Energi Juang News, Sumbar–Malam itu kampung kecil di pinggir ladang Sumatera Barat terasa lebih sunyi dari biasanya. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan bambu tua. Beberapa warga masih duduk di surau setelah salat Isya, berbincang pelan tentang hal-hal biasa, sampai tiba-tiba suara itu terdengar. Tangisan bayi, lirih namun panjang, memecah keheningan malam. “Kau dengar itu?” bisik seorang warga sambil menoleh gelisah. Yang lain hanya terdiam, wajahnya mendadak pucat, seolah semua tahu bahwa suara itu bukan tangisan biasa.
Tangisan itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas, seakan berasal dari balik ladang kosong. Seorang ibu berbisik ketakutan, “Tidak mungkin ada bayi di sana… rumah terdekat saja jauh.” Lelaki tua yang duduk di sudut surau menghela napas panjang. “Kalau sudah begitu, jangan diikuti,” katanya pelan namun tegas. Suasana mendadak tegang. Tak ada yang berani berdiri, apalagi mendekati sumber suara yang terus merintih, seolah meminta tolong dari dunia yang tak lagi ia miliki.
Menurut cerita turun-temurun, suara seperti itu bukan sekadar gangguan malam. Di tanah Minangkabau, tangisan tersebut dipercaya berasal dari arwah bayi yang tak sempat merasakan hangatnya dunia. Warga menyebutnya dengan satu nama yang membuat bulu kuduk berdiri setiap kali diucapkan. Sosok ini tak selalu menampakkan wujud, namun kehadirannya terasa nyata lewat suara lirih yang menusuk hati, terutama saat malam mulai larut dan alam seolah membuka tabir rahasianya.
Seorang warga bernama Uni Rina pernah menceritakan pengalamannya. “Waktu itu aku dengar suara bayi nangis dekat rumah,” katanya dengan suara bergetar. “Kupikir anak orang, jadi kucari ke belakang.” Tangisan itu membawanya semakin jauh, melewati kebun dan semak. Anehnya, semakin ia mendekat, suara itu justru terdengar semakin pelan. “Baru aku ingat kata orang tua dulu… kalau suaranya makin kecil, artinya dia dekat sekali,” ujarnya sambil memeluk lututnya, seolah kenangan itu masih menghantui.
Tangisan itu konon sering menuntun orang ke tempat-tempat yang tak wajar. Banyak yang mengaku suara tersebut berakhir di bawah pohon bambu tua, pohon besar yang akarnya menjalar, atau sudut ladang yang jarang diinjak manusia. “Di sanalah biasanya,” kata seorang tetua kampung. “Tempat bayi itu dulu dibuang.” Ucapannya membuat suasana mencekam. Tak ada yang berani menyangkal, karena cerita serupa sudah terlalu sering terdengar dari mulut ke mulut.
Legenda menyebutkan bahwa makhluk ini berasal dari arwah bayi yang digugurkan, hasil dari hubungan terlarang atau perbuatan yang disembunyikan dengan rasa malu. Karena tak pernah mendapat penguburan layak, arwahnya terjebak di antara alam, hanya mampu meratap lewat suara. Dalam bahasa Minangkabau, kata “ngeak” sendiri merujuk pada tangisan anak kecil. Nama itu melekat, menjadi simbol duka dan penyesalan yang tak pernah selesai.
Seorang pemuda kampung pernah menantang cerita itu. “Ah, itu cuma suara burung malam,” katanya sombong suatu ketika. Namun beberapa hari kemudian, ia pulang dengan wajah pucat pasi. “Aku dengar lagi… jelas sekali,” katanya terbata. “Aku ikuti sampai ke pohon bambu besar di ladang.” Warga langsung menegurnya. “Kau selamat karena belum terlambat,” ujar tetua kampung. “Jangan sekali-kali mencari asal suara itu dengan niat meremehkan.”
Yang membuat warga semakin takut adalah kepercayaan tentang jarak suara tersebut. Jika tangisan terdengar samar dan jauh, justru berarti makhluk itu sangat dekat. Sebaliknya, jika suaranya keras dan jelas, artinya ia masih berada jauh. Logika itu berlawanan dengan nalar manusia, namun berkali-kali dibuktikan lewat pengalaman pahit. “Waktu suaranya pelan sekali, aku merinding,” kata seorang petani. “Seolah ada sesuatu berdiri tepat di belakangku.”
Hingga kini, kisah itu masih hidup di tengah masyarakat Sumatera Barat. Orang-orang tua selalu mengingatkan anak cucunya agar menjaga perbuatan dan tidak meremehkan dosa. “Tangisan itu bukan untuk menakut-nakuti,” kata seorang nenek. “Itu jeritan arwah yang ingin diakui keberadaannya.” Setiap kali suara bayi terdengar di malam sunyi, warga memilih berdiam diri, membaca doa, dan menutup pintu rapat-rapat.
Legenda tentang Hantu Ngeak bukan sekadar cerita seram pengantar tidur. Ia adalah bayangan gelap dari perbuatan manusia sendiri, yang menjelma menjadi tangisan abadi di tengah ladang dan bambu. Hingga hari ini, jika malam terlalu sunyi dan angin membawa suara lirih seperti bayi menangis, warga Minangkabau tahu satu hal: ada arwah kecil yang belum menemukan jalan pulang, dan ia sedang memanggil siapa saja yang berani mendengarnya.



