Energi Juang News, Magelang– Menjelang sore hari di pinggiran desa Banyusari, suasana persawahan mulai berubah. Angin sejuk membawa aroma tanah basah yang khas, sementara cahaya jingga dari matahari perlahan merunduk di balik perbukitan. Di tengah ketenangan tersebut, terdengar sayup-sayup suara gemerisik belalang yang anehnya terasa berbeda dari biasanya. Banyak warga percaya, saat seperti inilah hantu Menthek mulai menampakkan diri. Ia bukan hantu biasa, melainkan sesosok arwah anak kecil yang menghuni sawah dan gemar memakan belalang hidup-hidup.
Konon, Menthek memiliki tubuh mungil seperti anak berusia lima tahun, namun dengan mata besar yang menyala hijau saat malam menjelang. Rambutnya panjang, acak-acakan, dan kulitnya selalu tampak basah seperti baru keluar dari lumpur. Ia sering terlihat merangkak cepat di antara rumpun padi, menyergap belalang dengan kecepatan yang tidak wajar. “Waktu panen dua tahun lalu, aku lihat sendiri ada anak kecil di tengah sawah pas magrib, tapi dia hilang begitu saja,” kata Pak Sardi, seorang petani senior di desa tersebut. “Waktu itu padi di petakku banyak yang kopong, padahal sebelumnya subur.”
Menthek tak hanya menakutkan karena penampilannya, tetapi juga karena kemampuannya yang tak masuk akal. Ia bisa memindahkan isi bulir padi dari satu sawah ke sawah lain. Petani yang sawahnya ‘dicuri’ oleh Menthek hanya akan memanen jerami kosong, sementara sawah lain tiba-tiba melimpah meski tak terlihat dirawat. Inilah alasan mengapa masyarakat Jawa masih menjalankan tradisi wiwit, yakni ritual awal panen yang disertai sesaji untuk arwah-arwah penjaga sawah. “Sesaji itu buat Dewi Sri dan juga supaya Menthek nggak ganggu panen kita,” ujar Bu Lastri, seorang ibu-ibu tani yang setiap tahun menyiapkan ubo rampe wiwit.
Pernah suatu malam, seorang pemuda desa nekat lewat sawah tanpa sengaja menginjak sesaji wiwit yang belum sempat dibersihkan. Keesokan harinya, ia mengalami demam tinggi disertai mimpi buruk berulang tentang anak kecil yang mengejarnya sambil tertawa. “Aku lihat dia duduk di pematang, matanya hijau terang, dan mulutnya kotor penuh sisa belalang,” kisah si pemuda kepada warga saat kondisinya mulai membaik. Sejak saat itu, tidak ada lagi yang berani meremehkan tradisi wiwit, karena mereka sadar bahwa gangguan dari makhluk halus seperti Menthek bukan hanya cerita isapan jempol.
Warga Desa Banyusari meyakini bahwa Menthek dulunya adalah anak kecil yang meninggal karena tersesat dan kelaparan di sawah. Namun karena kematiannya tidak diketahui dan jasadnya tak pernah ditemukan, arwahnya gentayangan dengan rasa lapar abadi, khususnya terhadap belalang yang menjadi satu-satunya sumber makanannya. Beberapa tetua desa bahkan pernah menggelar ritual pemanggilan arwah untuk menanyakan asal-usulnya, namun dihentikan karena mendadak angin kencang melanda dan lampu-lampu padam seketika. “Waktu itu kami semua lari, bahkan dukun desanya jatuh pingsan,” kata Pak Darto yang ikut menyaksikan kejadian itu.
Meski Menthek dikenal sebagai arwah anak-anak, namun perilakunya sangat mengganggu dan sering menimbulkan kerugian besar bagi para petani. Bahkan ada yang percaya bahwa jika belalang di sawah jumlahnya berkurang drastis secara tiba-tiba, itu pertanda Menthek sedang berkeliaran. “Padahal kita butuh belalang untuk ekosistem sawah, tapi kalau semua dimakan dia, bisa rusak semuanya,” ujar Pak Karno, seorang petani organik yang sawahnya pernah mengalami gagal panen mendadak. Sejak itu, ia selalu menaruh bunga tujuh rupa di tiap pojok sawah sebagai bentuk penghormatan pada penghuni gaib.
Mitos tentang Menthek bukan hanya cerita turun-temurun, tetapi juga menjadi bagian penting dari kearifan lokal masyarakat desa. Kehadiran Menthek dipercaya menjadi pengingat agar manusia menjaga sikap hormat terhadap alam dan makhluk tak kasat mata. Itulah sebabnya, wiwit bukan hanya upacara, tetapi bentuk komunikasi spiritual antara manusia dengan roh-roh penjaga alam. Dalam setiap sesaji, selalu diselipkan doa agar sawah terhindar dari gangguan, termasuk dari makhluk seperti Menthek. “Wiwit itu warisan dari nenek moyang, bukan cuma adat tapi perlindungan juga,” ucap Mbah Samin, tetua desa yang dipercaya sebagai penjaga tradisi.
Walau zaman semakin modern, keberadaan Menthek masih menjadi topik hangat yang diperbincangkan dari generasi ke generasi. Bahkan anak-anak pun sudah diingatkan agar tidak bermain terlalu sore di sekitar sawah, agar tidak ‘dibawa’ oleh sosok anak kecil pemakan belalang itu. “Kalau kamu lihat anak kecil sendirian di sawah waktu magrib, cepat lari, jangan samperin,” nasihat yang masih sering terdengar dari orang tua kepada anak-anak mereka. Kepercayaan ini terus hidup berdampingan dengan kehidupan modern, menjadi bagian dari identitas budaya yang tetap dijaga.
Malam hari di Banyusari tak pernah benar-benar sepi. Di antara desir angin dan suara katak sawah, sesekali terdengar suara kecil seperti anak tertawa atau belalang yang mendadak sunyi. Bagi mereka yang percaya, itu adalah tanda bahwa Menthek masih ada, mengintai di balik bayang-bayang ilalang yang gelap. Sosok mungil yang pernah terlupakan, kini hidup sebagai legenda menyeramkan yang menuntut pengakuan. Apakah Anda berani berjalan sendirian di sawah saat senja? Di tempat di mana anak kecil lapar terus mencari santapan terakhirnya: seekor belalang.
Redaksi Energi Juang News



