Selasa, Maret 17, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaMisteri Hantu Pujut di Danau Lais

Misteri Hantu Pujut di Danau Lais

Energi Juang News,Palangkaraya- Danau itu tampak tenang saat matahari tenggelam, seolah permukaannya hanya memantulkan warna jingga tanpa menyimpan apa pun di bawahnya. Perahu-perahu kecil terikat di batang kayu, bergoyang pelan mengikuti riak air. Bau amis samar tercium setiap kali angin berembus dari tengah danau.

Danai,24th pemerhati spiritual datang ke tepian Danau Lais dengan satu tujuan: mencari cerita yang tak banyak dibahas orang luar. Warga menyambutnya dengan tatapan hati-hati. Bagi mereka, danau bukan sekadar sumber ikan, melainkan ruang hidup sesuatu yang jarang terlihat, tapi sering terasa.

“Kalau cuma mau memancing, silakan,” kata seorang nelayan tua bernama Pak Rudi,60th. “Tapi jangan pura-pura tidak dengar kalau ada yang memanggil.”

“Memanggil bagaimana, Pak?” tanya Danai. Pak Rudi menatap permukaan air yang mulai gelap. “Bunyinya pelan… ‘juut… juuut…”. Beberapa warga yang duduk di warung kecil ikut terdiam. Seorang ibu setengah baya berbisik, “Jangan sebut namanya sembarangan.”

Belakangan Danai tahu, yang mereka maksud adalah Misteri Hantu Pujut, makhluk air dalam cerita masyarakat Dayak yang konon menghuni danau, rawa, dan sungai tertentu di Kalimantan.

Dalam legenda Jepang ada Kappa, makhluk air berkepala aneh yang gemar menyeret manusia ke sungai. Dalam budaya Nordik, dikenal Strömkarlen, sosok penjaga sungai yang pandai memainkan musik untuk memikat korbannya. Anehnya, masyarakat Dayak juga memiliki kisah serupa—namun dengan ciri yang jauh lebih mengerikan.

“Pujut itu badannya kurus, kulitnya keriput,” jelas Pak Rudi malam itu. “Mukanya seperti orang umur seratus tahun, tapi matanya bulat hitam pekat. Mulutnya bukan mendatar, tapi tegak… vertikal.”

Danai merinding membayangkannya.“Dan tangannya?” tanya nya.“Berselaput. Seperti kaki kodok atau itik. Bau amis sekali. Kalau angin dari danau tiba-tiba busuk, biasanya dia lewat.”

Menurut kisah seram Pujut yang beredar, ukuran tubuh makhluk ini bisa berubah-ubah. Kadang hanya sebesar batang korek api—cukup kecil untuk masuk lubang kunci. Di waktu lain, ia bisa setinggi pohon kelapa, melayang sejajar jalan tanpa berkata-kata, hanya memberi isyarat dengan tangan panjangnya.

Seorang pemuda bernama Ardi ,34th mengaku pernah melihatnya.“Saya lagi pasang jaring sendirian,” katanya lirih. “Air tiba-tiba tenang sekali. Lalu terdengar suara… ‘juut… juuut…’ dekat telinga.”

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Danai. “Saya pikir teman bercanda. Tapi waktu saya menoleh, tidak ada siapa-siapa. Cuma bayangan putih mengambang di atas air.” Jawab Ardi berhenti sejenak, menelan ludah. “Besoknya dia datang lagi. Sendirian. Hari ketiga… banyak. Sepuluh atau lebih. Saya lihat dari jauh, seperti anak kecil berdiri di air. Tapi wajahnya tua semua.”

Warga percaya, Pujut bisa datang sendiri, namun sering berkelompok antara sepuluh hingga dua puluh makhluk. Mereka hanya menampakkan diri ketika seseorang sendirian. Korban akan didatangi terus-menerus setiap hari, diikuti ke mana pun pergi, sampai mentalnya terguncang.

“Bisa gila orang,” ujar ibu di warung tadi. “Karena tiap hari lihat dia. Tapi orang lain tidak pernah lihat.” Ada pula cerita bahwa Pujut bukan sekadar hantu, melainkan makhluk legenda—semacam Bigfoot versi air. Tubuhnya licin berlendir, sulit ditangkap. Makanannya ikan, sebab itu ia kerap mengganggu pemancing.

Namun yang paling ditakuti warga adalah satu hal.

“Jangan sampai kena air kencingnya,” kata Pak Rudi pelan.

“Apa yang terjadi?” Tanya Danai,

“Kulit melepuh. Bisa tembus depan belakang.” jawabnya

Danai tak tahu apakah itu metafora atau kenyataan. Tapi nada suaranya tidak terdengar seperti gurauan.

Untuk membuktikan cerita mistis Pujut, Danai memutuskan bermalam di pondok kecil dekat danau. Ardi bersedia menemaniku hingga pukul sembilan malam, setelah itu ia pulang.

Di kejauhan, sesuatu muncul dari air. Awalnya kecil, seperti bayangan putih sebesar botol. Lalu membesar perlahan, meregang tinggi. Tubuh kurus dengan kepala lancip dan kuping runcing tampak jelas diterpa cahaya bulan. Matanya hitam bulat, tanpa kilau. Mulutnya belah vertikal, terbelah seperti sayatan panjang.

Makhluk itu melayang, tidak sepenuhnya menyentuh air. Tangannya yang berselaput terangkat, memberi isyarat aneh, seolah memanggil Danai mendekat. “Juuut…” Danai mundur selangkah. Bau amis makin kuat.

Tiba-tiba, dari sisi kiri dan kanan danau, muncul sosok lain. Lebih kecil. Lebih banyak. Mereka berdiri berjajar di atas air seperti bayangan putih yang retak. Suara mereka bersahut-sahutan. “Juut… juuut… juuut…”

Kakiku terasa berat, seolah lantai pondok berubah menjadi lumpur. Dalam kepanikan, Danai teringat pesan warga: jangan menanggapi, jangan menunjukkan ketakutan berlebihan.

“Aku tidak mengambil ikanmu,” kataku pelan, mencoba tenang. “Aku hanya lewat.”

Makhluk paling tinggi memiringkan kepala. Tubuhnya mengecil perlahan, kembali seukuran anak kecil. Lalu, satu per satu, mereka menyelam tanpa cipratan.

Danau kembali sunyi.

Keesokan paginya, aku terbangun dengan demam ringan dan bau amis yang masih melekat di pakaian. Pak Rudi hanya mengangguk ketika mendengar cerita Danai.

“Kamu beruntung,” katanya. “Biasanya kalau sudah dilihat banyak begitu, dia akan ikut terus.”

“Menurut Bapak, itu hantu atau hewan?”

Pak Rudi menatap danau lama sekali.

“Mungkin bukan dua-duanya. Mungkin sesuatu yang belum kita mengerti.”

Legenda Pujut masih hidup hingga kini, terutama di sekitar Danau Lais. Apakah ia roh air seperti Kappa? Atau makhluk biologis yang belum teridentifikasi seperti Yeti versi perairan? Belum ada penelitian ilmiah yang benar-benar membuktikannya.

Namun satu hal pasti: warga setempat tidak menganggapnya sekadar dongeng.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments