Energi Juang News, Nganjuk– Di sebuah desa kecil yang dikelilingi persawahan luas, malam sering membawa cerita yang membuat warga memilih menutup pintu lebih awal. Pada suatu malam yang sunyi itu, suasana Desa Waung tampak berbeda; angin bergerak pelan, namun menghadirkan rasa dingin yang sulit dijelaskan. Beberapa warga yang masih duduk di pos ronda saling berbisik, seolah merasakan ada sesuatu yang sedang mengintai dari kegelapan. Mereka bahkan saling menegur, “Kowe krungu opo, Le? Kok aku ngrasakne merinding ngene?” tanya seorang pria tua dengan nada ragu.
Di tengah keheningan itu, sebuah truk gandeng merah melintas perlahan melewati jalan utama Desa Waung. Truk itu dikemudikan Sudarmaji, seorang sopir berpengalaman yang terbiasa melintasi jalur panjang Nganjuk–Surabaya. Namun malam itu terasa berbeda baginya. Di luar dugaan, Sudarmaji merasa pikirannya kosong, seolah ada sesuatu yang menarik kesadarannya. Ketika truknya mendekati sebuah gang sempit, ia melihatnya seperti jalan besar yang terbentang lebar. “Lho, kok dalane katon amba ngene?” gumamnya tanpa sadar, sementara dari kejauhan beberapa warga menatap dengan heran.
Begitu truk itu tiba-tiba membelok tajam ke gang selebar dua meter, warga langsung berteriak dan berlari mendekat. Salah satu warga, Pak Tarno, bergegas menghentikan truk sambil berteriak, “Pak! Iki gang sempit, kok iso mlebu kene?” Sudarmaji yang kebingungan hingga membuat truknya terperosok ke parit, wajahnya pucat menatap kosong seperti orang kehilangan arah. Setelah turun, ia hanya berkata lirih, “Saya lihat jalannya besar, Pak… sumpah besar sekali. Saya tidak sadar kalau masuk gang sempit.” Warga mulai saling pandang, menyadari ada sesuatu yang tidak wajar.
Setelah situasi sedikit tenang, beberapa warga mencoba memahami apa yang terjadi. Mereka membawa Sudarmaji duduk di pos ronda agar lebih tenang. Di sana, ia menceritakan kembali pengalamannya, bagaimana jalan yang sempit itu tiba-tiba tampak luas dan terang, seolah mengundangnya untuk masuk. “Aku ki rumangsa kaya didadekke wong liyane,” ucapnya dengan suara bergetar. Warga mengangguk, sebagian sudah menduga arah ceritanya, tapi tak ada yang langsung berani menyimpulkan.
Pada saat itu muncullah Mbah Wo, seorang sesepuh desa yang dikenal sering dimintai pendapat soal hal-hal gaib. Ia berjalan pelan sambil membawa lampu tempel dan berkata, “Iki dudu kedadeyan biasa. Ana sing main ing kene.” Beberapa warga menelan ludah, menunggu penjelasan lebih lanjut. Mbah Wo menatap ke arah gang gelap itu cukup lama sebelum melanjutkan, “Gang iki wis suwe ana penungguné. Wong sak desa wis ngerti.” Desanya seolah semakin hening mendengar penuturan itu.
Mbah Wo kemudian mulai menjelaskan tentang sosok yang dipercaya menghuni wilayah itu. Menurutnya, arwah tersebut memiliki wujud tinggi kurus, dengan wajah pucat dan mata cekung berkilat merah, sering muncul pada jam-jam tertentu untuk mengusik para pelintas. “Penunggune seneng ngapusi wong-wong sing pikirane kosong,” katanya. Beberapa warga bergidik ketakutan, sementara seorang pemuda bertanya pelan, “Mbah, tenan kuwi sering muncul?” Mbah Wo mengangguk, dan suasana pun makin berat.
Sosok itu, menurut cerita warga, sering meniru bentuk jalan, rumah, atau bahkan orang untuk menipu penglihatan manusia. Beberapa warga pernah mengalami bayangan samar yang melambai di kejauhan atau mendengar suara memanggil dari arah yang tak seharusnya. “Aku wae biyen meh kesasar mergo krungu ana sing nyeluk,” ujar seorang pemuda bernama Riki. Cerita-cerita itu kini kembali teringat setelah insiden yang menimpa Sudarmaji.
Sudarmaji yang mulai bisa berbicara normal kembali mengaku bahwa sebelum kejadian, ia merasa pikirannya tiba-tiba ringan dan tidak fokus. “Rasane kaya dikebaki angin aneh, lan ndadak kabeh katon beda,” ujarnya. Warga lain mendekat dan mencoba menenangkannya. Seorang ibu berkata, “Syukurlah sampeyan ora kenapa-kenapa, Pak. Mungkin kalo terus maju bisa bahaya.” Namun Sudarmaji hanya menggeleng, masih sulit menerima apa yang baru saja ia alami.
Setelah diperiksa kondisi truk dan memastikan tidak ada kerusakan berarti, warga membantu mengarahkan truk itu agar bisa kembali keluar dari gang. Prosesnya lama dan melelahkan karena badan truk terlalu besar. “Ati-ati, Pak! Setir kiri sithik meneh!” teriak warga sambil mendorong. Meski repot, mereka tetap membantu sambil sesekali memandang gang itu dengan waspada, seolah takut sosok misterius itu muncul sewaktu-waktu.
Kejadian malam itu akhirnya menyebar dengan cepat ke seluruh Desa Waung, menambah daftar panjang kisah mistis di wilayah tersebut. Warga menganggap insiden ini sebagai pengingat agar tidak berkendara dalam keadaan pikiran kosong, terutama saat melintasi wilayah yang dikenal angker. Seorang bapak di warung berkata, “Sing penting kudu eling lan waspada. Yen ora, kedadeyan kaya ngene iso mbaleni.” Cerita itu tetap hidup, menjadi bagian dari misteri panjang Desa Waung yang membuat siapa pun merinding saat malam tiba.
Redaksi Energi Juang News



