Senin, Maret 16, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaSuanggi, Jelmaan Penyihir Ilmu Hitam

Suanggi, Jelmaan Penyihir Ilmu Hitam

Energi Juang News, Maluku– Di suatu senja di pinggir hutan lebat di tanah Papua, udara tiba-tiba berubah panas dan berat, seolah ada makhluk yang menatap dari balik pepohonan. Warga kampung melihat angin berhembus keras dan mendengar bisikan samar lalu lampu di ujung jalan padam. Seorang warga tua bernama Pak Sulaiman membuka pintu rumahnya dan bergumam, “Kenapa malam ini sunyi sekali? Seolah ada yang berjalan di belakang rumah…” Ia tersenyum getir sebelum menutup kembali pintu dan mengunci jendela. Dalam hati ia takut bahwa mitos itu benar-benar berdiri malam ini.

“Dulu anak kami yang keluar setelah gelap tidak pernah kembali dengan tenang,” ujar Ny. Maria, seorang ibu yang tinggal di tepi desa. “Katanya ada sosok yang berubah wujud menjadi wanita cantik, menarik perhatian pria hidup belang, lalu … hilang begitu saja.” Suara Ny. Maria terdengar bergetar saat ia menceritakan pengalaman tetangganya yang mengalami mimpi buruk selama berhari-hari selepas malam di mana sinar bola api terbang melintas di atas rumah mereka. Warga kampung pun terdiam, tahu bahwa kepercayaan terhadap makhluk itu bukan sekadar cerita sebab mereka pernah mendengar suara gemeretak di atap kayu, melihat bayangan melintas cepat di luar jendela, dan merasakan hawa dingin menyeruak hingga tulang.

Ketika malam semakin larut, saya menempel di balik jendela rumah kayu bergoyang karena angin lembah. Tiba-tiba saya melihat sebuah bola api merah-jingga melayang rendah di atas atap rumah di ujung kampung, lalu menukik ke arah hutan. Seorang lelaki muda keluar untuk mengambil kayu bakar dan berhenti sambil menatap langit. “Apa itu?” katanya terbata-bata. Lalu suara melengking dari jarak yang tak terlihat memecah keheningan membuat bulu kuduk berdiri. Lelaki itu berlari ke rumahnya, lalu warga lain mengetuk pintu keras setelah mendengar teriakannya. Suara warga bergema: “Tutup pintu! Jangan kau lihat ke luar!” malam itu berlari-lari tanpa cahaya, dan keheningan hutan seperti menelan setiap bisikan. Saat fajar, mereka menemukan lelaki itu lemas dan tak sadarkan diri, meski usianya masih muda.

Baca juga : Antu Banyu Sosok Misterius Penunggu Sungai Musi

Sejak malam itu, orang tua lebih ketat menjaga anak-anak dan rumah-rumah menjadi gelap lebih awal. Kepala dusun Pak Herman sering memperingatkan, “Jangan keluar saat suara malam berdesis di angin.” Lampu minyak dipasang di setiap sudut rumah sebagai pelindung sementara dari kegelapan luar. Suara-suara langkah kaki di halaman terdengar saat hujan turun, dan deburan angin membuat bunyi atap mencicit seperti ranting patah. Warga meyakini Suanggi bisa masuk rumah lewat celah atap dan menukik menjadi bayangan atau wanita cantik.

Beberapa malam kemudian, keluarga Pak Sulaiman mendengar tangisan mengenaskan terdengar dari sisi hutan yang berbatasan dengan kampung. Anak-laki kecilnya mengadu, “Aya-aya, dengar suara perempuan menangis di luar.” Istri Pak Sulaiman menenangkan, “Ah jangan kau dengar itu, itu cuma angin.” Namun keesokan harinya mereka terbangun menemukan bekas cakar kecil di daun pintu belakang, dan suara napas berat terdengar di ruang bawah rumah kayu mereka ketika tidur siang. Warga lain mengeluh bahwa korban penyakit aneh kerap muncul setelah malam ketika sosok itu melintas fever tinggi, tulang terasa retak, dan akhirnya kematian tanpa sebab medis yang jelas. Sebagian percaya bahwa Suanggi memasukkan doti-doti atau benda asing ke dalam tubuh korbannya secara magis, merusak organ hingga akhir hayat.

Dalam bisik-bisik malam yang tersebar dari bibir ke bibir warga desa, diceritakan bahwa Suanggi bukan hanya berubah wujud dengan cepat, namun dapat mengendalikan pikiran orang yang lemah dan membawanya ke hutan kemudian tak kembali. “Dia datang dengan senyum manis, lalu tangisannya berubah menjadi tawa, dan lelaki itu tak pernah pulang ke keluarga,” kata seorang tetangga yang enggan disebut namanya. Di sisi lain, beberapa tetua adat mengingat bahwa Suanggi muncul dari tempat yang disebut Gunung Tata di Kampung Ansus, sebagai pusat tempat belajar ilmu hitam tinggi. Para orang tua di kampung bagian timur sana bahkan mengajarkan anak-anak bahwa bola api yang melayang di atas atap bukanlah “kunang-kunang” melainkan sesuatu yang harus dihindari dan ditakuti.

Suatu malam, saya diterima oleh keluarga seorang korban yang baru saja meninggal secara mendadak. Sang ibu memegang tangan anaknya yang dimakan rasa sakit tak tertahankan, sambil berkali-kali berkata lirih: “Suanggi… kau ambil dia dari kami.” Wajahnya pucat, matanya sembab dari tangis. Sang ayah menambahkan dengan gemetar, “Kami lihat bola api di atap jam tiga subuh, lalu anak kami berteriak melihat wanita yang … berubah di jendela.” Suara tangis itu bergema di teras rumah kayu, dan tetangga datang satu persatu membawa lampu senter dan berkeliling pelan-pelan sambil menyanyikan mantra pelindung yang diajarkan oleh tetua adat. Kisah seperti ini membuat kampung itu malam-malamnya terasa berat dan sunyi, seolah bayangan-bayangan melintas di antara pepohonan.

Meski terdengar seperti dongeng, masyarakat lokal tetap menjaga tradisi dan ritual agar jauh dari gangguan makhluk tadi. Beberapa warga mengunci pintu sebelum pukul delapan malam, menyalakan pembakaran kecil dari kayu gaharu sebagai perlindungan, dan menghindari bercanda soal Suanggi agar tidak “dipanggil”. “Jangan kau sebut namanya kalau malam,” ujar seorang ibu sambil menunduk. Ketakutan akan kehadiran Suanggi membuat kehati-hatian menjadi gaya hidup malam hari di kampung tersebut. Cerita-cerita lama tentang penyakit misterius, kematian tak wajar, dan bola api di langit malam terus melingkar di antara keluarga dan tetua adat hingga kini.

Kampung itu, yang dahulu ramai suara tawa anak-anak sampai larut malam, kini berubah sepi setelah gelap. Cahaya lampu mulai redup, dan hanya suara jangkrik serta rintik hujan yang menemani. Angin lembut membawa aroma basah dari dedaunan, namun di balik itu ada rasa dingin yang tak wajar, seperti napas makhluk yang sedang mengintai. Beberapa warga mengaku melihat siluet perempuan berambut panjang di balik pepohonan, menatap rumah lewat jendela dengan mata merah menyala sebelum menghilang begitu saja. Keesokan harinya, mereka membuka pintu dan melihat tapak kaki kecil di atas genting kayu yang lembap.

Malam terakhir berakhir dengan pengakuan Pak Herman: “Dia tak muncul jika kami tidur tenang dan menjaga perkataan.” Meski begitu, ketakutan tetap bergaung saat malam tiba. Kisah tentang Suanggi, jelmaan penyihir ilmu hitam, mengingatkan kita akan misteri malam dan hutan. Jejak, bola api, dan tangisan di hutan menjadi bukti keyakinan yang masih menghantui kampung ini.

Semoga cerita ini membuka mata tentang kekayaan mitos Papua-Maluku. Malam sering menyimpan rahasia tak terlihat.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments