidup berdampingan dengan cerita-cerita yang tak pernah benar-benar hilang. “Dulu takut,” kata Dar menutup ceritanya, “sekarang sudah biasa.” Namun bagi siapa pun yang melangkah masuk tanpa tahu sejarahnya, jeritan masa lalu mungkin masih menunggu untuk didengar.
Redaksi Energi Juang News



